Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 58 EMHD



POV Alexander Smith


Aku menarik nafas berat karena harus mengalah pada Nikita putriku. Gadis cilik itu memaksa Aisyah untuk tetap tinggal di kamarnya sendiri karena ia ingin bercerita banyak hal tentang aktivitasnya selama 3 tahun ini sejak perempuan itu pergi dari kami.


Kuusap wajahku kasar. Kerinduanku pada istriku itu harus aku tahan lagi dengan susah payah. Aku memutuskan untuk berenang di kolam renang pribadiku untuk menahan gejolak hasrat yang membuatku hampir gila.


Entahlah, Aisyah seakan memiliki magnet yang sangat kuat setelah aku menyentuhnya. Padahal aku selama ini sudah sangat menahan diri dari godaan para wanita yang sengaja dikirim oleh para kolega bisnis sebagai ucapan terimakasih ataupun hadiah perjanjian kerjasama setiap proyek yang berhasil kami lakukan.


Aku baru berhenti berenang ketika kulitku kurasakan sudah berkerut kedinginan. Tempat tidur adalah tujuanku saat ini. Aku ingin merilekskan diri terlebih dahulu sebelum kembali bertemu Aisyah di meja makan saat makan malam tiba.


Tetapi sesuatu yang luar biasa membuatku kembali menggila. Sejak kubuka pintu dan melangkah ke dalam kamar. Hanya Aisyah yang menjadi titik pandanganku. Istriku itu sedang berdiri dihadapan jendela besar yang menghadap ke taman luas penuh bunga di bawah sana. Cahaya matahari jingga mulai tampak dari ufuk barat menambah kesan cantik pemandangan indah di depan mataku itu.


Aisyah menggunakan gaun yang aku belikan dulu di GUM. Sebuah gaun dari brand ternama yang sengaja aku pilihkan untuknya agar bisa kunikmati sendiri. Sangat terbuka dan bahkan kurang bahan. Rambut hitam sebahunya ia gulung ke atas dan memperlihatkan leher jenjang putih serta punggungnya yang terbuka. Ia tak bergerak di sana dan hanya memandang keluar jendela yang terbuka.


Aku segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Lalu kucium bahunya yang terbuka itu dengan penuh perasaan. Tanganku bahkan meremas dua bongkahan dibagian belakangnya dengan sangat lembut.


"Daddy! Stop!" teriak Nikita dari arah belakangku. Matanya kulihat berkilat marah. Ia mengacungkan kuas di tangan kanannya dan menunjukkan piring cat di tangan kirinya. Sebuah kanvas kulihat berdiri kokoh di hadapannya.


"Niki?" ujarku dengan pandangan tak percaya. Aku tak sadar berlaku mesum di depan putriku sendiri.


"Apa yang kamu lakukan di sini sayang?" tanyaku kemudian melepaskan pelukanku pada Aisyah yang kulihat sedang menahan tawanya.


"Aku sedang melukis mommy. Kenapa Daddy menghancurkannya?" ujar Nikita gemas. Ia sampai maju ke arah ku dan mendorongku menjauh.


"Ya ampun Niki, kenapa kamu melukis di kamar ini?" tanyaku frustasi. Sesuatu dalam diriku yang sudah mulai tidur kini terbangun lagi. Aku sampai menutupinya dengan tanganku pasalnya aku sekarang hanya memakai piyama handuk dari kolam renang. Aku yakin Aisyah bisa merasakannya tadi saat aku memeluknya.


Kupandangi kekasih hatiku itu dengan wajah memelas. Kuharap ia mengerti penderitaanku saat ini. Dan sialnya, perempuan cantik itu hanya tersenyum samar sembari menyentuh bahunya yang sempat aku cium tadi dengan gerakan sensual. Ia seolah menantangku dan sengaja membuatku tersiksa.


Kuremas tengkukku kasar dan segera berlalu dari dua perempuan beda usia itu. Lemari pendingin adalah targetku sekarang. Aku menenggak minuman dingin itu dengan rakus sembari memandang Aisyah yang sedang diarahkan oleh Nikita untuk berpose seperti yang diinginkan gadis kecilku itu.


Untuk menjaga kewarasan otak dan tubuhku, aku memilih mencari handphoneku dan membuka beberapa berita terkini tentang diriku di laman-laman media sosial.


