
Cuaca yang sangat dingin pagi itu tidak menyurutkan semua penghuni rumah Alexander Smith untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh berjamaah di Masjid.
Dua perempuan cantik yang seumuran itu sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi para pria yang masih berada di Masjid.
"Aisyah, aku tidak tahu apa makanan favorit kalian di sini." ujar Maryam sambil memperhatikan sahabatnya itu sibuk memotong kentang dan juga sayuran yang lain.
Ia ikut mencuci paprika yang sudah tersedia di atas meja dan memotong-motongnya sesuai petunjuk dari sang ratu dapur. Sepertinya ia akan membuat sup daging agar pagi yang sangat dingin itu bisa terasa hangat.
"Kami makan makanan pada umumnya Maryam. Para pria itu menyukai semua makanan yang tersedia. Kamu bisa lihat kan tubuh mereka sangat sehat dan kuat." jawab Aisyah dengan senyum di wajahnya.
Maryam Langsung membayangkan tubuh suaminya yang memang sangat sehat dan kuat. Pipinya langsung memerah karena telah membayangkan yang tidak-tidak.
"Maryam? kamu kenapa? wah telah terjadi sesuatu ya semalam?" tanya Aisyah penasaran. Maryam tersenyum kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Aaaakh, panas." teriaknya tiba-tiba. Ia lupa kalau tangannya baru saja memotong dan menyentuh paprika itu.
"Astagfirullah Maryam." Aisyah jadi ikutan panik karena Maryam kesulitan membuka matanya yang kepanasan karena tersentuh tangan bekas menyentuh potongan paprika.
"Maryam, basuh wajahmu dengan air dingin itu." seru Aisyah dengan wajah kasihan. Kulit putih Maryam semakin memerah karena kepanasan.
"Ada apa ini?" tanya Alex yang baru muncul di dapur setelah mendengar sedikit kekacauan di sana. Maksim ikut masuk setelah dari kamarnya dan tidak menemukan sosok cantik yang ingin ia peluk dipagi yang masih sangat dingin itu.
"Masih panas." seru Maryam setelah membasuh wajahnya dengan air dingin. Maksim segera membawa istrinya keluar dari dapur itu dengan mengangkatnya ala bridal style. Aisyah melirik suaminya yang juga sedang meliriknya. Ada pesan tak kasat mata dari lirikan mereka berdua hingga Albert datang mengagetkan keduanya.
"Ada yang bisa dimakan?" tanyanya sembari memperhatikan keadaan dapur yang sedikit kacau. Semua sayuran sudah terpotong tetapi belum ada makanan yang siap dimakan.
"Kali ini kamu yang bertugas memasak Al." ujar Alex dengan nada perintah. Mata Albert langsung membola karena ia mendapat tugas untuk memasak padahal ia hanya muncul di dapur untuk makan.
Albert hanya bisa menatap sedih sang bos yang berlalu ke kamarnya bersama istrinya. Dengan wajah frustasi ia menghampiri semua bahan-bahan dapur itu dan mulai memasak sesuai instingnya saja.
"Albert!" teriak Omar dari arah depan pintu yang tidak terkunci. Albert menarik nafas lega, setidaknya ia sekarang tidak sendirian di dapur yang tiba-tiba horor ini.
"Masuklah dokter Omar." ujar Albert dengan nada ceria. Ia berharap dokter muda itu pintar memasak dan bisa membantunya.
"Kemana Maksim dan Alex?" tanya Omar sembari memandang berkeliling.
"Mereka sedang tidak ingin diganggu, dokter. Beginilah nasib kita yang masih single." ujar Albert dengan tarikan nafas berat. Pagi yang dingin seperti ini seharusnya dinikmati dengan saling memberi kehangatan di tempat tidur. Seperti yang dilakukan kedua pasang suami istri itu di kamar mereka berdua.
"Alex." dessah Aisyah saat suaminya menyentuh lembut bibirnya dengan lembut kemudian agak sedikit kasar dan menuntut.
"Aisyah, aku rindu padamu sayang." ujar Alex disela-sela sentuhannya pada tubuh sang istri yang sudah tampil sangat cantik dan indah di depan mata suaminya.
Bibirnya berhenti di area perut istrinya yang sedikit membuncit sebagai bukti ada seorang janin di dalam sana. Ia mengelusnya lembut diikuti oleh kecupan-kecupan kecil di permukaan kulit Aisyah hingga sang istri menggelinjang geli dan nikmat.
