Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 164 EMHD



Alexander Smith mengangkat handphonenya dan melihat kalau itu adalah panggilan dari Albert.


"Halo kak Alex, mobil yang digunakan oleh istrimu sudah kami temukan. Mobil itu baru saja dijual di sebuah showroom mobil khusus barang second dengan harga yang sangat mahal."


"Beli cepat mobil itu dan cari tahu segera siapa pemiliknya. Aku akan segera pulang ke Moskow!" jawab Alex dengan ekspresi tak terbaca.


Tangannya menggenggam erat handphonenya dengan sangat kuat hingga rasanya ia bisa memecahkan benda pipih itu sebentar lagi.


"Ada kabar dari Moskow?" tanya Maksim tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan menanjak di depannya.


"Ya, Albert menemukan satu petunjuk penting."


"Apa itu?"


"Mobil yang mereka pakai membawa Aisyah sudah ditemukan dan sekarang mobil itu sedang berada dalam Showroom untuk dijual, mencurigakan sekali." jawab Alex dengan segala pikiran yang berkecamuk dalam otaknya.


"Aku pastikan orang itu akan aku habisi kalau berani menyentuh kulit Aisyah sedikitpun." geram Alex dengan rahang mengetat marah.


"Kembalilah ke Moskow Alex. Aku akan tinggal di sini menemani Maryam melahirkan."


"Tidak Max, aku akan pergi setelah bayimu lahir. Aku juga ingin melihatnya dan akan aku beritahu Aisyah kalau ia sudah mempunyai keponakan baru." ujar Alex dengan suara berubah melunak. Hatinya seketika menghangat mendengar kata bayi.


Tiba-tiba bayangan Danil berkelebat dalam pelupuk matanya. Bayi berumur hampir 7 bulan itu menggapainya dan memanggilnya Daddy.


Aisyah, kemana kamu membawa Danil sayang? Aku rindu pada kalian. ujarnya membatin.


"Kita sudah sampai," suara Maksim membuat Alex tersentak dari lamunannya.


"Ah iya,"


Mereka pun turun dari mobil dan segera menjemput Maryam yang nampak meringis memegangi pinggangnya. Rupanya perempuan hamil itu sudah mengalami kontraksi yang datang setiap 5 menit sekali.


"Aku akan menggendongmu sayang," ujar Maksim dan langsung mengangkat tubuh Maryam yang sangat berisi itu kedalam mobil dan dia dudukkan dijok bagian belakang dan ditemani oleh Fauzia sepupunya.


"Hati-hati nak," ujar Salim, ayah dari Maryam.


"Iya ayah, kami akan berangkat sekarang," jawab Maksim kemudian menutup pintu mobil tempat dimana ia meletakkan tubuh Maryam di sana.


Alex pun ikut naik ke mobil dan duduk disamping Maksim seperti tadi.


"Max, ini sakit sekali, hhhhh Uuhhh," teriak Maryam dari bagian belakang.


"Max!"


"Aaaa Uhhh hhhhh,"


"Tenanglah kak Maryam, sebentar lagi kita sampai."


"Max!"


"Tarik nafas kak seperti ini dan buang seperti ini, " ujar Fauziah memberi petunjuk. Perempuan itu ternyata adalah seorang ibu muda yang sudah punya pengalaman melahirkan.


"Max, aaaah sakit sekali!" Maksim semakin tegang mendengarkan teriakan istrinya dibelakang sana.


"Biar aku yang menyetir Max," ujar Alex yang merasa laju mobil ini semakin tidak bagus karena sang sopir tidak berkonsentrasi mengemudi.


Di tengah jalan itu Alex dan Maksim saling bergantian menjadi pengemudi. Maksim duduk di jok belakang untuk menemani istrinya dan menghiburnya.


"Max, ini sakit sekali," bisik Maryam pada ceruk leher suaminya dengan menggigit bibir bawahnya. Maksim tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya menyediakan dirinya untuk dicengkeram kuat oleh sang istri ketika rasa sakit tak terkira itu datang kembali menyerang.


"Yang sabar ya, sebentar lagi pasti akan baik-baik saja," ujar Maksim akhirnya. Tadinya ia berharap punya banyak anak dari istri tercintanya ini tetapi ketika melihat Maryam kesakitan seperti ini rasanya cukup hanya satu. Itu sudah cukup sebagai bukti cinta mereka berdua.


Ciiiiiit


Mobil mereka akhirnya sampai di Rumah Sakit di Desa Rakhata.


Maksim dengan segera turun dari mobil dan menggendong kembali tubuh sang istri yang ternyata sudah basah karena air ketubannya sudah pecah dan juga darah sudah mulia mengalir dari pangkal pahanya.


