Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 135 EMHD



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam 20 menit, pesawat Yak -40 yang mereka tumpangi sampai juga di bandara internasional Soekarno-Hatta dengan selamat.


Turun dari pesawat, Maksim langsung membawa Maryam sang istri ke Klinik pelayanan kesehatan khusus pengguna penerbangan.


Ia ingin memeriksa keadaan bayinya setelah melakukan perjalanan panjang dari Moskow ke negara yang baru mereka injak ini.


"Selamat datang tuan, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang petugas layanan kesehatan dengan menggunakan bahasa Inggris.


Ia tahu bahwa orang ini baru keluar dari pintu kedatangan penumpang internasional dan juga tentu saja wajah mereka tidak menunjukkan sebagai wajah pribumi.


"Tolong periksa keadaan istri saya, nona." jawab Maksim sembari membawa istrinya untuk duduk. Meskipun Maryam menolak dan merasa baik-baik saja, ia tetaplah khawatir.


"Baiklah nyonya, silahkan duduk di atas ranjang ini, dan kalau boleh bisakah anda menunjukkan tiket dan juga visa anda tuan?" tanya sang perawat sembari memandang wajah Maksim.


"Ah ya, ini silahkan, dokumen kami ada di sini." ujar Maksim dan menyerahkan tiket pesawat dan juga Visa mereka berdua.


Setelah memeriksa dokumen tersebut, perawat itu langsung menghadapi Maryam yang sudah lama berbaring di atas ranjang dalam klinik itu.


"Well nyonya Smith, apa ada keluhan yang anda rasakan selama dalam penerbangan?" tanya sang perawat sembari memasang tensimeter untuk memeriksa keadaan tensi pasien.


"Tidak suster, saya baik-baik saja." jawab Maryam tersenyum.


"Sakit kepala atau keram di perut?"


"Tidak, saya baik-baik saja." perawat itu tersenyum kemudian menyentuh perut buncit Maryam, "Sepertinya semuanya memang baik-baik saja nyonya, tensi anda normal dan juga perut anda juga tidak mengalami keram atau apapun itu, anda bisa bangun sekarang, tapi pelan-pelan okey?" Maryam mengangguk dan mulai ingin bangun tetapi ia agak kesulitan mengingat perutnya yang sudah sangat besar.


"Hati-hati nyonya, bangunnya dengan posisi seperti ini, iya betul. Mari saya bantu." perawat itu tersenyum ramah.


"Terimakasih banyak suster, kami merepotkan Anda."


"Jangan berkata seperti itu Nyonya, itu adalah tugas kami di sini melayani semua penumpang yang akan dan telah melakukan penerbangan.


"Tetapi sebaiknya anda mendatangi klinik obgyn untuk memastikan kondisi bayinya tuan, kami tidak punya alat lengkap untuk ibu hamil di sini." saran sang perawat kepada Maksim yang sepertinya belum puas dengan pemeriksaan itu.


"Baiklah, terima kasih banyak suster, kami permisi," Ujar Maksim kemudian membawa istrinya keluar dari klinik itu dan mencoba mencari di mana posisi Alex dan yang lainnya.


"Hey, itu uncle Max!" teriak Nikita yang melihat mereka berdua dari kejauhan. Gadis kecil itu langsung berlari dari keramaian itu menuju Maksim dan juga Maryam.


"Uncle darimana? semua orang sibuk mencarimu." ujar Nikita dengan nafas terengah-engah karena berlari dari tempat mereka tadi duduk dan beristirahat.


"Aku baru membawa onty Maryam ke Klinik sayang, "


"Apa onty sakit?" tanya Nikita sembari menatap wajah Maryam yang nampak sangat sehat dan ceria itu.


"Tidak sayang, onty baik-baik saja, uncle Max yang terlalu berlebihan." jawab Maryam sembari menunjuk suaminya.


"Syukurlah onty tidak apa-apa, ayok kita kesana."ajak Nikita ke tempat mereka tadi, dimana ada Daddy, Mommy, dan juga Uncle Albert dan baby Danil.


