Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 112 EMHD



Senyum cerah tak lepas dari wajah Albert setelah memandang wajah Reisya lewat panggilan video itu. Ia bertekad akan terbang ke Indonesia dan melamar gadis itu beberapa hari lagi.


Cinta Albert yang sempat layu kini mekar kembali. Kerinduannya benar-benar memuncak sekarang.


Dengan hanya melihat senyum Reisya yang manis dan wajah yang selalu tampak malu-malu itu seakan memanggilnya untuk segera menghalalkan gadis itu. Albert menutup panggilan video itu dengan satu ciuman jarak jauh yang membuat Reisya tertawa terpingkal-pingkal disana.


"Hey jangan tertawa atau aku tidak akan membuatmu bisa tidur malam ini." ujar Albert dengan wajah mesumnya yang tak tahu malu.


"Aku sudah lama tidak bisa tidur Al," jawab Reisya dengan suara pelan.


"Kamu menggantung hubungan ini." lanjut Reisya dengan wajah yang berubah sedih. Beberapa keluarga sudah pernah datang melamarnya tetapi ia selalu menolak karena masih terus mengharapkan kedatangan Albert tetapi pria ini malah terkesan sengaja menghilang tanpa kabar sedikitpun.


Yang membuatnya bertahan adalah Aisyah selalu memberinya kabar kalau pria ini sedang sibuk dengan pekerjaannya dan tak pernah terlibat asmara dengan perempuan lain.


Kedua orangtuanya bahkan sering memberinya nasehat untuk tidak mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.


Jarak dan juga perbedaan kewarganegaraan membuat ayah dan ibunya sudah ingin membuang jauh-jauh segala harapannya bermenantu orang asing atau bule.


"Maafkan aku Reisya, aku berjanji akan datang padamu beberapa hari kedepan, siapkan saja dirimu, okey?" ujar Albert dengan suara rendah. Ia benar-benar merasa bersalah kini.


"Aku benar-benar menantimu Al." ujar Reisya kemudian mengakhirinya panggilan video itu.


Dengan langkah ringan Albert menyerahkan handphone Aisyah disertai senyum yang tampak sangat cerah. Ia seperti baru saja mendapat suntikan energi yang baru.


"Jangan katakan kamu telah..." ujar Aisyah sengaja tidak melanjutkan kata-katanya tetapi hanya tersenyum menggoda pada Albert.


"Hum kamu benar,.aku akan segera berangkat beberapa hari kedepan. Aku sudah membayangkan kalian berkumpul semua di sini." ujar Albert kemudian meninggalkan 3 perempuan itu yang sedang saling tersenyum.


"Oh, jadi itu perempuan yang Albert rindukan?" tanya Anna dengan rasa penasaran di wajahnya.


"Yah, dia orangnya yang membuat Albert tergila-gila. Kurasa sekarang ia sudah mulai tidak bisa tidur. Reisya sekarang semakin cantik saja." jawab Aisyah tersenyum. Mereka bertiga melanjutkan kegiatan menonton video masak-masak dari saluran YouTube. 3 perempuan itu benar-benar menikmati acara siang itu.


Hingga Alex dan Maksim datang membawa Mohammad Yusuf dan bibi Sarah yang baru mereka jemput di bandara.


"Ayah, aku rindu padamu." ujar Aisyah sembari bergelayut manja di lengan sang ayah. Mohammad Yusuf tersenyum dan membalas putrinya itu dengan kecupan dikening Aisyah. Ini merupakan kejutan dari Alex sang suami. Alex tidak pernah mengatakan kalau sang ayah mertua akan datang hari ini begitupun dengan bibi Sarah.


"Aisyah bagaimana kabarmu sayang?" tanya Bibi Sarah dengan wajah gembira. Ia meraih Aisyah dari rengkuhan kakak laki-lakinya.


"Aku baik Bibi, kamu bisa lihat aku sangat sehat." jawab Aisyah sembari memperlihatkan tubuhnya yang semakin berisi karena kehamilannya.


"Apa penyakit rematikmu sudah sembuh bibi?" tanya Aisyah dengan penuh perhatian.


"Seperti biasa sayang, kaki tua ini kalau tidak mengeluh rematik ya paling kelelahan." jawab bibi Sarah sembari membawa ibu hamil itu untuk duduk di sofa. Ia ingin memeriksa kandungan sang ponakan. Tetapi mata tuanya memandang dua perempuan yang sedari tadi belum ia sapa.


"Maryam kemarilah sayang, duduk dengan bibi di sini." panggilnya kepada Maryam tetapi ia tidak menegur Anna sama sekali hingga gadis itu yang datang sendiri menyapa sang bibi.


"Hai bibi apa kabarmu?" sapa Anna yang hanya dibalas senyum tipis dari perempuan paruh baya itu. Ia pun ikut duduk bersama di sofa tanpa mau ambil pusing dengan ekspresi bibi Sarah setiap berjumpa dengannya.


"Aisyah, apa kamu sudah sering merasa sakit dibagian belakang punggungmu sayang?" tanya bibi Sarah sambil memperhatikan keadaan tubuh Aisyah.


