
Omar menatap nilai yang dikirimkan oleh Miss. Gazeeta. Seorang dosen sekaligus dekan pada fakultas pendidikan tempat adiknya itu mengambil kuliah untuk meraih gelar Bachelornya.
Ia tersenyum samar karena adiknya itu bisa juga lulus ujian dan mendapatkan nilai yang bagus padahal ia tahu selama ujian berlangsung adiknya mengeluh padanya tidak bisa belajar dengan baik karena selalu mendapat gangguan yang cukup ekstrim dari suaminya itu.
"Aku akan memberi kabar pada ayah, kalau kamu sekarang sudah bertemu dengan suamimu dan berhasil mendapatkan nilai yang baik pada ujianmu adikku." ujar Omar pada tablet itu seakan ia sedang berbicara pada adik perempuannya, Aisyah.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Miss. Gazeeta sahabatnya. Ia lantas menyimpan tabletnya dan mulai membuka file-file yang akan ia kerjakan hari ini.
"Syukur Alhamdulillah, Alex menyelamatkanku dari dendam Dimitri Kremlin hingga karir dan nama baikku kembali. Semoga Tuhan mengampuniku karena selama ini berprasangka buruk padanya." ujarnya sembari tersenyum penuh arti.
🍁
Aktivitas Aisyah kembali seperti biasa setelah liburan akhir semester berakhir. Ia dan Reisya sedang sibuk-sibuknya membuat tesis agar bisa mengikuti ujian akhir dan mendapatkan predikat lulus.
Reisya sudah sangat rindu kembali ke Indonesia, ke kampung halamannya. Ingin mencari pekerjaan atau mengabdi pada negara karena telah diberi beasiswa selama menempuh pendidikan di Luar Negeri.
Beberapa bulan berikutnya, mereka berdua pun benar-benar sudah lulus dan mendapatkan gelar Bachelor of Education.
Aisyah sampai melompat kegirangan dan menerbangkan toganya bersama teman-temannya karena telah berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik.
Alex sampai menciumnya dengan sangat menggemaskan di depan semua orang.
"Alex jangan seperti ini, aku malu." bisik Aisyah dengan suara manja. Ia sampai merasa geli dan juga tertawa cekikikan.
"Daddy! jangan seperti itu. Mommy nanti tidak ada nafsu makan kalau terlalu sering tertawa." ujar Nikita berusaha menghentikan daddynya menciumi Aisyah yang kegelian.
Mohammad Yusuf dan bibi Sarah sampai menggeleng-gelengkan kepalanya akan tingkah anak menantunya itu. Mereka sangat bahagia melihat sendiri kebahagiaan putrinya yang selama ini ia pikirkan.
🍁
Orang tua Reisya dari Indonesia ikut membersamai kebahagiaan putrinya yang berhasil menjadi seorang sarjana di negeri beruang merah itu. Ayah dan ibunya sengaja datang menyeberangi ribuan pulau untuk menghadiri acara wisudah putrinya.
Dan itu adalah kejutan yang sangat membahagiakan bagi gadis manis berhijab itu karena tidak menyangka kedua orangtuanya akan datang. Maklumlah biaya yang harus mereka keluarkan haruslah banyak karena ini perjalanan antar negara.
"Terima kasih ayah, ibu, kalian bisa datang. Padahal ini sangatlah jauh dan biayanya juga sangat mahal." ujar
"Kami yang mau berterimakasih padamu nak. Karena kamu sudah belajar dengan baik dan lulus dengan nilai yang sangat baik pula. Kamu membawa nama baik orang tua dan negaramu." ujar ayahnya dengan tersenyum bangga.
"Terima kasih ayah." Reisya kembali memeluk ayahnya dengan perasaan haru.
"Tapi ayah, siapa yang menjemput kalian kemari?" tanyanya dengan wajah penasaran. Ayah dan ibunya datang sebagai kejutan dan ia pun belum pernah memberikannya alamat yang lengkap apalagi alamat Universitasnya. Tetapi kenapa kedua orangtuanya, malah sampai disana dengan keadaan yang sangat santai tanpa bertanya terlebih dahulu.
"Aisyah dan Albert yang menghubungi kami nak, mereka juga yang membiayai perjalanan kami kesini. Dan Albert yang menjemput kami di bandara dan memesankan hotel untuk kami menginap sampai acara wisudah ini terlaksana."
"Oh, ya ampun." ujar Reisya sembari menutup mulutnya karena merasa terharu. Ternyata sahabat -sahabatnya yang telah membantunya selama ini. Tanpa sadar ia mendapati Albert sedang tersenyum manis padanya. Ia sedang berdiri bersama ayah dan suami Aisyah yang juga datang di acara wisudah perempuan asal Dagestan itu.
"Ayah ibu, mari kita sapa keluarga Aisyah yang telah banyak membantuku selama di sini." ujar Reisya dan mengajak ayah ibunya untuk menghampiri Aisyah dan keluarganya.
"Aku akan mengucapkan banyak terimakasih pada keluarga mereka terutama pada Albert." ujar Reisya dengan senyum terkembang. Mereka bertiga pun melangkah mendekati keluarga Smith.
"Senang berjumpa dengan mu tuan Yusuf," ujar ayah Reisya dalam bahasa. Kali ini Reisya sebagai penerjemah antara mereka berdua. Sedangkan Ibunya dan juga Bibi Sarah sedang berkembang didampingi oleh Aisyah yang sedikit banyak sudah tahu bahasa Indonesia dari Reisya.
Setelah berbasa-basi mereka pun menuju rumah Alex untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan. Makan besar bersama 3 keluarga. Smith, Yusuf, dan juga Abdul Rachman dari Indonesia.
🍁
Momen kumpul keluarga itu dimanfaatkan oleh Albert untuk melamar Reisya putri Abdul Rachman. Dengan sangat percaya diri ia mengajukan dirinya sebagai calon suami yang akan mendampingi Reisya sampai akhir hayatnya.
Reisya tak mampu berkata-kata ketika ayah dan ibunya menanyakan pendapatnya karena ia sendiri belum bisa menerima Albert.
"Bagaimana Reisya? apakah kamu mau menerima lamaran Albert, nak?" tanya Abdul Rachman sang ayah.
"Mohon maaf ayah, ini terlalu mendadak. Boleh kah aku memikirkannya terlebih dahulu? beri aku waktu." jawab Reisya tanpa mau menatap wajah ayahnya apalagi wajah Albert yang sedang menanti jawabannya.
"Tidak apa Pak, aku akan menunggu." jawab Albert dengan lapang dada. Ia tak mau memaksa Reisya. Mungkin gadis itu belum juga memahami perasaannya padanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