"Alex, hentikan. Aku geli." ujar Aisyah dengan senyum dan sedikit tawa di bibirnya.
Alex tidak menghiraukan teriakan manja istrinya itu. Ia terus mengulanginya sampai Aisyah benar-benar meminta ampun dengan tubuh yang sudah melumer tak kuat. Ia seakan luruh tak bertenaga hingga sang suami mengangkatnya ke atas ranjang.
Lapar dan hausnya hanya ia obati dengan cara yang lain dan kini ia ingin meledakkan rasa rindunya ini dengan penuh cinta di dalam sosok yang sangat ia cintai ini.
Berbagai rayuan, belaian, dan kecupan dengan penuh damba ia lakukan agar sang istri merasa rileks dan semakin merasakan begitu banyak cinta yang ia berikan pada calon ibu dari anak-anaknya ini hingga ******* permohonan dari bibir Istrinya keluar dengan sangat merdu.
"Alex, plis..." Aisyah menatapnya dengan mata sayu memohon sesuatu yang lebih dari sentuhan dan belaian lembut.
"Here we go my sweetie." bisik Alex kemudian melakukan sesuatu yang membuat istrinya serasa tidak menapaki bumi. Terbang berkali-kali dengan begitu indah. Semakin tinggi meski tak bersayap tanpa takut terjatuh ke bumi.
Mereka mendayung bersama merasakan nikmat yang teramat indah yang diberikan oleh Tuhan sang pemilik kasih dan sayang.
Sampai akhirnya mereka berdua turun pelan-pelan dengan senyum puas di wajah mereka berdua ketika rasa itu sudah sampai di puncaknya.
"Terima kasih Aisyah, kamu mau menerimaku dalam dirimu. I love you." bisik Alex lembut kemudian mencium kening istrinya yang sudah dipenuhi peluh. Ia memperbaiki posisi tidur istrinya kemudian menutupnya dengan selimut tebal.
Cuaca dingin di luar masih terasa meskipun matahari sudah mulai memperlihatkan sinarnya dari kaki gunung Kaukasus.
"Istirahatlah, aku akan memeriksa masakan Albert." ujar Alex kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian menuju dapur mengecek kesiapan sarapan pagi itu.
Sesampainya di dapur, ia tersenyum senang karena ternyata dapurnya tidak pecah kemudian makanan juga sudah tersedia dengan sangat cantik di meja makan.
"Wah tak kusangka ternyata Kamu pintar memasak ya." ujar Alex kepada Albert yang tersenyum bangga dengan hasil karyanya bersama dokter Omar.
"Aku meninggalkanmu sebentar saja tetapi makanan di atas meja sangat banyak dan bermacam-macam. Apakah kamu meminta bantuan jin?" tanya Alex masih dengan wajah takjubnya.
"Cih, sebentar. Kamu meninggalkan dapur hampir 2 jam bos. Tentu saja aku bisa menyiapkan makanan sebanyak ini dengan waktu selama itu." gerutu Albert dengan wajah kesal. Ia merasa dikerjai oleh dua pasang suami istri itu yang dengan asyik menikmati keindahan dunia dan meninggalkannya dengan alat dan bumbu dapur.
"Jangan marah begitu Albert. Kan bukan kamu yang masak semua ini tetapi aku." jawab Omar yang baru keluar dari kamar mandi.
"Oh hai Kak Omar. Kamu sudah lama datang?" sapa Alex sembari duduk di kursi di depan meja makan itu.
"Sejak kamu membawa istrimu keluar dari dapur." jawab Omar tersenyum.
"Albert, panggil Maksim untuk sarapan. Kalian akan mengantar Anna kan pagi ini." titah Alex pada Albert. Pria muda itu pun beranjak ke arah kamar Maksim untuk memanggilnya ikut sarapan bersama.
"Apa Kamu benar-benar mengizinkan Anna keluar dari pekerjaannya?" tanya Omar hati-hati. Alex langsung menatapnya intens.
"Gadis itu yang minta. Katanya ia akan pulang ke rumah orang tuanya. Memangnya kenapa?"
"Ah, tidak. Dia gadis yang baik meskipun sedikit aneh." jawab Omar dengan senyum di wajahnya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