
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Mohammad Yusuf pada Anna yang sedang memakan sup daging yang dibuatkan sendiri oleh Omar.
"Alhamdulillah baik paman." jawab Anna tersenyum. Kemudian melanjutkan makannya. Nampak betul kalau ia memang sedang lapar. Ia bahkan menyela dengan memakan sandwich isi daging secara bergantian.
"Syukurlah. Paman senang mendengarnya," pria tua itu menarik nafas lega kemudian melanjutkan, "Entah apa yang kalian semua makan semalam, hingga pagi ini begitu banyak kabar yang mengejutkan yang aku dengar."
"Kami makan seperti yang ayah makan semalam." timpal Omar kemudian duduk disamping ranjang yang ditempati Anna, ia mengambil mangkuk sup yang sudah kosong dari gadis itu.
"Lihatlah ayah, pasien kita benar-benar kelaparan, Hem." ujar Omar sembari memperlihatkan nampan yang sidah kosong di tangannya. Wajah Anna langsung memerah karena malu. Ia bahkan lupa untuk menjaga image di depan dokter Omar dan juga Ayahnya.
"Ish, katanya harus dihabiskan." jawab Anna tersenyum dan merebut kembali nampan itu. Tetapi Omar berusaha menahannya. Akhirnya mereka berdua saling tarik menarik nampan sembari saling tatap tetapi langsung dilerai oleh perkataan sang ayah.
"Anna, paman senang kamu sudah sehat," ujar Mohammad Yusuf sengaja agar acara tatap-tatapan diantara dua orang dihadapannya terputus.
"Ehkm, hum, Terimakasih banyak paman." jawab Anna gelagapan.
"Baiklah nak, aku akan beristirahat sebentar di kamar." ujar pria tua itu itu sambil berdiri dari duduknya.
"Aku cuma berharap kamu tidak membiarkan dokter muda ini menyentuhmu sembarangan. Kecuali sebatas pemeriksaan yang umum." lanjutnya yang langsung membuat kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu langsung terdiam.
Deg
Anna tersenyum canggung apalagi Omar yang sedang memandangnya dengan tatapan yang berbeda.
"Engkau dengar aku dokter?" tanya Mohammad Yusuf dengan tangan menepuk lembut bahu sang putra.
"Eh, Iya ayah. Aku mendengarmu dengan baik. Dan semoga aku tidak khilaf saja." jawab Omar sekenanya tanpa mengalihkan pandangannya pada Anna, terutama pada bibir gadis itu yang sudah sempat ia kecup tadi. Begitu lembut dan manis.
"Omar! keluar dari kamar ini, atau ayah akan memindahkan Anna ke kamar Nikita." ujar Mohammad Yusuf dengan suara agak keras agar pikiran mesum putranya segera menjauh. Ia merasa ada yang sudah terjadi diantara muda mudi ini.
"Iya ayah, baiklah aku keluar. Aku akan istirahat di kamar ayah saja kalau begitu." jawab Omar kaget dan ikut berdiri.
"Tidak dokter, biar aku saja yang berpindah kamar, pasti Nikita sangat mengkhawatirkanku sekarang."
"Yah itu ide yang sangat bagus nak." ujar Mohammad Yusuf kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Anna?" panggil Omar tak rela.
"Dokter juga butuh istirahat. Kamu belum tidur kan sejak semalam? jangan sampai kita bergantian sakit dokter." ujar Anna dengan senyum diwajahnya yang masih nampak pucat.
Anna pun turun dari tempat tidur Omar kemudian menuju pintu keluar. Tetapi sang dokter langsung meraih tangannya dan menggenggamnya lembut.
"Ada apa dokter?" tanya Anna sembari memandang tangannya yang digenggam oleh sang dokter.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu nona Anna Peminov." jawab Omar tanpa melepaskan tatapannya pada gadis yang sudah mencuri hatinya itu.
Deg
Dada Anna berdebar kencang. Ia menunduk, ia tak sanggup menerima tatapan seperti itu dari dokter tampan yang juga sudah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
"Aku menyukaimu Anna, dan Aku ingin kamu menjadi istriku, bolehkan?" ujar Omar dengan suara pelan. Ada tatapan memohon dibola mata sang dokter. Anna terdiam lalu balas menatap pria itu.
