Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 233 EMHD



William Anderson tersenyum lebar ketika menatap kertas putih yang bertuliskan laporan hasil tes DNA antara dirinya dan juga Nikita Smith 98% menunjukkan kalau struktur genetik pada tubuh gadis dari Moskow itu sama dengan struktur genetik pada dirinya.


"Siapkan perjalanan kita ke Moskow, Andreas," titah William Anderson kepada asistennya itu.


"Baik tuan," jawab pria paruh baya itu dengan patuh. Ia pun mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan mereka.


"Apa sebaiknya kakek lebih banyak beristirahat sekarang ini?" tanya Crisstoffer saat melihat pria tua itu mulai ingin turun dari tempat tidur Rumah sakit dalam keadaan yang kurang seimbang. Apalagi ia juga baru dengar dari Andreas kalau pria itu sudah dikhitan bersama sang asisten.


"Aku baru bisa beristirahat jika Nikita ada disampingku dan menjagaku setiap saat seperti beberapa hari yang lalu." jawab William dengan wajah gembira. Nampak sekali kalau ia mempunyai semangat baru dalam hidupnya. Pria tua itu berjalan dengan menggunakan tongkatnya ke arah sofa sembari menunggu asistennya bersiap-siap.


"Kamu tidak ingin ikut Criss? Dan membiarkan Kakekmu yang sudah tua ini pergi sendiri tanpa pengawalan?" sindir Anderson senior dengan tatapan tajam pada cucunya itu.


"Tentu kek, aku akan ikut tapi jangan paksa aku lagi untuk menculik gadis itu." jawab Crisstoffer sembari menarik nafas panjang. Itu berarti ia akan meninggalkan lagi beberapa pekerjaannya di sini dan mengikuti kemauan sang kakek.


"Hey anak bodoh, Nikita akan datang sendiri padaku, jadi kamu tidak perlu repot-repot menculiknya."


"Ya ya ya " jawab pria itu sembari mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian tersenyum kecut. Ia berharap tidak mendapatkan masalah lagi dengan keluarga Smith itu.


"Kalau begitu bersiaplah. Karena aku tak sabar bertemu dengan cucuku Nikita," seru William lagi dengan tangan siap memukul kaki cucu laki-lakinya itu dengan menggunakan tongkatnya. Crisstoffer Anderson langsung melompat untuk menghindar.


Ia tahu hal ini yang akan terjadi. Ia akan diabaikan oleh kakeknya yang akan lebih menyayangi gadis itu dari pada dirinya sendiri. Dan untuk kesekian kalinya ia merasa sebagai seorang cucu tiri.


🍁


Bandara Internasional Sheremetyevo Alexander S.Pushin Moskow.


"Aku pernah hidup di negara ini Criss selama bertahun-tahun. Membesarkan ayahmu dan juga bibimu. Dan sekarang aku kembali untuk mencarinya." Crisstoffer hanya diam menyimak pria tua itu menceritakan kisah masa lalunya di kota itu.


"Lihat! Begitu banyak perubahan yang terjadi sejak kepergianku dari kota ini. Negara ini lebih maju diawah kepemimpinan Puttin dan yah aku berharap mereka berhenti membuat masalah dengan negara tentangga." ujar William lagi sembari memandang kota Moskow dengan segala kenangan-kenangannya di kota ini puluhan tahun yang lalu.


Crisstoffer Anderson benar-benar hanya menjadi pendengar setia dari pembicaraan Kakeknya dengan Andreas sang asisten. Ia berkonsentrasi membawa mobilnya ke arah apartemen yang selama ini ia tinggali setiap berkunjung ke kota ini.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di apartemen mewah itu.


"Kakek beristirahatlah bersama paman Andreas karena aku akan ke Universitas terlebih dahulu." ujar Crisstoffer dengan membawa Kakeknya untuk berbaring di dalam kamar tamu yang ada di apartemen itu.


"Ah ya kamu pergilah, dan jika kamu bertemu dengan Nikita, sampaikan salamku padanya." jawab William Anderson sembari membaringkan dirinya diatas kasur yang empuk itu.


"Iya kakek, akan aku katakan kalau pria tua ini sangat merindukannya." jawab Crisstoffer kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


"Hahahaha, kamu sepertinya tidak senang dengan hal ini, Criss," tawa William berniat menggoda cucunya karena ia tahu pria muda itu sebenarnya tertarik pada sepupunya sendiri.