"Iya bibi, disini sudah sering lelah." jawab istri dari Alex itu sembari menunjuk bagian belakang pinggangnya.


"Kalau kamu mau bagaimana kalau bibi mengurutmu sedikit sayang, apalagi kakimu sekarang sudah mulai membengkak, pasti sebentar lagi kamu melahirkan."


"Terimakasih bibi. Tapi bibi kan baru datang. Istirahatlah terlebih dahulu bersama Ayah. Setelah itu kita akan makan malam bersama. Kak Omar juga sebentar lagi sampai."


Deg


Anna langsung merasakan dadanya berdebar kencang. Ia sungguh tak mau bertemu dokter itu di sini. Dengan cepat ia berdiri dan berniat untuk pamit tetapi Mohammad Yusuf menegurnya.


"Anna, kamu tidak menyapaku nak?" tanya Mohammad Yusuf dengan senyum teduh diwajahnya.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana belajarmu? apa kamu masih mengingat pesanku?"


"Ah iya paman, saya semakin rajin membaca buku akhir-akhir ini. Ada lebih banyak waktu libur yang tuan Alex berikan padaku."


"Baguslah, teruslah belajar nak. Nah sekarang dimana cucuku yang sangat cerewet itu?"


"Nikita?"


"Iya siapa lagi?" Anna tidak menjawab karena ia juga tidak tahu. Sejak ia datang bersama Albert gadis kecil itu memang tidak tampak di rumah yang sangat luas itu.


"Albert baru menjemputnya di sekolah ayah." jawab Maryam yang ikut mendengarkan pertanyaan sang ayah.


"Oh iya, aku sudah lama merindukan Nikita." ujar Mohammad Yusuf sembari tersenyum. Tak lama kemudian suara ribut dari arah depan pintu menandakan Nikita baru saja sampai.


"Assalamu'alaikum semuanya!" sapa gadis cilik yang baru saja diperbincangkan itu


"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Kakek!" teriak Nikita dengan wajah gembira dan langsung menubruk tubuh tua Mohammad Yusuf. Ia memeluk pria itu dengan senyum ceria.


"Bagaimana kabarmu kakek?" tanya Nikita kemudian duduk dipangkuan sang kakek.


"Alhamdulillah baik sayang. Kamu bagaimana kabarmu?"


"Aku juga baik kakek, tetapi aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Banyak tugas yang harus aku kerjakan di Sekolah." jawab Nikita sembari mengelus jenggot Mohammad Yusuf.


"Bagus itu nak, supaya kamu tambah pintar."


"Tapi aku sedih kakek, Anna tidak pernah lagi ke rumah ini. Aku jadi sering sendiri sedang mommy dan Daddy selalu saja berdua di kamar begitupun uncle Max dan onty Maryam." keluh Nikita dengan wajah sendu. Rupanya ia sudah lama menyimpan uneg-unegnya ini. Dan sekarang waktunya ia mengadu kepada pria tua yang sangat bijaksana ini.


"Niki, kamu melaporkan Daddy sayang?" tanya Alex merasa malu. Ia memang lebih sering menghabiskan waktunya bersama Aisyah ketika berada di rumah daripada dengan Nikita sang putri. Semua orang merasa tertohok dengan kata-kata gadis kecil itu.


Maksim menatap Maryam dengan perasaan yang tidak bisa ia ucapkan. Ia sekarang merasa bersalah juga pada putri kesayangannya itu.


"Nikita, aku ada di sini sayang." ujar Anna sembari merentangkan tangannya agar gadis kecil itu mendatanginya.


"Anna? kamu di sini? kata mommy kamu sedang sakit." ujar Nikita dengan pandangan berbinar-binar. Ia langsung turun dari pangkuan Mohammad Yusuf dan segera memeluk Anna.


"Aku rindu padamu Anna, kita bisa bermain lagi kan?"


"Iya sayang, sekarang aku sudah sehat. Dan siap menemanimu belajar dan bermain."


"Asyik...aku sayang padamu Anna." semua yang menyaksikan keakraban Nikita dan Anna merasa cemburu dan juga malu terutama Aisyah. Ia merasa mengabaikan Nikita akhir-akhir ini karena kehamilan dan juga kemanjaannya pada sang suami. Sampai mereka berdua jadi egois dan melupakan seorang gadis kecil yang juga butuh perhatian.


"Anna kamu jangan menikah ya, supaya kita bisa bermain dan belajar sepanjang waktu." sekali lagi semua orang saling berpandangan. Ada rasa nyeri menghantam hati mereka semua.


"Iya sayang, aku akan menemanimu saja sepanjang waktu." jawab Anna tersenyum canggung karena semua pandangan orang-orang di ruangan itu seolah-olah tertuju padanya. Apalagi sesosok tubuh tinggi yang sangat tampan dimatanya kini juga menatapnya.


Deg


Jantung Anna berdebar. Ia segera membawa Nikita ke kamarnya dengan alasan akan menemani gadis kecil itu berganti pakaian.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