Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 86 EMHD



POV Alexander Smith


Perlahan kubuka mataku dan kurasakan nyeri yang sangat di sekujur tubuhku. Aku meringis kemudian mencoba mengenali ruangan yang aku tempati sekarang.


Cahaya lampu yang begitu terang dan suasana ruangan yang serba putih serta botol cairan infus yang tergantung di atas kepalaku menandakan kalau aku benar-benar berada di rumah sakit.


Alhamdulillah, ternyata aku masih hidup dan selamat dari kecelakaan itu.


Rasa nyeri pada kepalaku membuatku menutup kembali mataku. Kemudian pendengaranku menangkap pintu ruangan yang aku tempati sekarang terbuka.


Aku tetap pada posisi tidak bergerak karena rasa nyeri dan lemas pada sekujur tubuh terutama pada kakiku kembali menyerang.


Hingga suara percakapan dua orang yang aku kenal berhenti dan menyisakan sosok perempuan yang sangat aku rindukan itu kurasakan duduk di sampingku.


Aisyah ternyata masih sangat perhatian padaku seperti pada saat aku berpura-pura sakit tadi pagi.


Ia memang selalu peduli kepada semua semua orang. Kepada siapa saja yang sedang membutuhkan pertolongan.


Kurasakan ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhku dan mulai membuka kancing bajuku, aku tahu ia pasti ingin memeriksa cedera pada dadaku yang aku pastikan sedang membiru sekarang.


Hatiku menghangat saat ia dengan lembut mencium dadaku yang sedang sangat nyeri. Ingin sekali aku meraih tangannya tetapi sekali lagi aku takut, ia akan menolak dan berteriak padaku seperti saat itu.


Biarlah aku melanjutkan saja aktingku sebagai pasien yang masih tidak sadarkan diri. Aku ingin tahu apa saja yang akan ia lakukan padaku.


Aku ingin sekali bangun dan memeluknya ketika ia dengan jujur mengakui kalau ia sangat cemburu pada perempuan-perempuan yang pernah tidur denganku.


Tanganku ingin menghapus air matanya, ketika kudengar lagi ia melanjutkan curahan hatinya yang semakin membuatku merasakan sakit seperti yang ia alami.


"Aku tidak sekuat mereka yang mau menerima begitu saja apa yang kamu lakukan di masa lalu, hiks. Karena aku hanya perempuan biasa, Alex..." aku membuka mataku dan melihatnya semakin menunduk dengan bahu bergetar menahan rasa sedih di hatinya.


"Aku akui sangat cemburu pada Paula Anderson itu. Semua orang mengatakan kalau ia perempuan baik hati dan penyabar tidak seperti aku yang sangat keras kepala. Hiks. Kamu tahu Alex? sangat susah bersaing dengan orang yang telah tiada dan mempunyai banyak kenangan baik." ia terus mengoceh tanpa menyadari kalau aku sudah lama memperhatikannya.


"Ia pasti sangat cantik kan? sampai di hatimu masih saja menyimpan namanya. Masih selalu memuji kebaikan hatinya. Kamu tidak pernah melupakannya Alex, aku tahu itu. Dan aku..." istriku itu tiba-tiba diam seribu bahasa saat mata kami bertatapan. Hanya air matanya yang terus menggenang di pipinya yang tirus.


"Aisyah..., maukah kamu memelukku?" pintaku dengan suara pelan dengan perasaan rindu. Aku ingin memberikan ia pelukan agar kesedihannya sedikit terurai atau kalau ia ingin melampiaskan kemarahannya padaku aku siap, tetapi keadaanku sangat tak memungkinkan jadi kupinta saja ia yang memelukku.


Ia hanya menatapku tak percaya. Nampak di wajahnya ekspresi kaget karena aku tiba-tiba sadar tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.


"Alex? kamu sudah sadar?" tanyanya setelah lama terdiam. Aku tersenyum kemudian mengangguk.


"Kamu mendengarkan semua apa yang aku katakan tadi?" tanyanya lagi dengan ekspresi tak terbaca. Sekali lagi aku mengangguk dengan tersenyum samar.


"Ya, Allah." ujarnya singkat kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Jadi kamu cemburu?" tanyaku dengan hati menghangat. Aku berusaha menyembunyikan senyum bahagiaku. Aisyah tidak menjawabku ia langsung berdiri dan bersiap meninggalkanku tetapi tanganku yang terbebas dari jarum infus segera menariknya agar mendekat padaku.


