Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 34 EMHD



Aisyah menatap sekilas wajah Alex yang mengeras karena Nikita bertahan tidak mau pulang malam itu setelah makan malam selesai. Gadis kecil itu sampai merajuk dan menangis karena ia ingin tidur bersamanya sedangkan Daddy nya tidak memberinya izin.


"Ada masalah apa tuan Alex, kenapa anda tidak mengizinkan Nikita bermalam disini?" tanya Aisyah bingung dengan sikap pria dingin itu. Alex tidak menjawab. Ia berusaha menghindari tatapan mata gadis itu. Ia tak mau perasaannya terbaca.


"Aku tidak mau pulang, aku mau tinggal di sini, Daddy jahat!" teriak Nikita dengan tangisan yang menyayat hati. Gadis kecil itu memeluk erat leher Aisyah seolah-olah daddynya akan merebut paksa dirinya. Ia yang sedang digendong ala koala itu menempel erat di tubuh gadis muda itu. Mohammad Yusuf akhirnya keluar dari dalam rumah dan menjadi penengah diantara mereka bertiga.


"Nak Alex biarkan Nikita di sini malam ini. Besok kalau perasaannya sudah membaik pasti ia akan mau kembali pulang." ujar Mohammad Yusuf dengan senyum teduhnya. Alex hanya diam menunduk. Ia tidak tahu harus bagaimana. Nikita akhir-akhir ini menjadi anak yang manja dan keras kepala. putri kecilnya itu selalu meminta yang tidak seharusnya ia miliki hingga membuatnya sering emosi dan bertindak diluar kebiasaannya.


"Maafkan aku paman, mungkin Nikita memang perlu sedikit hiburan. Aku pastilah Daddy yang sangat membosankan." jawab Alex merasa tidak enak hati.


"Tak apa nak, paman bisa mengerti posisimu, memang berat merawat anak seorang diri apalagi diusianya sekarang yang sedang butuh kasih sayang yang extra lengkap."


"Sekali lagi Ali minta maaf pada semua orang di sini karena kami berdua jadi sangat merepotkan kalian." ujar Alex lagi.


"Tak apa nak, kamu tidak bersalah. Pulanglah dan istirahat biarkan Nikita di sini."


"Baik paman." Alex kemudian menghampiri Nikita yang sedang berada dalam gendongan Aisyah.


"Niki jangan merepotkan ibu guru yah?" ujarnya kemudian mencium pipi Nikita lembut, perlahan gadis kecil itu mengangguk. Aisyah sampai menahan nafas, pasalnya jarak antara pipi Nikita dan pipinya sendiri begitu sangat dekat. Hingga ia bisa merasakan deru nafas Alex yang membuatnya merinding.


"Aku minta maaf." ujar Alex yang ditujukan untuk Aisyah.Gadis itu hanya tersenyum gugup, ia tak tahu maaf apa yang dimaksud oleh pria dingin ini.


🍁


POV Alexander Smith


malam yang diterangi cahaya bulan dan bintang ini mengiringi langkahku menuju ke arah rumahku yang berjarak satu blok dari sini. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah pada semua orang disana.


Pada Nikita aku merasa menjadi ayah yang buruk, sedangkan pada Aisyah, aku merasa menjadi laki-laki pengecut. Dan pada paman Yusuf dan dokter Omar aku adalah seorang penghianat.


Jarakku mungkin sekitar lima langkah lagi dari rumahku. pandanganku memindai keseluruhan rumah itu, dimana yang tersisa adalah kesepian dan kesunyian.


Baru kali ini aku benar-benar merasa sendiri. Paula meninggalkanku sedangkan Nikita menolakku. Sungguh keadaan yang sangat menyiksa.


Setelah aku masuk ke kamar. Pandangan kuarahkan ke keseluruhan isi ruangan yang sangat sederhana itu. Hanya ada tempat tidur dan sebuah lemari tua besar. Ketika Nikita tidak mau tidur sendiri maka kami berdua yang akan menempati ranjang itu. Perlahan aku duduk di atas ranjang dan merenungi semua yang telah terjadi padaku. Kuraup wajahku kasar.


Malam ini aku benar-benar sendiri. Semua orang sepertinya memang tidak mau bersama denganku. Paula dan Nikita adalah orang-orang terdekatku dan mereka juga pergi meninggalkan ku. Perlahan aku duduk bersimpuh. Lalu aku bersujud lama. Dengan hati perih aku memohon agar orang-orang yang pernah dekat denganku bisa bahagia.


Aisyah, tanpa sadar aku menyebut nama gadis yang baik hati itu. Aku minta maaf, tapi sungguh aku belum bisa melupakan Paula. Aku tak mau bayang-bayang Paula malah membuatku tidak adil dalam perasaan.


Nikita putriku, mengertilah perasaan daddymu ini.


