
Dagestan, Desa Rakhata.
"Kak, apa cuma saya yang merasa aneh?" ujar Sarah pada pagi hari itu. Yusuf sedang membaca kitab Al Hikam di beranda depan rumahnya sedangkan Sarah menemaninya sembari merajut pakaian hangat untuk dirinya sendiri.
"Aneh kenapa?" Mohammad Yusuf memandang wajah adiknya itu dengan raut wajah penasaran.
"Sudah hampir 40 hari kepergian Aisyah bersama suaminya tetapi belum pernah berkabar sama sekali." ujar Sarah dengan wajah yang tampak berpikir kemudian melanjutkan, "Ah ya kecuali saat mereka baru sampai di Moskow. Hanya sekali mereka menelpon." jelas Sarah kemudian meletakkan bahan rajutan dan alat yang sedang dipakainya.
"Hem, benar juga. Mungkin mereka menghubungi kita tetapi jaringan Hape di sini kan tidak stabil kadang bagus dan kadang sangat parah, tidak ada sama sekali." jawab Mohammad Yusuf berusaha berpikir positif meskipun hatinya dilanda cemas dan khawatir juga tetapi ia tak ingin menunjukannya agar Sarah bisa tenang.
"Mereka bisa kan mengirimkan surat." timpal Sarah lagi dengan wajah cemas. Ini sudah lama ia pikirkan tetapi ia juga takut mengutarakannya, khawatir kakaknya jadi kepikiran dan malah membuatnya sakit.
"Berdoalah pada Allah semoga mereka semua baik-baik saja." ujar Mohammad Yusuf menenangkan. Meskipun hatinya juga dilanda resah.
Mempunyai dua anak yang sama-sama berjauhan dari dirinya membuat hatinya selalu merasa cemas dan galau tetapi ia selalu berserah diri dan menyerahkan kekhawatirannya pada Allah sang penguasa kehidupan. Sarah akhirnya diam dan melanjutkan pekerjaannya tadi yang tertunda.
Hari-hari berikutnya dilakoni kedua orang ini dengan terus berprasangka baik pada Allah meskipun setiap saat berbagai pertanyaan sering dilontarkan oleh para warga yang sering bergaul dengan menantunya itu. Mereka menanyakan kenapa tuan Alex lama sekali berbulan madu, Apa saja yang mereka lakukan di ibu kota hingga terkadang ada yang juga bercanda jangan-jangan Aisyah sudah dibawa lari dan tak akan dikembalikan lagi ke desa ini.
Semua dijawab oleh Mohammad Yusuf dengan tenang hingga hari ini, seorang pria muda yang bekerja sebagai pengantar surat di desa Rakhata datang membawa surat dari Moskow. Pengirimnya adalah Omar putranya.
Dengan senang hati, Sarah yang menerima surat itu langsung menyerahkannya pada Mohammad Yusuf.
"Ini ada surat dari Omar. Saya senang sekali akhirnya dia ingat untuk berbagi kabar." ujar Sarah dengan wajah gembira.
Mohammad Yusuf memandang surat itu dengan hati yang sama senangnya dengan Sarah, terakhir kali putranya itu datang bersama sahabatnya dan kemudian pergi dari rumah ini dalam keadaan marah. Sejak saat itu Omar tak pernah lagi menelpon atau mengirimkan surat. Dan Kini ia berkirim surat setelah sekian lama. Sungguh hati orang tua itu menghangat.
"Bukalah kak," tegur Sarah karena Mohammad Yusuf hanya memandang amplop putih itu tanpa mengucapkan sesuatu hal.
Sreeet
Perlahan kertas putih itu ia bentangkan di hadapannya. Setelah membaca sekilas. Ia memandang wajah Sarah yang nampak harap-harap cemas.
"Apa isinya kak?" tanya Sarah penasaran. Mohammad Yusuf hanya tersenyum dan menyerahkan surat itu kembali ke adiknya. Ia ingin Sarah sendiri yang membacanya.
"Alhamdulillahi robbil Aalamiin." pekik Sarah senang. Ia memeluk kertas putih itu dengan wajah berseri tetapi kemudian ia menatap kakaknya dan bertanya.
"Jadi, kakak mau ke Moskow?" Mohammad Yusuf mengangguk.
"Tentu saja itu adalah pencapaian terbaik dari karir putraku menjadi seorang dokter. Aku akan berangkat hari ini juga." Sarah langsung berwajah sedih.
"Hey, ada apa? kenapa kamu tunjukkan wajah sedihmu itu hah?"
"Jadi kakak akan meninggalkan saya sendiri di rumah ini?"
"Ikutlah sekalian kita mencari alamat Alex dah Aisyah. Mereka harus berkumpul merayakan keberhasilan kakaknya menjadi kepala Rumah Sakit terbaik di Moskow."
"Tidak usah membawa banyak pakaian, kita tidak akan lama di sana." ujar Mohammad Yusuf ketika melihat Sarah mengeluarkan pakaian -pakaian terbaiknya.
"Kita akan mendatangi ibu kota kak, dan juga Omar kita adakah orang yang sangat penting sekarang. Kita harus punya banyak persiapan." jawab Sarah sembari mengatur pakaian-pakaian itu ke dalam tas besar.
"Lagipula saya sangat rindu sama Aisyah. Ini perpisahan terlama saya dengannya." gumam Sarah sembari menghapus air mata yang tiba-tiba keluar begitu saja dari kelopak matanya.
"Semoga ada kabar baik. Saya berharap ia akan memberiku kabar kalau ia sudah memberikan cucu untuk kita." tambahnya lagi yang hanya dijawab dengan gelengan kepala Mohammad Yusuf.
"Sekarang siapkan pakaian dan perlengkapanku, aku akan meminta Salman mengantar kita ke terminal." ujar Mohammad Yusuf kemudian meninggalkan Sarah yang telah mengepak pakaiannya.
Setelah semua sudah siap dan berpamitan dengan warga sekitar akhirnya mereka berangkat ke terminal untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus kemudian melanjutkan ke bandara untuk sampai ke Moskow. Sungguh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan karena mereka menempuhnya berjam-jam. Tetapi karena hati mereka senang dan bahagia maka perjalanan yang jauh itu terasa dekat. Apalagi bagi Mohammad Yusuf yang akan bertemu dengan dua anaknya dalam suasana gembira.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Oke deh sambil nunggu paman Yusuf sampai di Moskow dan mendapatkan kabar yang lain, yuk kepoin karya teman othor nih. Dijamin oke punya.
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.