
"Jangan lupa membayar zakat, dirikan sholat, dan juga berpuasa." ujar sang Imam dari Masjid Agung Moskow itu itu dengan suara tenang dan berwibawa. Beliau telah menuntun Anna Peminov untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang disaksikan oleh jamaah sholat ashar hari itu.
"Iya pak terima kasih banyak. Semoga aku bisa Istiqomah di jalan yang diridhai oleh Allah ini." jawab Anna yang diamini oleh semua orang yang hadir. Aisyah dan Maryam saling berpandangan kemudian menarik nafas lega dengan senyum menghiasi bibir mereka berdua.
Setelah agen cantik kepercayaan Alexander Smith itu membayar zakat pada badan Amil Zakat di Masjid itu. Mereka semua melanjutkan perjalanan ke Red Square Lapangan Merah kebanggaan Rusia.
"Kita menunggu Albert di sini." ujar Aisyah kemudian melakukan foto bersama di tempat itu dan mengirimkannya kepada Alex yang masih di dalam sebuah penerbangan ke New York. Ia yakin kalau Alex pasti akan membuka foto-foto itu ketika sudah sampai di daratan dan bisa menghidupkan handphonenya kembali.
Drrrrrt
Aisyah mengangkat telepon dari Albert yang mengatakan akan tiba sekitar 30 menit lagi. Ia meminta pada Aisyah agar melanjutkan saja rencana mereka mau kemana. Yang jelasnya ia akan menemui mereka di tempat yang mereka inginkan saja.
"Bagaimana kalau kita ke Gum saja." usul Aisyah yang disetujui oleh dua perempuan cantik itu. Anna mulai melepas kerudung pasmina di kepalanya.
"Kenapa dibuka Anna?" tanya Maryam dengan pandangan mata kecewa.
"Aku mohon maaf tapi aku belum terbiasa. Aku gunakan sebagai syal aja yah? Insyaallah akan aku coba lagi nanti." ujar Anna tersenyum, kemudian ia melilitkan kain panjang itu di lehernya yang jenjang. Kedua Perempuan Smith itu balas tersenyum.
"Ia tak apa. Buat dirimu nyaman Anna." ujar Aisyah kemudian menepuk lembut lengan gadis berambut pendek itu.
"Ayo, aku ingin membeli perlengkapan bayi. Selama ini Alex selalu mengurungku di dalam kamar jadinya aku belum memiliki perlengkapan bayi sedikit pun." ujar Aisyah dengan nada menggerutu, ia kemudian menarik tangan Maryam yang tidak pernah memasuki pusat perbelanjaan sebesar itu sebelumnya.
Selama menikah dengan Maksim. Maryam juga belum pernah diajak berjalan-jalan keluar keliling Moskow seperti ini. Keperluannya sudah disediakan semua oleh sang suami.
Sama seperti Aisyah mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah besar itu dan khususnya di dalam kamar.
Sekarang mereka semua merasa keluar dari sangkar emas itu. Mereka begitu menikmati jalan-jalan sembari berbelanja semua barang yang diinginkan.
Aisyah yang memegang kartu black card dari Alex menjadi nyonya bos dan mempersilahkan kedua perempuan itu memilih dan membeli semua barang yang mereka inginkan. Hingga tangan mereka sudah penuh dengan tas-tas belanjaan. Beruntunglah karena ada dua bodyguard yang selalu mengikuti mereka kemanapun. Mereka berdua berakhir dijadikan sebagai tukang bawa barang belanjaan.
Aisyah begitu kagum dengan pernak-pernik yang berhubungan dengan baby ketika ia sudah sampai di sebuah toko yang khusus menjual semua perlengkapan bayi dengan lengkap dan berkualitas bagus.
"Anna ambil gambarku ya." ujar Aisyah sembari memberikan kameranya kepada Anna. Ia ingin mengirimkan semua gambar-gambarnya yang sedang jalan-jalan dan berbelanja kepada Alex sang suami. Sebagai bentuk bukti pertanggungjawaban kalau Alex menanyakan kegiatannya seharian ini.