Setelah lama merenungi diri akupun tertidur dalam bayang-bayang masa lalu yang semakin mengikatku kuat.


Ketukan di pintu depan rumah yang begitu bising membuatku terbangun. Selepas sholat subuh tadi, aku tertidur lagi dan yah ini mungkin sudah pagi karena cahaya matahari sudah menembus sela-sela jendela rumah ini.


Setelah mencuci wajahku dan bersikat gigi, aku melangkah cepat ke arah pintu depan lalu membuka pintu. Disana kulihat Bibi Sarah berdiri dengan wajah pucat dan tegang.


"Ada apa bibi, masuklah dulu." ujarku dan membuka pintu lebar-lebar. Bibi Sarah pun masuk dan duduk di sebuah sofa tua setelah aku persilahkan duduk.


"Suhu tubuh Nikita sangat tinggi nak, semalaman sejak kamu pulang kemari, ia terus menangis dan meminta maaf padamu karena membuatmu kecewa padanya." hatiku seketika menghangat ternyata Nikita ku merasakan hal yang sama denganku.


"Aisyah berusaha menenangkannya dan akhirnya ia tertidur saat dini hari. Dan juga jika kami datang malam-malam kamu juga pasti sudah beristirahat."


"Aku minta maaf bibi, semua orang pasti sangat panik dibuatnya. "Jadi bagaimana keadaan Nikita sekarang bibi?" tanyaku yang kemudian bersiap mengambil mantelku yang tergantung di sudut ruangan. Aku ingin menjemput gadis kecil itu sekarang.


"Aisyah pasti bisa menanganinya. Duduklah dulu bibi ingin bicara denganmu." kulihat wajah bibi Sarah sedang serius seperti sedang ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Aku pun duduk dan bersiap mendengarkan ucapan bibi Sarah.


"Nak Alex, apakah tidak ada sedikitpun perasaanmu kepada putri kami Aisyah? Apakah ia tak menarik perhatianmu sama sekali?" tanya bibi Sarah sambil menatap mataku tajam. Aku terdiam dan menunduk.


"Kenapa bibi menanyakan itu?" tanyaku karena aku tidak tahu kenapa bibi Sarah menanyakan hal tersebut padaku.


"Aisyah sangat mengharapkanmu menjadi suaminya. Pagi ini Ia rela menolak lamaran dr. Sergey Abdullah demi dirimu. Aku takut ia akan sangat menderita kalau kamu juga menolaknya."


"Tapi bibi, aku takut tidak bisa membahagiakannya. Kenangan mantan istriku masih terus membayangi hidupku." ujarku dengan suara rendah. aku akui aku masih normal dan juga menyukai gadis itu karena sifatnya yang baik dan perhatian kepada putriku. Dan tentu saja karena ia juga sangat cantik dan menarik tetapi hati ini belum mau membagi cinta pada orang lain.


"Kalau begitu pertimbangkan perasaan putrimu. Ia sangat mengharapkan Aisyah jadi mommy nya." ujar bibi Sarah dengan wajah yang berubah keras. Ada kesan pemaksaan dalam nada suaranya. Aku tahu ia sangat marah padaku. Aku seperti laki-laki pengecut yang masih berada dalam lingkaran hitam masa lalu.


"Baiklah, bibi terima kasih banyak." aku berdiri mengantar bibi Sarah ke depan pintu. Tetapi Seketika ia berbalik dan menatapku tajam.


"Aku kasihan sama perempuan yang mau menghabiskan pikirannya untukmu termasuk Aisyah kami yang sekarang menderita karena dirimu."


"Apakah kamu tahu, untuk pertama kalinya ia melawan pada keluarganya. Putriku yang baik dan sopan itu berani menolak lamaran pria baik seperti dr. Sergey Abdullah demi dirimu yang tak punya perasaan sama sekali." kulihat bibi Sarah meneteskan air matanya.


"Andai aku bisa memukul kepalanya agar bisa melupakanmu. Aku akan melakukannya, Tapi sayangnya ia sangat keras kepala." Bibi Sarah pergi dengan amarah di dadanya. Aku melihat punggungnya yang semakin menjauh dari pandanganku.


Deg


Ucapan bibi Sarah begitu menusuk jantungku. Sungguh ini adalah serangan tak kasat mata yang cukup mengganggu perasaanku. Aku rela bertemu dengan sekumpulan brandalan dan beradu fisik maupun keahlian menembak, tetapi dengan situasi seperti ini aku jelas-jelas kalah.


---Bersambung--


Aduh hati othor hancur nih, mana dukungannya untuk Aisyah...


Like dan komen ya gaess.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Wait tunggu, ada nih karya teman othor yang pasti menarik untuk mengisi kekosongan waktu anda para readers tersayang,


"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.


"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.


"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.


"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.


"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.