
Empat buah mobil mewah milik Alexander Smith memasuki halaman luas rumahnya diwaktu yang sangat larut itu.
Mereka tiba pas jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Puluhan pelayan berbaris rapih dari gerbang depan sampai pintu utama dengan seragam kebesaran mereka.
Ada yang sudah terkantuk-kantuk menunggu kedatangan keluarga besar Smith yang baru saja tiba dari bepergian lama di negara yang jauh selama sebulan itu.
"Oh my God, apa ini upacara penyambutan untukku Kak Alex?" tanya Albert dengan penuh kekaguman pada prosesi penyambutan yang sangat mewah itu.
Albert yang baru turun dari mobil bersama istrinya benar-benar merasa tersanjung dan terpesona dengan keadaan rumah yang begitu indah dan meriah.
Begitupun bagi anggota keluarga yang lainnnya, mereka seperti orang penting dan istimewa yang disambut sedemikian rupa ketika tiba di rumah sendiri.
Alex hanya tersenyum samar dengan ekspresi semua orang. Ia kemudian meminta Nikita turun dari mobil setelah menutup mata gadis kecil itu dengan kain tipis dan panjang.
"Daddy, apakah kamu membuat kejutan untukku?" tanya Nikita dengan dada berdebar penasaran.
"Tentu saja sayang, tapi tunggu dulu ya? jangan dibuka penutup matanya," jawab Alex sembari mengangkat tubuh gadis kecilnya agar berdiri pas di karpet merah yang terhampar indah di sepanjang jalan dari pintu mobil sampai ke pintu utama rumah besar dan mewah itu.
"Daddy aku buka ya?" tanya Nikita setelah ia merasa lelah berdiri dan sang Daddy malah tak mengizinkannya untuk membuka kain penutup mata itu.
Seluruh rombongan keluarga yang baru tiba bersamanya juga sudah merasa aneh tetapi tetap merasa senang dengan aneka dekorasi dan juga alunan musik lembut yang mengalun indah di halaman rumah besar itu.
Karena mereka belum juga dipersilahkan masuk ke rumah padahal ini sudah sangat larut dan sebentar lagi pagi datang menyapa, akhirnya mereka duduk di kursi-kursi yang sudah dihias cantik dengan hidangan makanan dan minuman yang beraneka ragam di atas meja.
"Alex ada acara apa ini?" tanya Maksim sembari menatap Daddy dari Nikita itu dengan penuh tanda tanya di kepalanya, istrinya sudah menguap berkali-kali karena sudah sangat lelah.
Sedangkan mereka tidak diperbolehkan masuk oleh Alex.
Kepala rumah tangga itu mulai merasa gelisah dan tak tenang. Ia memandang satu mobil mewahnya yang belum juga menurunkan Aisyah dan Danil.
"Vincent! Bawa nyonya dan tuan muda kemari!" titahnya pada sang sopir yang belum juga membuka pintu mobil dan menurunkan nyonya besar Smith.
"Saya tidak membawa nyonya besar dan juga tuan muda Danil, tuan, saya kira mereka berdua ikut bersama di mobil tuan."
Bugh
Plak
"Brengsek kamu! tidak becus bekerja!" Alex mencengkram kerah baju Vincent setelah memberinya pukulan bertubi-tubi hingga pria itu hampir saja mati.
Untungnya Maksim langsung menarik tangan Alex agar menghentikan penghakimannya pada pria muda itu.
"Hentikan Alex, kamu bisa membunuhnya!"
Alex langsung melempar tubuh lemas Vincent kemudian mengambil kunci mobilnya.
Dengan berlari, ia segera naik ke salah satu mobil yang berjejer di sana dan menghidupkan mesinnya. Ia tahu dimana harus mencari istrinya itu sekarang.
"Aku ikut!" seru Maksim setelah mencium bibir Maryam sekilas. Ia harus menemani pria itu untuk mencari Aisyah dan Baby Danil.
Seketika wajah senang semua orang berubah menjadi ketegangan yang teramat sangat.
Omar langsung meraih handphonenya dan menghubungi nomor adik perempuannya itu tetapi ternyata tidak aktif. Setiap dihubungi selalu berada di luar jangkauan.
