Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 61 EMHD



POV Alexander Smith


Aku mulai membawa tubuh Aisyah ke kamarku meninggalkan Nikita yang sudah tertidur lelap. Kupandangi terus wajahnya yang nampak sangat cantik malam ini. Kurebahkan ia pelan di atas ranjang yang menjadi saksi bagaimana ia membuatku menggila tadi sore.


"Aisyah," kupanggil namanya agar ia mau menatapku dengan mata bulat indahnya. Ia pun menatapku dalam. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu, jadi aku menunggu. Aku tak ingin terburu-buru seperti tadi. Karena kurasa kami masih punya banyak waktu untuk saling meraba perasaan meskipun aku sudah sangat ingin membuat ia berteriak dibawah kungkunganku.


"Tuan, kamu tahu? awalnya aku sangat tak ingin menerimamu tinggal di rumah ayah. Aku tidak mau menerima orang asing untuk tinggal di kampung kami."


"Trus?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku pada wajahnya. Karena aku sudah tahu hal itu dari Maksim.


"Maksim pasti sudah memberi tahumu kan?"


"Hem, Lalu?"


"Lalu, saat aku melihatmu untuk yang pertama kali aku tetap tidak menyukaimu karena kamu pria yang sangat dingin dan arogan." kulihat ia mendengus kesal mengingat aku yang tidak ramah padanya pada saat itu.


"Tetapi entah kenapa aku justru sangat terpikat padamu, kamu sangat tampan meskipun sombong." ujar Aisyah yang sekarang memandangku dengan tatapan berbeda. Aku tersenyum. Aku tidak heran dengan kata-katanya. Karena aku memang terkenal tampan dan menarik. Banyak perempuan yang ingin menghabiskan malamnya bersamaku. Katanya mereka terobsesi pada tubuh dan permainanku.


"Tapi, waktu itu aku juga tidak menyukaimu meskipun kuakui kamu cukup menarik," ujarku membalas ucapannya. Ia langsung tersenyum kecut. Dan tak mau menatapku. Posisi kami berdua sedang berbaring dan sedang berhadapan.


"Hey, tapi sekarang aku sangat mencintaimu sayang." ujarku sembari memeluknya. Ia diam saja dalam pelukanku.


"Apa yang kamu lihat dari diriku Aisyah, kenapa kamu menyukaiku saat itu?" tanyaku sembari jari-jariku bergerak kearah wajahnya yang sangat cantik. Kubelai alisnya yang tebal dan rapi, matanya yang bulat indah, pipinya yang lembut kemudian jariku berakhir di bibirnya yang merekah indah meskipun tanpa pemerah bibir. Ia seakan ingin menenggelamkan aku di sana. Sungguh aku sudah tidak tahan meraup bibir itu dan meluumatnya habis hingga membengkak seksih. Tapi aku berusaha menahan.


Ia menutup matanya menikmati sentuhan lembut yang aku berikan. Ia bahkan mulai mengambil jariku yang masih betah berada di permukaan bibirnya kedalam mulutnya dan mengulumnya sensual. Oh, Aisyah hanya dengan seperti ini aku sudah panas dingin. Kamu benar-benar bisa memberikan kenikmatan yang aku mau.


"Aku menyukaimu karena apa ya? Hem, karena aku suka itu saja, apa aku perlu punya alasan tuan?" sekarang ia mengeluarkan jariku kemudian menjawabnya dengan senyum.


"Jangan panggil aku Tuan, sayang. Aku bukan atasanmu dan kamu bukan juga budakku. Panggil aku Alex saja okey?" ia tersenyum kemudian bangun dari tempat tidur tetapi aku langsung menangkap tubuhnya dan membawanya ke atas tubuhku. Aku Ingin memandangnya lebih dekat. Menatap matanya kemudian menyentuhnya. Dua buah sumber dahagaku yang cukup empuk dan kencang mulai menyentuh dadaku yang sudah tak berpenghalang. Belahannya benar-benar berhasil membuat daerah intiku langsung menegak siap menyerang. Bibirnya yang sedari tadi menggodaku segera kuraup dan ku lummat habis.


Tangan kananku tak tinggal diam, ia mulai mengelus lembut punggungnya. Aisyah bagai sebuah hal misteri bagiku.


