
Albert membersihkan dirinya di kamar mandi yang ada di kamar tamu sebelum memasuki kamarnya, dimana ada Reisya sang istri.
Peristiwa beberapa jam yang lalu membuatnya sedikit khawatir mengingat istrinya sedang hamil muda saat ini.
Ketakutan akan kondisi janin dalam tubuh istrinya membuatnya tidak ingin menemui Reisya selama beberapa saat.
Bayangan akan tangannya yang sudah melenyapkan nyawa lagi setelah sekian lama membuatnya merinding.
Sejak kembali dari rumah Sakit setelah mengetahui Anna sudah berhasil melahirkan 2 anak sekaligus, ia hanya berdiam diri di dalam kamar tamu.
Membersihkan diri dengan mandi dan bersuci. Disepertiga malam itu ia bersujud panjang untuk meminta ampun kepada Tuhan karena telah melakukan dosa besar lagi.
Lama ia tergugu dalam ketakutan. Sampai ia mengunjungi Paman Yusuf untuk menceritakan masalahnya agar beban dihatinya lekas hilang.
"Jangan cuma mengingat kesalahanmu saja nak, seolah-olah nikmat dan karunia Allah begitu sempit tetapi ingatlah juga kebaikanmu yang lain agar kamu bersyukur." ujar Mohammad Yusuf memberikan penghiburan.
"Sungguh Rahmat Allah sangat luas meliputi alam dan seluruh isinya."
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, maka perbaharuilah terus imannu sampai kelak bertemu dengan sang pencipta."
"Iya paman, terimakasih banyak atas nasehatnya, aku akan menemui Reisya dulu. Aku merindukannya,"
"Ya, segeralah temui istrimu, ia juga pasti sangat merindukanmu," Albert pun pergi dari sana dengan hati yang lapang berharap ia terhindar dari lagi dari hal-hal yang berbau kekerasan.
Perlahan Albert membuka pintu kamarnya dan menemukan istrinya itu sedang tertidur.
Ada senyum bahagia diwajahnya melihat Reisya setelah beberapa hari tidak pulang.
"Reisya, aku pulang sayangku," bisiknya pelan dikuping sang istri. Ia meniup kuping perempuan itu dengan lembut dan memperbaiki anak-anak rambutnya yang berada diwajah Reisya.
Perlahan ia menyentuh bibir Reisya dengan bibirnya sangat lembut, melumaatnya pelan dengan tangan bergerak kearah dada sang istri yang nampak lebih berisi dari biasanya.
"Reisya, bangun sayang aku merindukanmu, sangat," bisik Albert ditengah-tengah cumbuannya. Perempuan itu melenguh pelan kemudian membuka matanya.
Lama ia memandang wajah tampan suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya. Hingga deru nafas sang suami begitu terasa menerpa kulit wajahnya sendiri.
"Al, kamu pulang? maafkan aku ya," ujar Reisya setelah beberapa menit, setelah nyawanya berhasil ia kumpulkan.
Kedua telapak tangannya membingkai wajah sang suami yang sudah berhari-hari pergi meninggalkannya tanpa pesan.
"Aku yang salah sayang, harusnya aku bersabar menghadapimu yang sedang ngidam. Itukan bukan keinginanmu tetapi pengaruh hormon kehamilan yang membuatmu seperti itu."
"Reisya, aku merindukanmu sayang," lanjut Albert kemudian melabuhkan kembali bibirnya keatas daging kenyal dan lembut itu.
Tangannya kembali bergerak mengelus lembut lengan sang istri. Begitupun dengan Reisya, tangan perempuan itu meremas tengkuk suaminya dan menekannya semakin dalam ke arah dirinya.
Rasa rindu mereka yang meluap-luap itu membuat mereka segera melakukan sebuah penyatuan yang sudah lama tertahan selama ini.
"Reisya, kamu semakin sempit sayang, aaargh," racau Albert saat inti dari tubuhnya merasakan pijatan dan hisapan lembut yang membuatnya berada diatas ketinggian puncak hasrat.
Udara kamar itu terasa semakin panas dengan kegiatan yang cukup menguras peluh dan tenaga yang mereka lakukan pagi itu.
Hingga mereka tumbang dengan sama-sama meneriakkan nama mereka berdua.
"Terimakasih Reisya, kamu lezat sekali sayang," Reisya hanya tersenyum kemudian mengecup lembut bibir suaminya.
