Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 148 EMHD



Nikita dan Qiya baru saja masuk ke kamarnya masing-masing setelah bermain sepanjang sore itu. Mereka sudah nampak lelah dan juga mengantuk.


"Tante, Mama dimana? kok adek Zydan boboknya sama tante Sarah?" tanya Qiya sebelum masuk ke dalam selimutnya. Ia masih sempat melihat Sarah sang tante menidurkan Zydan dalam pelukannya, kemudian akhirnya gadis itu tertidur sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Ternyata kalau lelah kamu bisa ya tidak berisik," ujar Sarah kemudian menyimpan Baby Zydan dalan box bayinya yang juga sudah tertidur pulas.


"Semoga suaminya kak Reisya bisa pulang ya Dam? pasti gak enak banget deh malam pengantin malah berakhir di Kantor Polisi." ujar Sarah sembari duduk di sebuah sofa di dalam kamar sang kakak.


"Iya, gak enak dan sakit banget pastinya," jawab Adam sembari tersenyum samar. Ia jadi ingat malam pertamanya dengan Sarah waktu itu yang berakhir dengan sangat tragis karena sang istri malah kedatangan tamu bulanan di saat ia sedang dipuncak hasrat.


"Ngapain senyum-senyum begitu?" tanya Sarah dengan wajah curiga. Adam tidak menjawab. Ia hanya malu saja sama para readers karena ikut nyempil di lapak tuan Alexander Smith. Dan malah berharap dapat jatah malam ini.


"Awww," teriak Adam yang tiba-tiba dapat timpukan bantal dari sang istri.


"Mikir yang aneh-aneh ya?"


"Gak kok, tapi kalau kamu mau ayok deh, bocil-bocil itu kan sudah pada tidur.


"Aawwww." sekali lagi Sarah memukul bahu suami itu dengan bantal yang lain.


"Jangan ribut Dam, Ssst!"


Sementara itu di kamar Aisyah, Nikita juga sudah mulai tertidur begitupun dengan Baby Danil.


"Maryam, tidurlah di sini. Biar Alex dan Maksim tidur di kamar kalian."


"Iya Aisyah, aku juga sudah mengantuk sekali. Mereka belum memberi kabar ya?" Maryam melihat penanda waktu yang ada di dinding kamar itu. Ia pun menguap.


Tak terasa waktu sudah sangat larut sedangkan Semua orang yang berangkat ke Kantor Polisi belum juga kembali.


"Aku tidur ya," ujar Maryam dan hanya beberapa menit kemudian perempuan hamil itu benar-benar sudah tertidur dengan nyenyak.


Tak lama kemudian pintu kamar itu diketuk dari luar.


"Alex? bagaimana Albert?" tanya Aisyah dengan perasaan campur aduk.


"Dia sudah pulang, sekarang sudah kembali ke kamarnya." jawab Alex dengan senyum di wajahnya. Dibelakangnya tampak Maksim dengan wajah yang sama. Gembira ditengah rasa lelah yang mereka semua rasakan.


"Dimana Maryam?" tanya Maksim sembari melongokkan kepalanya ke dalam kamar mencari sang istri tercinta.


"Maryam sudah tidur Max, biarkan ia tidur di sini. Alex bisa tidur bersamamu." jawab Aisyah dengan senyum diwajahnya. Alex dan Maksim berpandangan. Mereka tidak ada yang mau dengan pengaturan Aisyah itu.


"Bisa aku bawa Maryam ke Kamarku saja?" tanya Maksim hati-hati.


"Tapi istrimu itu sudah tidur Max, kamu tidak kasihan padanya?" Pandangan Aisyah berubah tajam pada dua pria dihadapannya yang sepertinya tidak mau mendengarkannya.


"Aisyah, aku ingin tidur di sini bersamamu sayang, boleh ya?" bujuk Alex dengan wajah memohon. Ia begitu ingin mengunjungi istrinya ini setelah sekian lama mereka berada di kota ini.


Begitupun dengan Maksim ia juga sudah mempunyai rencana yang sama pada istrinya itu. Mereka harus merayakan malam pertama Albert bersama-sama.


"Baiklah, tapi bangunkan Maryam dengan hati-hati, Max." ujar Aisyah dengan pandangan khawatir pada perempuan yang sedang hamil itu. Maksim mengangguk dan segera mengangkat tubuh dengan berat ganda itu kembali ke kamarnya sendiri.