"Iya kek, aku sangat tidak senang." gumam Crisstoffer sembari menenangkan degupan jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia resah kalau ia akan bertemu dengan gadis itu lagi. Ia sungguh tak tahu apa yang ia rasakan sekarang ini.


Fakultas Kedokteran, Moscow State University of Medicine and Dentistry (MSUMD).


Dengan langkah cepat Crisstoffer Anderson memasuki ruang perkuliahan mahasiswa untuk mengajar.


Selama beberapa hari belakangan karena ia sedang menyembunyikan diri setelah menculik Nikita, ia memberikan perkuliahan lewat daring pada mahasiswanya. Dan sekarang ia hadir secara tatap muka karena gadis itu lagi.


"Pagi pak Anderson." jawab para mahasiswa dengan semangat di pagi hari itu. Crisstoffer mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan belajar untuk memeriksa kehadiran semua mahasiswa.Tetapi hatinya langsung kecewa karena Nikita tidak berada disana.


"Apa ada kabar yang kalian dapatkan kenapa Nikita dan juga Elif tidak hadir di kelas hari ini?"


"Kami juga tidak tahu pak Anderson. Kemungkinan mereka sedang sakit karena sudah lama tidak ikut belajar," jawab seseorang yang selama ini sering bersama dengan kedua gadis itu.


"Oh ya, kalau begitu baiklah, kita akan lanjutkan materi kita hari ini." ujar Crisstoffer dengan perasaan tak nyaman. Entah kenapa ia sangat merindukan gadis itu saat ini.


🍁


Rakhata, Dagestan.


Sementara itu di rumah kediaman almarhum Mohammad Yusuf, semua anggota keluarga Smith dan Omar sudah bersiap untuk kembali ke Moskow. Beberapa perlengkapan mereka berupa tas-tas yang berisi pakaian dimasukkan ke dalam dua mobil yang akan membawa mereka Ke Machakala yang kemudian akan bertolak ke Moskow dengan pesawat jet pribadi mereka.


"Nikita, nenek lupa memberimu ini padamu," ujar Sarah sembari memberikan sebuah benda yang terbungkus dengan sangat rapih dan juga cantik kepada gadis itu.


"Apa ini nek Sarah?" tanya Nikita penasaran. Ia sampai menimang-nimang benda itu dengan maksud ingin menebak apa isinya.


"Itu adalah kirab karangan Ibnu Sina yang sengaja diberikan oleh kakek Yusuf kepadamu sayang,"


jawab Sarah dengan senyum diwajahnya.


"Oh terimakasih banyak nenek. Dan semoga kakek Yusuf dilapangkan kuburnya begitupun segala kesalahannya diampuni oleh Allah SWT."


"Aamiin, terimakasih banyak sayang, dan kamu belajar yang rajin supaya bisa seperti uncle Omar," ujar Sarah lagi kemudian mencium pipi Nikita dengan perasaan sayang.


Semua orang pun datang berpamitan pada perempuan tua itu.


"Bibi, kamu harus jaga kesehatan ya, dan seringlah memberikan kami kabar kalau kamu sedang tidak baik-baik saja karena pasti kami akan datang," ujar Aisyah sembari menyusut airmatanya.


Perempuan cantik itu sungguh tak rela meninggalkan rumah itu tetapi apa boleh buat pekerjaannya di Moskow membuatnya harus lekas kembali.


"Ikutlah bersama kami bibi," ajak Aisyah saat melihat perempuan tua itu nampak sangat tak rela membiarkan semua orang kembali ke Moskow.


"Aku tidak bisa sayang, rumah ini siapa yang akan menjaga kalau bibi juga pergi? kalian cukup datang menjenguk bibi dan juga bawa anak-anakmu kemari itu sudah jadi hiburan untukku," Sarah menyusut airmatanya lagi.


"Oh bibi, aku sangat mencintaimu." Aisyah memeluk Sarah dengan perasaan yang sangat sedih.


"Pergilah atau aku tak kuat berlama-lama seperti ini."


Mereka semua pun pergi dari sana dengan perasaan sangat sedih. Mereka berjanji disetiap liburan, mereka akan selalu datang ke rumah itu.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan berikan komentar dong supaya othor merasa punya teman untuk menghalu hehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