
Makan malam bersama yang dihadiri oleh 3 keluarga besar, yaitu dari Abdul Rachman, Raditya, dan Smith ternyata tidak bisa berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan semua orang.
2 orang anggota kepolisian dari Polsek Kecamatan Mappakasunggu datang membawa surat penangkapan untuk Albert Smith sang pengantin baru yang sudah melakukan penganiayaan pada seorang Randy Martin.
"Can you tell me, what does it happened Al?" tanya Alex dengan pandangan mata tajam ke arah Albert yang sedang memeluk istrinya agar tidak menangis dan bersedih.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya terus mengelus lembut punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Permisi tuan, atas nama Albert Smith diduga telah melakukan penganiayaan terhadap warga sipil atas nama Randy Martin sekitar 4 jam yang lalu." jelas polisi itu dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Dan ya kami harus memprosesnya sesuai hukum yang berlaku di tempat kami." lanjut pak polisi itu yang disambungkan oleh Heru sebagai penerjemah.
Mata Alex membola tak percaya dengan apa yang ia dengar begitupun dengan semua orang yang ada di tempat itu.
"Selamat sore Bripda Fadlan, ada apa ini bro?" tanya Rama yang juga ingin terlibat dalam sedikit kekacauan di tempat itu, di daerah kekuasaannya.
"Pak Rama? selamat sore, anda juga berada di acara ini?" tanya Bripda Fadlan dengan wajah tak percaya. Ia langsung menyalami sang pengusaha sukses dari Jakarta itu.
Polisi muda itu masih heran kenapa bisa seorang Rama bisa berada di tempat dan acara seperti ini.
Rama Putra Tama adalah salah seorang sahabat yang banyak membantunya selama ini bahkan sampai bisa menjadi seorang polisi.
"Tentu saja, Resort ini adalah milik aku dan orang yang ingin kamu tangkap adalah keluarga baru kami di sini. Jadi bisa kamu jelaskan apa sebenarnya yang terjadi?" Rama masih ingin mendapatkan informasi yang lebih jelas.
"Menurut laporan dari saudara Randy Martin, pria warga negara asing asing ini sudah melakukan penganiayaan padanya pak Rama, jadi kami datang untuk membawanya ke kantor Polsek untuk dimintai keterangan." jawab Bripda Fadlan dengan suara tegas.
Sang polisi tetap ingin bersikap profesional meskipun yang dihadapinya adalah sahabat dan orang yang sangat berjasa padanya. Baginya tak ada hubungan kekerabatan ketika sedang menjalankan tugas negara.
"Kalau begitu silahkan dibawa saja tetapi kamu harus melepaskannya jika terbukti tidak bersalah. Kami akan segera membawa barang bukti kesana segera."
"Mas, kok dibiarkan dibawa sih?" bisik Rara dengan wajah sedihnya. Perempuan berhijab itu segera menghampiri Reisya dan memeluknya untuk memberikan hiburan dan kekuatan.
"Baik Pak Rama, terima kasih banyak atas kerjasamanya." ujar Bripda Fadlan kemudian membawa Albert Smith ke kantor polisi tanpa ada perlawanan.
"Al," panggil Reisya kemudian mencium punggung tangan suaminya dengan air mata yang terus menerus menetes.
"Jangan menangis, Everything Will be okey, I love you honey," balas Albert kemudian mencium kening istrinya. Suami dari Reisya itu pun ikut bersama Bripda Fadlan dan rekannya dengan pandangan sedih semua orang yang ada di sana.
Alex dan Maksim saling menatap. Mereka berdua tidak tahu dan bingung harus melakukan apa. Kejadian ini begitu tiba-tiba dan juga mereka tidak berada di tempat saat peristiwa penganiayaan itu terjadi.
"Heru, aku pinjam mobilmu ya, aku dan Max akan menyusul Albert ke kantor polisi." ujar Alex segera. Ia dan Maksim harus mendampingi Albert di sana untuk menguatkan adiknya itu.