"Aku belum sholat subuh, Al, aku mandi dulu ya,"
"Hem," jawab Albert singkat kemudian jatuh tertidur.
Semalaman berada dalam kejadian menegangkan bersama anggota keluarga Smith yang lain dan juga Omar membuatnya belum menyentuh bantal sedikitpun.
Tak lama kemudian dengkuran halus pun terdengar menandakan ia sudah lelap dalam mimpi-mimpi indahnya.
🍁
Rombongan Mohammad Yusuf dan juga Bibi Sarah, beserta Aisyah sudah sampai di Rumah Sakit tempat Anna melahirkan bayi-bayi kembarnya.
Alex tidak ikut karena sedang menunggui baby Danil yang belum mendapatkan izin untuk memasuki Rumah Sakit.
"Assalamualaikum putriku," sapa Mohammad Yusuf pada Anna yang sedang berjalan-jalan disekitar tempat tidurnya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi ayah, mari silahkan duduk bibi dan Aisyah,"
"Hey, apakah kamu baik-baik saja Anna, kenapa kamu turun dari ranjangmu nak?" tanya Sarah dengan wajah khawatir. Pasalnya istri dari Omar itu baru di operasi dan harus banyak beristirahat.
"Alhamdulillah, aku baik bibi, semua pasien yang sudah dioperasi dianjurkan untuk bangun dan berjalan sesaat setelah tindakan itu."
"Oh begitu ya, syukurlah nak kalau kamu sehat-sehat saja,"
"Iya Bibi,"
"MasyaAllah bayinya tampan dan cantik Anna," ujar Aisyah dengan wajah penuh kegembiraan melihat kedua bayi yang sedang tertidur itu.
"Kakakmu kan sangat tampan jadi wajarlah kalau mereka lahir tampan dan cantik," jawab Anna tersenyum.
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung tertawa. Apalagi Omar baru muncul dari kamar mandi. Rupanya dokter muda pimpinan rumah sakit itu baru saja selesai mandi.
"Kenapa kalian tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Omar yang sudah nampak segar dan juga sangat tampan.
"Putramu sangat tampan dan mengalahkanmu," ujar Aisyah tersenyum.
"Tentu saja karena dia adalah perpaduan bibit unggul dariku yang tampan dan juga dari istriku yang cantik."
"Hey, kalau bicara jangan terlalu angkuh, karena hanya Allah berhak untuk angkuh," tegur Mohammad Yusuf pada putranya itu.
"Eh Ayah maafkan aku, itu tadi cuma bercanda, hehehe," ujar Omar dengan senyum cengengesan kemudian mendatangi ayahnya itu dan memeluknya.
"Apa ayah sehat sampai bisa berada di Moskow?"
"Seperti yang kamu lihat nak, aku ingin melihat cucu-cucuku yang baru lahir,"
"Kamu hebat nak karena kudengar kamu sendiri yang membantu Anna melahirkan."
"Ah jangan memujiku ayah, itu adalah kewajibanku pada Anna, berani membuatnya hamil, aku juga harus bisa membantunya melahirkan,"
"Astagfirullah Omar, kamu tidak malu mengatakan itu?" ujar Anna sembari memandang suaminya dengan pandangan mata tajam.
Mohammad Yusuf dan Aisyah langsung tertawa dibuatnya.
"Oeeeekk Oeeek.." lengkingan suara kedua bayi itu meredakan tawa mereka.
"Sepertinya mereka lapar Anna, apakah kamu sudah punya ASI nak?" tanya Sarah sembari meraih baby boy kedalam gendongannya sedangkan Aisyah meraih yang lainnya.
Anna tidak menjawab, ia tidak tahu apakah sudah ada produksi ASI pada tubuhnya atau belum.
"Kita coba ya, kamu naik ke tempat tidur dulu sayang supaya kamu nyaman," ujar Omar dan kembali membantu Anna untuk mengatur posisi yang baik untuk menyusui kedua bayinya.
"Wah bayimu tertidur lagi Anna," ujar Sarah yang diangguki oleh Aisyah.
"Bagaimana ini kak?"
"Kalau begitu kembalikan mereka ke dalam boxnya, biarkan Anna makan dan minum susu terlebih dahulu supaya ia ada tenaga untuk memberi ASI," ujar Omar yang disetujui oleh semua orang yang ada disana.
---Bersambung---
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, like dan komentarnya ya.
Ada yang belum favoritkan?
Ada yang belum kasih bunga setaman?
Ayo buruan supaya othor semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