"Dokter selamatkan istriku, ia berdarah!" teriak Maksim saat mereka tiba di pintu Rumah Sakit.


"Max,..." panggil Maryam dengan suara lemahnya.


"Iya Maryam, aku di sini sayang," jawab Maksim kemudian mengecup bibir istrinya lembut.


"Aku akan menemanimu melahirkan bayi kita, kamu tenang ya..." lanjut Maksim sembari menggenggam tangan istrinya lembut. Ia berusaha memberi kekuatan pada sang istri.


"Minum dulu kak, supaya kamu kuat. Sebentar lagi kamu akan mengedan dengan kuat." ujar Fauziah kemudian memberikan sebotol air mineral pada ibu hamil itu. Maryam pun menurut. Ia memang merasakan lelah dan haus.


"Max, Aaaaaakh!" kembali Maryam berteriak sembari mencengkeram lengan suaminya. Rasa sakit yang teramat itu kembali datang menyerangnya.


"Uuuhuuuh Aaaaaaahh." Maryam menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya lagi pelan.


"Dokter!" teriak Maksim lagi karena sang perawat tadi malah meninggalkan mereka di ruang Emergency itu. Dengan tergopoh-gopoh beberapa perawat datang wajah panik.


"Maaf Pak, kami tadi mempersiapkan ruangannya. Mari Pak, kita bawa nyonya ke ruangan itu." ujar salah seorang perawat dan mulai mendorong brangkar itu ke arah ruang bersalin di Rumah Sakit yang sederhana itu.


Dalam hati Maksim terus berdoa agar istrinya selamat melahirkan bayinya dan sehat-sehat saja.


Ia berjanji akan merenovasi Rumah Sakit ini jika semuanya berjalan dengan lancar dan tidak kurang suatu apapun.


"Aku ingin mendampingi istriku dokter." ujar Maksim saat seorang perempuan berhijab memintanya untuk menunggu di luar ruangan.


"Baiklah, tapi anda harus bisa bekerjasama dan tidak menggangu pekerjaan kami." ujar dokter kandungan itu dengan wajah serius.


"Baik, aku paham." jawab Maksim dan menghampiri istrinya yang nampak tenang. Mungkin rasa sakit itu tidak terasa lagi.


"Max,"


"Iya sayang, aku di sini menemanimu. Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Jadi kamu harus kuat ya," hibur Maksim pada istrinya itu.


Maryam mengangguk kemudian kembali merasakan yang seolah-olah merobek perut bagian bawahnya.


"Ya Allah, ini sakit sekali." ujar Maryam dan kembali mencengkram lengan Maksim.


Dokter perempuan dan beberapa perawat yang menangani Maryam segera membuka paha perempuan itu dan tersenyum.


"Ya nyonya, kepala bayinya sudah nampak. Berkuat ya dan dorong dengan satu kali bernafas yang panjang, iya seperti itu, pintar sekali lagi...."


"Aaaaaaaaakh." teriak Maryam diiringi oleh lengkingan tangis bayi yang baru keluar ke dunia ini melalui jalan lahirnya.


"Alhamdulillah, selamat. Bayinya sangat tampan dan juga sehat," ujar sang dokter dengan rasa gembira diwajahnya.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang, terimakasih." ujar Maksim dan menciumi seluruh permukaan wajah istrinya yang dipenuhi peluh.


"Kami akan bersihkan dulu bayi anda tuan, dan akan mengazaninya."


"Iya dokter. Terimakasih banyak."


🍁


Di ujung sana Albert menarik nafas panjang. Ada banyak kaitan peristiwa yang membuatnya menyimpulkan sesuatu.


Beberapa agen sudah memberikan laporannya. Sekitar 2 atau 3 orang sniper terbaiknya sudah mendatangi beberapa tempat yang mereka curigai dan bahkan sempat adu tembak dengan beberapa orang.


Sedangkan pria terduga sopir yang membawa Aisyah meninggalkan Bandar Udara Internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin puluhan jam yang lalu itu terlihat sering mengunjungi sebuah Club terkenal di Moskow.


Pria muda yang belakangan diketahui bernama Sanchez sepertinya sengaja membawa mereka semua ke sebuah tempat untuk mengecoh orang-orang kepercayaan Alexander Smith itu.


Albert mulai merasa curiga kalau ketiadaan Aisyah sekarang adalah sebuah kejahatan yang disengaja untuk menantang klan Smith untuk kembali turun ke dunia keras dan berbahaya ini.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor, boleh minta vote atau bunga untuk syukuran bayi Maksim dan Maryam yang baru lahir?


Like dan komentarnya ya, othor tunggu dengan senyum menawan.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