Setelah kepergian 3 Putra Smith dan juga polisi itu. Para perempuan yang ada disana membawa Reisya yang tiba-tiba tak sadarkan diri ke dalam kamarnya.
Pengantin baru itu cukup terpukul dengan kejadian yang baru saja terjadi disaat ia seharusnya sedang berbahagia dengan sang suami.
"Reisya, bangun nak," panggil Suriya sang ibu, ia memberikan minyak kayu putih dihidung putrinya itu agar ia segera siuman.
"Sabar ya Reisya, pasti ada jalan keluar. Kamu makanlah dulu baru kita sama-sama ke kantor Polisi. Kamu belum makan sedikitpun." ujar Rara sembari membawa makanan dalam sebuah nampan.
"Kamu harus kuat sayang, makan ya." lanjut Suriya sembari menyuap satu sendok nasi dan lauknya. Reisya menurut. Meskipun ia sangat tak berselera makan saat ini tetapi ia harus kuat dan sehat agar bisa mendampingi suaminya disaat-saat sulit seperti ini.
"Sudah ibu, aku sudah kenyang." tolak Reisya ketika sang ibu menyuapinya lagi tetapi Suriya tetap melanjutkan menyuapi putrinya.
"Asam lambungmu bisa naik lagi nak, kamu harus habiskan ini kemudian minum susunya." paksanya pada putri semata wayangnya itu.
Perempuan paruh baya itu yakin malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan sedikit menguras emosi dan tenaga pada pengantin baru itu.
"Ibu, Albert juga belum makan apapun sejak tadi, hiks." Reisya kembali menangis. Hatinya sangat sedih akan peristiwa buruk ini.
Istri Albert itu menatap Ibunya dan Aisyah serta Maryam bergantian. Ia sangat menyesalkan kejadian ini terjadi pada suaminya karena dirinya dan si Randy brengsek itu.
"Habiskan susumu dan kita akan ke Kantor Polisi. Kamu akan menjadi saksi di sana Reisya." ujar Rara yang baru masuk ke kamar pengantin itu setelah cukup lama di luar mencari jalan keluar dengan suaminya.
"Iya kak," jawab Reisya kemudian menghabiskan segera segelas susu putih dari ibunya itu. Ia pun berdiri dan mengikuti langkah Rara keluar kamar. Sedangkan Aisyah dan Maryam mengikutinya keluar.
"Nyonya Smith tinggal di Resort ini saja, biarkan kami yang mengurus masalah ini." lanjut Rara dengan senyum teduh di wajahnya. Aisyah yang sedang punya bayi dan juga Maryam yang sedang hamil besar tentu saja tidak bisa ikut serta ke Kantor Polisi malam-malam begini.
"Iya, terima kasih banyak. Kami akan di tempat ini saja. Semoga Albert bisa pulang malam ini." ujar Aisyah sembari menyentuh tangan Rara sahabat barunya. Rara hanya mengangguk berharap itu benar-benar terjadi.
"Sarah, Kamu juga tinggal disini ya, jaga Zydan dan juga Qiya karena aku akan ikut mas Rama dan Reisya ke kantor Polisi." titah Rara pada adiknya yang juga berada disana bersama sang suami.
"Iya kak, percayakan bocil-bocilmu itu padaku." jawab Sarah dengan senyum lebar diwajahnya.
"Dam, kamu juga tinggal aja di sini. Jaga para perempuan di sini, okey?"
"Siap Kak!" jawab Adam dengan tangan di keningnya memberi hormat.
Tak Lama kemudian mereka pun berangkat ke kantor Polisi dengan membawa Reisya sebagai saksi dan juga beberapa bukti saat kejadian penganiayaan itu terjadi.
---Bersambung--
Mari kita doakan semoga Albert dan Reisya bisa melalui malam ini dengan tenang.
Mana nih like dan komentarnya. othor tunggu ya beserta bunga atau secangkir kopinya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, jangan pindah lapak dulu, mampir dulu dikarya teman othor nih, dijamin oke punya,