"Aku sakit, Aisyah. Tidak adakah belas kasihmu padaku untuk mengobatiku?" tanyaku dengan suara memohon. Aku tak mau ia meninggalkan ku lagi walaupun sedetik.


"Aku sudah mengobatimu. Kamu sebentar lagi sembuh." ujarnya sedikit ketus. Aku tahu itu hanya caranya menutupi rasa malu pada wajahnya yang ketahuan sedang mengakui perasaannya padaku.


"Aku masih mau obat yang seperti tadi. Di sini." ujarku sembari menunduk dadaku yang ia cium tadi.


"Katamu aku cuma perlu obat itu kan?" aku menatapnya dengan tatapan mata penuh kerinduan. Tiba-tiba matanya yang indah melotot.


"Jadi kamu sudah sadar waktu itu?" tanyanya dengan wajah semakin memerah malu.


"Iyya."


"Aku ingin membalasmu, tadi pagi kamu juga membiarkan aku bicara sendiri di kamarmu.


"Alex!"


"Apa?"


"Kamu menyebalkan!"


"Aisyah kemarilah. Beri aku obat sayang, seluruh badanku sangat sakit." ujarku dengan suara yang benar-benar memohon. Ia hanya menatapku lama kemudian perlahan mendekatkan tubuhnya ke arahku.


Sungguh aku ingin sekali mengecup bibirnya itu yang sudah lama kurindukan. 5 cm lagi bibir kami segera bertemu, aku sungguh tak sabar hingga kuangkat kepalaku yang masih sangat sakit.


"Daddy!" teriakan Nikita dari arah pintu membuatku kaget dan melempar kepalaku ke bawah dengan sangat keras.


"Aawwww!" teriakku dengan suara yang cukup nyaring. Omar segera datang menghampiri kami berdua.


"Alex! pelan-pelan kalau ingin bangun. Dan kamu Aisyah kenapa tidak membantu suamimu hah?" ujar Omar marah.


Aku menutup mataku merasakan pusing yang teramat sangat. Cedera di kepalaku membuatku mengerang kesakitan.


"Akan aku beri obat anti nyeri." ujar Omar kemudian lari keluar dari ruangan ini. Aisyah menatapku dengan pandangan iba dan juga lucu. Bibirnya nampak tersenyum samar dan itu membuat semua kesakitanku langsung menguap ke udara tak bersisa. Rupanya aku hanya butuh senyum dan ciumannya saja.


"Daddy, mana yang sakit?" tanya Nikita melerai pandanganku pada istriku.


"Ini sayang, kemarilah cium Daddy di sini." ujarku sambil menunjuk pipiku. Nikita segera naik ke tempat tidur yang dibantu oleh Maksim. Ia menciumi keseluruhan wajahku dengan sayang.


'Lain kali, bawa mobil dengan benar Daddy. Jangan suka mencari jalanan baru, mengerti?"


"Iyya sayang, daddy sangat mengerti." ujarku sambil tersenyum.


"Bos?" panggil Maksim kepadaku.


"Aku baik Max. Aku hanya perlu seperti ini agar nyonya Smith mau mengobatiku dengan benar." ujarku sembari melirik Aisyah yang sedang menunduk. Aku tahu ia sedang tersenyum dan mungkin ingin memukul kepalaku.


"Bagaimana kabarmu Alex?" rupanya ayah mertua ku juga datang bersama bibi Sarah.


"Alhamdulillah baik ayah. Berkat doa kalian aku selamat. Terima kasih banyak."


"Banyak istrirahat. Ingat lutut harus cuti dulu untuk beraktivitas." ujar ayah mertuaku dengan senyum samar. Aku tahu ia punya maksud lain dengan ucapannya itu.


"Iyya ayah. Aku tidak akan menggunakan lututku untuk sementara waktu tetapi akan menggunakan tanganku saja." ujarku dengan santai dan membuat ayah mertuaku tertawa terbahak-bahak.


"Ayah? apa ada yang lucu?" kulihat Aisyah bertanya karena penasaran.


"Lihat saja nanti apa yang akan dilakukan suamimu itu, hahaha." baru kali ini aku melihat ayah mertuaku bahagia seperti itu. Ia pasti punya pengalaman yang sangat lucu dengan lutut.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor, ada yang sakit lutut sekarang???


Gunakan jari anda untuk tekan like dan komentar. Udah gitu aja😅


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