
Crisstoffer Anderson memandang kembali semua orang yang ada di dalam ruangan itu untuk menjawab rasa penasarannya.
Dan entah kenapa mata dan perasaannya tak pernah jauh-jauh dari Nikita Smith yang sibuk bercanda dengan Elif.
"Aku berharap tebakanku benar uncle," ujar Crisstoffer dengan senyum diwajahnya.
"Katakan Criss, siapa kira-kira yang ahli ortopedi di ruangan ini?" tanya Omar lagi pada dokter muda yang tampak sedang berpikir itu.
"Uncle Alex?" jawab Crisstoffer dengan alis terangkat sebelah dan langsung membuat semua orang tertawa termasuk Nikita dan juga Elif yang rupanya diam-diam penasaran dengan jawaban dokter muda dan tampan itu.
"Hey, kenapa kamu bisa menebak suamiku seorang ahli ortopedi, Criss?" tanya Aisyah dengan wajah lucu sedangkan wajah Alex berubah cemberut dan tak bersahabat.
"Karena pukulannya waktu itu pada tubuhku membuat tulang-tulangku rasanya patah semua Onty."
"Hahaha," Kembali semua orang tertawa dengan candaan Crisstoffer Anderson. Maksim dan Albert saling bertatapan berharap mereka berdua lolos dari absen pria muda itu. Karena mereka berdua juga pernah berperan penting dalam pemukulan pada pria itu.
"Dan dokter ortopedi yang sebenarnya adalah onty Aisyah, benarkan?" lanjut Crisstoffer dengan senyum diwajahnya.
Prok
Prok
Semua orang bertepuk tangan dengan jawaban dokter muda itu. Mereka semua tidak menyangka kalau dokter penyakit dalam itu bisa menebak dengan benar.
Alex segera merengkuh pinggang istrinya karena tak mengizinkan perempuan kesayangannya itu menyentuh kulit Crisstoffer Anderson yang sedang patah tulang itu.
"Meskipun jawabanmu benar, aku tetap tidak mengizinkan istriku memeriksamu. Karena Aisyee ku adalah dokter pribadiku, kamu mengerti Criss?" semua orang kembali tertawa dengan gaya posesif Alex pada istrinya.
"Sayang, jangan seperti itu. Kita akan membantu orang yang membutuhkan apalagi Criss adalah keluarga kita juga," timpal Aisyah tak enak hati.
"Tetapi dia laki-laki sayang, dan hanya aku dan Danil yang bisa kamu sentuh titik." tegas Alex tanpa mau dibantah. Hingga terdengar helaan nafas dari semua orang.
Dan karena semua pria yang sudah menikah itu sama-sama posesif pada istrinya akhirnya mereka menerima alasan Alex. Mereka tidak membiarkan Aisyah memeriksa maupun mengobati dokter muda itu.
"Aku mengirim simpati untukmu Criss, sepertinya dokter senior kita tidak mendapatkan izin dari si harimau penjaganya, hehehe," ujar Omar dengan tawa renyahnya.
"Tidak apa uncle, aku yakin masih ada dokter ortopedi junior di sini," ujar Crisstoffer sembari memandang wajah Nikita yang secara kebetulan juga memandangnya.
"Criss, jangan sembarangan menyebutkan nama orang ya," tegur Alex yang sudah mencurigai siapa selanjutnya yang akan disebutkan oleh dokter muda itu.
"Hahaha, kenapa kamu takut sekali uncle, apa kamu juga tidak rela kalau aku ingin dirawat oleh putrimu?" tanya Crisstoffer Anderson dengan tawanya yang menyebalkan bagi Alex.
"Aisyee, jangan biarkan Nikita mengobatinya sayangku," bisik Alex pada istrinya itu. Aisyah langsung tersenyum dengan manis kemudian membalas bisikan suaminya.
"Kenapa Alex? kamu tega tangannya dibedah padahal sebenarnya masih bisa diobati dengan cara yang lain?"
"Tidak apa, biar dia merasakan penderitaan yang lama."
"Astagfirullah, kamu tega, kamu tidak punya perasaan sayang," jawab Aisyah masih dengan berbisik-bisik tetapi karena ruangan itu tiba-tiba sepi dan hening, akhirnya semua orang mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Alex! Aisyah!" tegur Omar yang langsung membuat mereka berdua berhenti berbicara.
"Iya kak," jawab mereka berdua serentak.
"Nikahkan Criss dan Nikita secepatnya agar putrimu bisa merawat Criss. Dan kalian tidak merasakan perasaan was-was. Mereka halal untuk bersentuhan."