🍁


Aku tak sengaja melihat Aisyah mulai bergerak gelisah. Aku yakin ia sudah sangat lelah berdiri seperti itu di depan jendela. Namun ia mungkin tidak ingin mengecewakan Nikita yang sedang konsentrasi melukisnya. Perlahan aku melangkah ke arah Nikita agar putriku itu mulai menghentikan kegiatannya itu untuk sementara.


"Niki, kamu lihat mommy di sana sayang?" bisikku pelan di telinganya.


"Kenapa dad, apa ada masalah?" tanya Nikita mendongak menatapku.


"Lihat mommy, ia sudah sangat lelah berdiri seperti itu. Apa kamu tidak kasihan sayang?" ujarku lagi berusaha membujuknya.


"Hum, tapi pemandangan sore ini bagus sekali dad. Dan juga mommy sangat cantik dengan pakaian itu." jawabnya masih bertahan dengan keinginannya.


"Hey, siapa yang menunjukkan pakaian itu pada mommy?" tanyaku penasaran. Pasalnya aku menyimpan pakaian-pakaian Aisyah di tempat khusus dan sangat istimewa di kamarku ini. Agar ketika aku rindu aku bisa menciuminya dan merasakan aroma tubuhnya di sana.


"Kamu tidak tahu siapa aku dad? aku putrimu yang paling jago mencari rahasia, hihihi." jawab Nikita yang langsung mendapat cubitan dari tanganku.


"Ayo cepat kamu kembali ke kamarmu. Nanti melukisnya bisa dilanjutkan lagi." ujarku lagi sambil melipat kanvas dan memanggil pelayan untuk membereskan semua perlengkapan Nikita.


"Baiklah Daddy ku sayang. Aku akan kembali ke kamar bersama mommy. Dan kita akan bertemu lagi di meja makan saat makan malam, mmmuahhh." ujar Nikita kemudian mengecup pipiku. Ia lantas mengajak Aisyah keluar Tetapi aku segera menahannya.


"Daddy ingin memberi sesuatu pada mommy mu. Kakinya mungkin lelah berdiri sejak tadi. jadi biar Daddy kasih salep dan obat." ujarku kemudian menarik tangan Aisyah untuk duduk di ranjang. Nikita mengikutiku di belakang.


"Daddy biar aku saja yang mengolesi kaki mommy." timpal Nikita lagi sembari membuka gaun bagian bawah Aisyah di depan mataku. Kain itu disingkap oleh putriku dengan kasar hingga terbuka bebas dan memperlihatkan kaki hingga paha istriku yang semakin membuat aku frustasi. Aisyah menatapku dengan senyum menggodanya. Aku semakin frustasi dibuatnya. Aku memohon lewat tatapanku pada istriku itu agar ia mau menolongku menyingkirkan Nikita untuk sementara waktu agar aku bisa melepaskan dahagaku sekarang yang sudah hampir membunuhku.


"Niki sayang, kaki mommy cuma bisa sembuh kalau Daddy yang kasih obatnya." aku bernafas lega karena Aisyah sudah mengerti perasaanku.


"Tapi kenapa, mom?" tanya gadis kecilku lagi dengan wajah polosnya.


"Karena tangan Daddy sangat kuat sayang. Ia bisa memijit semuanya dengan tangannya itu." jawab Aisyah dengan senyum samar. Aku jadi ikut tersenyum dengan alasan yang sangat lucu itu. Tapi aku sih setuju saja. Tanganku memang bisa memijit dan menyentuh semua dari dirinya.


"Hum, baiklah. Aku izinkan daddy mengobati mommy tetapi aku harus melihatnya di sini." aku memukul jidatku pelan. Entah darimana sifat keras kepala anak ini. Rasanya aku ingin membenturkan kepalaku di tembok karena gemas dan kesal.


"Nikita sayang, Daddy tidak bisa bekerja kalau kamu ada di sini." ujarku sembari menatapnya dengan pandangan tajam. Tak lupa rahangku mengetat karena gemas.


"Hum, baiklah dad. Aku akan kembali ke kamarku tapi janji jangan lama-lama, okey?" ujar Nikita kemudian mengecup lembut pipi Aisyah kemudian keluar dari kamar. Aku tersenyum puas kemudian segera ku kunci pintu kamar.


🍁


---Bersambung--


Kita istirahat dulu, Othor gemas lihat Nikita nih peng jitak anak orang.


Like dan komentar dong.


Ada bungakah???


Bagi dong hehehe