"Kamu mau kan?" tanya Omar sembari mengecup lembut tangan gadis yang sedang ia genggam itu. Anna tersenyum lalu mengangguk.
"Aku bersedia dokter." suara Anna sangat pelan, hingga kedengaran hanya sebuah gumaman.
"Aku bersedia Dokter," ujar Anna sembari menahan nafas. Ia begitu tegang sekarang. Bahkan deru nafas Omar pun bisa ia rasakan.
Pria itu mendekatkan wajahnya dan berbisik,
"Aku tak sabar menjadikanmu istriku, Anna Peminov." gadis itu menutup matanya. Ada gelenyar aneh merambat dengan cepat keseluruh permukaan kulitnya hingga ia merasa meremang.
Omar mundur pelan, ia berusaha menahan agar tidak menyentuh gadis itu. Ia mengepalkan tangannya dengan keras.
"Kalau begitu kamu harus istirahat yang cukup supaya kamu siap lahir dan batin saat kita nanti menikah." Anna tersenyum kemudian segera keluar dari kamar itu.
Gadis itu tak mau Omar mendengarkan tabuhan genderang yang ada didalam dadanya. Rasanya begitu ribut dan hampir meledakkan dirinya.
Omar menarik nafas lega. Akhirnya ia berani juga melamar gadis itu untuk menjadi istrinya.
Berbagai rasa bercampur didalam dirinya kini, antara senang, lega, dan juga lelah. Ia menatap tempat tidurnya yang seakan memanggilnya untuk ia berbaring di sana.
Selanjutnya adalah ia perlu mengistirahatkan raganya juga. Hampir 24 jam ia belum juga memberi rehat pada mata dan tubuhnya.
Dokter muda itu pun menguap berkali-kali kemudian naik ke tempat tidur dimana wangi Anna masuk terasa ada di sana. Ia menghirupnya pelan dan hati-hati. Agar rasa itu membekas dalam dadanya dan berharap bisa bertemu dengan Anna dalam tidurnya.
"Anna, I Love You." ujarnya sebelum jatuh tertidur.
🍁
Nikita memandang gadis berambut pendek itu dengan mata berbinar senang. Ia yang sedang bermain sendiri di kamarnya tak menyangka kalau Anna di gadis berambut pendek itu akan kembali lagi ke sana. Ia pikir Anna akan tidur di kamar uncle Omar untuk dirawat.
"Anna? kamu sudah sembuh?" tanyanya dengan wajah tak percaya. Anna mengangguk kemudian tersenyum lebar. Gadis kecil itu langsung menubruk Anna memeluknya dengan kencang.
"Iyya sayang, aku sudah sembuh." jawab Anna dengan nafas memburu, debaran didadanya masih sangat terasa sejak Omar melamarnya tadi.
"Aku tidak percaya Anna kalau kamu sudah sembuh, lihat, debaran jantungmu saja masih tidak teratur seperti ini."
Deg
"Tarik nafasmu Anna, dan lepaskan, seperti ini, Hufft Aaakh," ujar Nikita sembari mempraktekkan cara bernafas yang baik.
"Nah seperti itu." lanjutnya setelah ia melihat Anna menirukan apa yang ia lakukan.
"Aku takut kamu pingsan lagi seperti tadi, Anna. Berbaringlah lagi di tempat tidur." ujar Nikita layaknya orang dewasa.
"Baiklah nona cerewet. Aku akan tidur sekarang." ujar Anna kemudian menguap berkali-kali. Kelopak matanya sudah sangat sulit ia buka.
Ia memang masih butuh tidur sekarang. Dan rupanya dokter Omar tadi memberinya obat tidur supaya ia bisa terlelap dengan nyenyak agar ia segera sembuh dan pulih seperti sedia kala. Nikita memandang Anna yang akhirnya benar-benar tertidur dengan nyenyak.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor tak lelah othor, memohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess. Like dan komentarnya dong jangan lupa. Ada hadiah bunga sekebon??? hayuk di kirim ke sini.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits tunggu dulu, aku mau kasih rekomendasi ini, novel yang bagus dari temannya othor.