Ia membuatku dahaga dan juga dalam waktu yang bersamaan mengobati dahagaku.


Perempuan ini begitu lezat dan legit.


Ia membuatku memohon dan memuja bersamaan. Ia terlalu indah. Sampai pada titik dimana aku harus melepaskan sesuatu dari diriku yang sudah sangat siap meledak, ia masih terus menahanku.


"Tidak Alex, jangan sekarang, okey? aku mau lebih lama." ujarnya sensual. Ia mulai pintar menarik ulur diriku dengan lebih agresif malam ini. Hingga aku tersiksa dalam frustasi dan nikmat secara bersamaan.


Tangannya sudah lincah memanjakan diriku tetapi aku tetaplah yang harus memimpin. Aku ingin ia menikmati saja apa yang aku berikan. Hingga kami bersama-sama meneriakkan nama kami ketika puncak itu tiba.


"Aisyah."


"Alex."


"Panggil namaku sayang," ucapku dengan nafas memburu. Aku menghentak dengan ritme cepat hingga kata-kata cinta terus terucap dari bibir Aisyahku di malam yang sunyi itu.


"Terima kasih, sayang." ucapku sembari mengecup bibirnya setelah kami berdua terhempas kembali dari gelombang gairah yang tak berujung itu.


Yang pada akhirnya akan berakhir dengan penyatuan yang penuh getaran dan gelombang yang tak ada ujungnya. Ini terlalu indah.


"Tidurlah. Kamu pasti lelah." ucapku mengantar Aisyahku untuk merehatkan tubuhnya yang kutahu sudah sangat lelah melayaniku yang tak pernah kenyang.


🍁


Pagi datang menjemput. Sinar matahari pagi menembus tirai jendela kamar menandakan kami bangun kesiangan. Aisyah menggeliat pelan dalan pelukanku.


"Sayang, bangun. Kita kesiangan dan belum sholat subuh." bisikku di kupingnya. Kulihat ia langsung membuka bola matanya, dan segera melepaskan diri dari pelukanku.


"Ayo mandi baru sholat." panggilnya kepadaku yang masih bermalas-malasan di tempat tidur. Rasa lelah baru terasa sekarang.


Kulihat ia segera masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian gantinya.


Kami sholat subuh di waktu bumi sudah sangat terang.


"Daddy!" kudengar Nikita memanggil namaku dari balik pintu, aku tersenyum pasti Nikita akan protes lagi padaku pagi ini.


"Ada apa sayang, Hem?" tanyaku dengan senyum di wajahku.


"Mommy Aisyah hilang, huaaaa." ia mengucek matanya kemudian menangis.


"Ia tidak ada di tempat tidur ketika aku bangun. Ia meninggalkan aku lagi, huaaa." Nikita memelukku dengan sangat sedih. Aku berusaha menahan tawaku.


"Mommy tidak hilang sayang, lihat, ia ada di sana." ujarku sembari menunjuk Aisyah yang masih duduk di atas sajadahnya.


"Mommy..." teriak Nikita kemudian melepaskan pelukanku dan datang menghampiri mommynya.


"Hey, jangan menangis. Mommy tidak kemana-mana. Mommy ada di sini bersama kamu dan Daddy." kulihat Aisyah memeluk sayang pada gadis kecilku itu. Kedekatan mereka membuat hatiku menghangat. Mereka tak ada hubungan darah tetapi Tuhan mencurahkan rasa kasih dan sayang pada mereka berdua.


"Mommy jangan tinggalkan Niki lagi."


"Iyya sayang, mommy tidak akan pergi lagi. Kita akan tinggal bersama dan sellau bersama, okey? jangan bersedih dong." aku memperhatikan interaksi mereka dengan senyum yang tak lepas dari wajahku. Rasa syukur yang semakin besar menyeruak ke dalam hatiku. Terima kasih Ya Tuhan atas segala nikmat yang engkau berikan pada kami.


Aisyah menatapku dengan senyum diwajahnya. Nikita masih memeluknya dengan posesif takut akan ditinggalkan olehnya lagi.


---Bersambung--


Jangan bosan mendukung karya ini ya gaess. Like dah komentar sangat othor harapkan.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Kuy, ada rekomendasi novel yang sangat bagus nih. Yuks dikepoin.