"Ini lucu sekali Aisyah." ujar Maryam saat menyentuh sepatu bayi mungil yang nampak sangat cantik dan imut. Mata Maryam berbinar cerah.
"Kita ambil dua. Satu untukku dan satu untukmu." ujar Aisyah dan meletakkannya di dalam troli yang sedang mereka dorong berdua.
"Hey untuk apa? aku kan sedang tidak hamil." ujar Maryam penuh tanya.
"Aku yakin sebentar lagi kamu juga akan menyusul menjadi ibu sepertiku. Kalian selalu berusaha kan?" ujar Aisyah dengan senyum di wajahnya. Istri dari Maksim itu membalas senyum Aisyah dengan wajah gembira.
"Iya Aamiin, aku harap bisa memberi putra dan putri yang lucu buat Maksim. Ia seringkali berbicara tentang bayi padaku." ujar Maryam dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Nah itu, ambil sepatu lucu itu supaya jadi pemancing agar kamu cepat hamil."
"Intinya kamu harus senang dan jangan sampai stress, okey?" ujar Aisyah sembari mengedipkan sebelah matanya. Sekali lagi Maryam yang lembut itu ingin tertawa melihat tingkah Aisyah, ibu hamil yang sangat lucu itu.
"Aku akan menghubungi kak Omar agar ia juga bisa bergabung bersama kita di sini. Kita akan merayakan kebahagiaan bersama Anna. Kita cari makanan yang enak-enak, bagaimana?"
"Siap, setuju." jawab Maryam dan Anna kompak. Setelah mereka semua selesai menghabiskan banyak uang Alex mereka kembali ke Red Square untuk bertemu Albert dan Omar yang akan tiba sebentar lagi di tempat itu.
"Ini sudah sore sekali, kenapa Albert dan Kak Omar lama sekali?" gumam Aisyah dengan wajah khawatir. Sekali lagi ia menelpon Albert tetapi nomor itu sedang diluar jangkauan.
Mereka bertahan masih menunggu di trotoar yang sangat luas itu. Mereka mencari tempat duduk agar mereka tidak terlalu lelah menunggu.
"Hai Alex?!" sapa Aisyah ketika memeriksa handphonenya dan melihat ada panggilan video dari suaminya. Rupanya Alex baru saja sampai di New York.
"Kamu dimana sayang?" tanya Alex sembari memperhatikan suasana di belakang Aisyah.
"Kami masih di Red Square menunggu Kak Omar dan juga Albert." jawab Aisyah dan mengarahkan kamera kepada Anna yang sedang sibuk memakan es krim dan kepada Maryam yang juga sedang berbicara dengan suaminya, Maksim.
"Cepatlah kembali. Jangan sampai kalian terlalu lama di luar sana." ujar Alex dengan nada khawatir.
"Iya Alex, kami hanya akan mencari tempat makan kemudian pulang."
"Nah itu kak Omar sudah datang. Aku tutup teleponnya ya, love you." ujar Aisyah sambil mengirimkan ciuman jauh untuk suaminya.
"Love you too." balas Alex kemudian mereka berdua menutup pembicaraan itu.
Sementara itu di sebuah bangunan yang berlokasi di Red Square itu tepatnya di State Historical Museum sedang terjadi sebuah percakapan melalui alat khusus di telinga seorang sniper handal.
"Target sedang berkumpul di titik 0." ujar si sniper yang sedang mengarahkan moncong senapannya ke satu titik dimana Aisyah, Maryam, dan Anna berada.
"Bagus! kerjakan tugasmu dengan baik. Aku mau mendengar kabar duka dari keluarga Alexander Smith hari ini juga."
"Siap bos!" ujar si sniper dengan seringaiannya yang menyeramkan.
Albert yang baru tiba dan sedang memarkirkan mobilnya di sekitar taman tempat perempuan-perempuan cantik itu berada tak sengaja melihat ada hal yang mencurigakan di kaca spionnya. Ia segera menelpon Anna dengan kode khusus pertanda bahaya.
"Anna lindungi nyonya muda. Ada bahaya di arah jam 9!" ia segera mengeluarkan revolver dan segera memeriksa kesediaan pelurunya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