"Apa?" Alex dan Nikita berteriak bersamaan. Mereka berdua tidak menyangka Omar bisa berpikir secepat itu.
Semua orang kembali saling berpandangan. Sedangkan Crisstoffer langsung mengangkat jempolnya kepada Omar tanda ia sangat setuju dengan pengaturan dokter itu.
"Enak saja mau menikahkan putriku tanpa melamarnya dengan benar. Aku tidak setuju," ujar Alex kemudian menarik tangan Aisyah dan juga Nikita untuk keluar dari ruangan itu.
"Sayang, kamu tidak sopan," ujar Aisyah saat mereka sudah berada di depan pintu.
"Aku tidak perduli, putriku ini spesial dan harus diperlakukan spesial. Nikita bukan barang Aisyee yang gampang diatur oleh kakakmu semaunya," ujar Alex dengan wajah masam.
"Lagipula apa Nikita setuju dengan pengaturannya yang seperti itu?" Aisyah terdiam dan memandang Nikita, sang putri.
"Niki? ada yang ingin engkau sampaikan sayang?" tanya Aisyah pada gadis cantik yang sepertinya masih bingung dengan apa yang terjadi itu.
"Aku tidak tahu mom, kalian lebih berhak atas diriku. Lakukan saja apa yang menurut kalian baik," jawab Nikita sembari menunduk. Aisyah langsung tersenyum dan meraih tangan suaminya.
"Sayang, kamu dengar kan apa kata putrimu, sekarang mari kita pulang. Kita pikirkan baik-baik apa yang terbaik untuk putri kita. Ada Tuhan yang akan kita mintai pertolongan dalam masalah ini," ujar Aisyah kemudian merangkul kedua orang yang sangat dicintainya itu.
"Iya, mari kita pulang, kita pikirkan di rumah saja," timpal Alex membenarkan kata-kata istrinya. Mereka pun pergi dari tempat untuk menenangkan pikiran dan berharap setelah meminta pertolongan Tuhan, mereka bisa memutuskan apakah mereka menyetujui saran dari Omar itu.
Sementara itu di dalam ruang perawatan Omar. Orang-orang yang masih berada di dalam sana saling tersenyum dengan tingkah Alex yang masih belum rela Nikita menikah.
"Kamu harus sabar Criss dan sekarang tunjukkan pada Alex kalau engkau benar-benar serius dengan Putrinya." ujar Maksim sembari menepuk bahu pria itu.
"Iya uncle, akan aku usahakan. Tetapi tolong bantu aku," ujar Crisstoffer Anderson dengan wajah memohon.
"Saat ini kami semua sudah membantumu tinggal bagaimana caramu untuk mengambil hati ayah dan putrinya itu." timpal Albert ikut berpendapat.
"Ya ampun, apa memang sesulit ini kalau aku benar-benar ingin mendapatkan calon istri baik-baik?" Crisstoffer meraup wajahnya kasar.
"Tenang pak Anderson, Nikita itu gadis yang gampang luluh hatinya. Berikan saja perhatian yang lebih padanya. Ia pasti akan menerimamu," ujar Elif yang ternyata masih berada di tempat itu.
"Terimakasih Elif, tetapi perhatian yang seperti apa? aku juga tidak mengerti tentang gadis itu."
"Ajak ia berdiskusi tentang apa saja yang ia sukai, maka aku yakin, ia akan menyediakan waktunya yang banyak untukmu," jawab Elif dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana dengan uncle Alex, apa yang harus aku lakukan dengannya?" tanya Crisstoffer Anderson sembari memutar otaknya berpikir.
Maksim dan juga Albert saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Apa betul kamu ingin tahu apa yang disukai oleh kakak kami itu?" tanya Albert dengan seringaian diwajahnya.
"Iya uncle, aku ingin tahu," jawab Crisstoffer Anderson dengan wajah penasaran.
"Ajaklah ia berolahraga dan menembak, aku yakin ia akan sangat senang," jawab Maksim sembari mengedipkan matanya sebelah.
"Baik Uncle, aku akan mengikuti saranmu tapi tunggu sampai tanganku sembuh terlebih dahulu," ujar pria itu sembari mengelus lengannya yang masih terasa nyeri.
"Lalu bagaimana ini bisa sembuh kalau dokter cantik yang aku inginkan belum juga bisa aku dapatkan?" semua orang tertawa melihat penderitaan Crisstoffer Anderson.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