"Daddy!" teriak Nikita masih dengan mata tertutup. Anna dan Maryam langsung menghampiri gadis kecil itu yang mulai merasakan ketidakberesan yang terjadi.
"Onty dimana Daddy?" tanya Nikita setelah kain penutup matanya dibuka oleh Anna. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman rumahnya itu.
"Daddy ada keperluan sebentar, sekarang kita masuk ya, beristirahat. Sebentar lagi pagi sayang," bujuk Maryam dengan hati tercekat sedih. Tetapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya agar Nikita baik-baik saja.
Boom!!!
Semua orang terlonjak kaget dengan suara letusan balon saat pintu utama terbuka.
Di depan pintu tepatnya di dinding bertuliskan,
"Happy Birthday Nikita and Mommy Aisyah, love you so much"
Nikita tersenyum lebar dan memandang semua orang yang sedang memasang wajah tak terbaca, antara senang, sedih, dan juga khawatir.
Rupanya Alex sudah mempersiapkan kejutan yang sangat indah ini untuk Aisyah dan juga Nikita yang mempunyai hari lahir yang bersamaan.
"Onty, dimana mommy dan adek Danil?" tanya Nikita setelah menyaksikan semua orang tak ada yang bereaksi dengan kejutan yang sangat tak terduga ini.
Maryam langsung meraih tubuh Nikita dan menangis. Ia sungguh tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya sekarang.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu dan mommy panjang umur," ujar Maryam sembari menghapus airmatanya.
"Dimana mommy onty? Daddy dan aku sudah merencanakan pesta kejutan ini untuknya," Maryam semakin menangis tiada henti hingga Anna datang menenangkannya.
"Maryam, ajak Nikita untuk beristirahat dikamarmu,"
"Onty? ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Nikita dengan wajah polosnya. Ia kembali memandang berkeliling menatap semua orang satu persatu yang sedang mematung tetapi nampak bersedih.
"Tidak sayang, mari kita berdoa supaya mommy Aisyah panjang umur dan sehat selalu serta bisa segera berkumpul dengan kita disini." ujar Maryam dengan berusaha berprasangka baik meskipun hati kecilnya menolak untuk itu.
Sementara itu, Alex dengan kecepatan penuh menembus jalan yang sudah sangat sepi itu dengan ekspresi tak terbaca. Dalam hati ia terus mengutuki dirinya yang sudah abai pada istri dan putranya.
"Alex, pelan-pelan. Jangan sampai kita celaka." seru Maksim dengan wajah tegang, pasalnya laju mobil ini seakan terbang di Udara.
Ciiiiiit!
Alex menghentikan laju kendaraan roda empat itu di depan terminal kedatangan Bandar Udara Internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin. Ia langsung berlari ke dalam tempat yang sudah nampak sepi itu.
"Permisi, Saya Alexander Smith, bisakah saya bertemu dengan otoritas bandara?"
"Maaf, anda siapa?"
"Saya Alexander Smith, kurang jelas?!" seru Alex emosi sembari memperlihatkan kartu identitasnya pada petugas bandara itu.
"Oh, anda orang yang sedari tadi dipanggil-panggil oleh bagian informasi, apakah anda merasa melupakan sesuatu?"
"Ya betul, Aku melupakan istri dan putra saya di sini, dan sekarang saya ingin mencarinya."
"Yang kami temukan bukan orang tapi benda tuan Smith."
"Apa maksudmu? benda apa? aku bilang aku mencari istriku, persetan dengan benda itu!" teriak Alex tak sabar.
"Tenang tuan, kami hanya akan memberikan benda itu kepada Anda."
"Dan ya, mengenai orang yang anda cari, itu diluar tanggung jawab kami tuan Smith. Bandara ini sudah kosong oleh penumpang sejak penerbangan terakhir tadi tiba." jelas petugas itu dan melangkah ke bagian informasi dan selanjutnya memberikan sebuah benda yang ia kenali sebagai notebook milik Aisyah, sang istri kepadanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.
Othor masih mau bunga setaman dong, Vote juga boleh, hehehehe.
Masih ada gak yang mau mengutuk Alex??? sok atuh dipersilahkan.