"Aku rindu padamu Aisyah sayang," ujar Alex sembari memeluk tubuh istrinya dengan posesif setelah kepergian Maksim dan juga Maryam.


"Hey, ceritakan padaku bagaimana dengan Albert, saya..." ucapan Aisyah menghilang di udara dan digantikan dengan dessahan dua insan yang sedang saling memagut itu.


"Aku juga Alex," jawab Aisyah dengan tatapan berkabut pada mata elang sang suami.


Sementara itu di kamar pengantin baru, Albert dan juga Reisya baru saja dikunjungi oleh ibu dan ayahnya yang sangat khawatir dengan kejadian yang menimpa menantu barunya tersebut.


Mereka bersyukur karena Albert akhirnya pulang ke Resort itu dan berkumpul kembali dengan istrinya.


"Al, kamu belum makan seharian ini, aku ambilkan ya?" tanya Reisya setelah kepergian ibu dan ayahnya dari kamar itu.


"Aku sudah kenyang, Reisya." jawab Albert sembari menatap dalam sang istri tercinta yang untuk kedua kalinya dilihatnya membuka hijab yang ia gunakan.


"Memangnya kamu makan apa?" tanya Reisya dengan wajah canggung karena suaminya terus menatapnya dengan tatapan lain dari yang lain.


"Duduklah disini Reisya," pinta Albert sembari menepuk pahanya. Ia ingin perempuan cantik itu duduk di pangkuannya. Reisya menurut ia pun duduk di sana sembari menaruh tangannya di bahu sang suami.


"Kamu tahu? polisi tadi ternyata semuanya youtuber,"


"Apa?" tanya Reisya dengan wajah tak percaya. Albert tersenyum dan melanjutkan,


"Mereka memaksa aku dan Alex serta Maksim memakan Makanan yang katanya Martabak asin itu dan menjadikannya konten, maka dariitulah kami bertiga jadi sangat kenyang."


"Astaga, kok bisa sih seperti itu, tapi kamu suka Al?"


"Hem, suka juga. Rasanya enak. Tapi sekarang aku ingin mencoba martabak manismu sayang," ujar Albert sembari mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Ia meraih bibir yang sejak tadi sangat menggoda itu.


"Melumaatnya pelan dan lembut kemudian tangannya segera menekan tengkuk istrinya agar ciumannya bisa semakin dalam. Albert merasakan dirinya sungguh rakus sekarang. Tangannya yang satu bergerak ke arah paha sang istri. Ia mengelusnya lama di sana sampai ke pangkal paha Reisya.


Perempuan itu merasakan getaran dahsyat pada tubuhnya. Ia menggeliat pelan di atas pangkuan suaminya.


"Al,.. aaaaakh," dessah Reisya ketika tangan sang suami sudah bermain di daerah sensitifnya. Ia merasakan ribuan rasa yang menyerangnya. Ia bagaikan terbang ke awang-awang dengan sangat indah.


"Reisya, aku mencintaimu sayang, aku tak akan rela ada yang menyentuhmu, kamu milikku Reisya," racau Albert kemudian kembali meraup bibir sang istri dengan agak kasar.


"Aaaaaaaa Al, aku, aaaakh tidak kuat Al," bisik Reisya tertahan. Ia benar-benar merasakan tubuhnya bergetar hebat. permainan jari suaminya dibawah sana membuatnya lemas dan meleleh. Sedangkan dibawahnya ia merasakan bagian tubuh suaminya sudah sangat mengeras.


"Aku akan membuatmu memohon Reisya," bisik Albert kemudian menyerang istrinya dengan kecupan dileher dan memberi banyak tanda di sana


"Aaaa, Al, plis..."


"Tidak semudah itu sayang," Albert mengangkat tubuh istrinya yang sudah lemas itu ke atas ranjang dan mulai membuka pakaiannya satu-satu begitupun istrinya itu. Hingga mereka berdua sudah tampak polos tanpa penghalang sedikitpun.


"Al, kamu membawa rudal dari Rusia ke sini?" tanya Reisya dengan semburat merah diwajahnya. Ada rasa khawatir dengan ukurannya yang sangat besar itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Bentar kita lanjut aksi si rudal dari Rusia itu ya???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


"