"Ayok," Maksim dan Maryam mengikuti langkah gadis kecil itu untuk menemui rombongan keluarga Smith berada.


"Ada apa denganmu, Maryam?" tanya Aisyah khawatir.


"Aku hanya membawanya memeriksakan kandungannya setelah perjalanan panjang ini." jawab Maksim sembari merengkuh pinggang sang istri.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Aisyah lagi.


"Alhamdulillah, baik. Kita akan mencari klinik obgyn di sini kalau masih mau mengetahui keadaan janin di dalam sini." jawab Maryam tersenyum.


"Aku sudah memesan travel untuk mengantar kita ke hotel terdekat untuk beristirahat sejenak baru kita lanjutkan penerbangan ke Kota Reisya, Makassar." ujar Albert yang baru saja menelpon Reisya meminta petunjuk apa yang harus mereka lakukan di sana. Karena mereka hanya transit dan akan mencari pesawat lainnya untuk membawa mereka ke tempat tujuan yang sebenarnya.


Mereka bisa saja langsung memesan tiket di sana saat itu juga dan melanjutkan perjalanan tetapi Albert merasa tak nyaman dengan keadaan para perempuan itu yang sepertinya perlu istirahat dulu dan menikmati kota Jakarta, ibu kota dari Indonesia ini.


"Belum sayang, kita harus istirahat dan juga makan terlebih dahulu. Baru kita lanjutkan perjalanan menuju rumah onty Reisya," jawab Albert sembari mengacak rambut pirang Nikita.


"Aku sudah tidak sabar makan bakso," ujar Maryam sembari memandang wajah suaminya.


"Aku juga," timpal Aisyah dengan bayangan bakso yang sangat lezat.


"Ah, pasti di hotelnya nanti mereka menyediakan banyak makanan yang kalian inginkan."


"Ya betul sekali." Alex ikut menjawab karena ia juga sudah sangat lapar.


"Kota yang sangat macet ya," ujar Alex saat mobil yang mereka tumpangi sudah keluar dari jalan tol dan mulai memasuki kemacetan yang cukup parah.


"Dan panas," lanjut Aisyah sembari mengelus baby Danil yang sudah mulai tak nyaman dengan kondisi di dalam mobil.


"Tetapi orang-orangnya ramah dan baik hati," timpal Maryam saat mengingat orang-orang yang ia temui di bandara internasional tadi.


Tak lama kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.


"Andai kak Omar dan Anna bisa ikut, pasti akan sangat menyenangkan," ujar Aisyah bagai gumaman.


"Sayangnya pekerjaan Kak Omar tidak memberinya izin untuk cuti terlalu lama sayang, mungkin lain kali kita akan berlibur bersama mereka berdua." ujar Alex menghibur sang istri.


"Ayo turun, aku sudah booking kamar untuk kita semua." ajak Albert setelah melapor pada bagian resepsionis hotel itu. Mereka akan menginap dan beristirahat di hotel itu selama 24 jam untuk mengembalikan kondisi tubuh mereka semua agar kembali fit untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.


Mereka pun memasuki kamar mereka masing-masing diantar oleh beberapa OB.


"Danil suka di sini ya?" tanya Aisyah pada putranya yang nampak anteng dan juga tidak rewel.


"Mammmmma," jawab Danil sembari tertawa lucu. Ia sepertinya sangat mengerti pertanyaan dari mommynya.


"Danil kita ada dimana ya?" tanya Nikita yang ikut bercanda pada adiknya itu.


"Mammmmaammma," jawab Danil sembari memukul-mukul udara dan tertawa.


"Danil sudah pintar bicara ya mom?"


"Iya sayang, Danil sudah pintar merespon apa yang kita katakan, lihat...dia senang sekali berada di sini." ujar Aisyah ikut senang melihat interaksi Danil dan juga Nikita.


Tak lama kemudian pintu kamar mereka diketuk dari luar. Alex yang sedari tadi diam memperhatikan istri dan anaknya langsung menuju pintu dan membukanya.


"Al, ada apa?"


"Maksim dan juga Maryam sudah menunggu kalian di Restoran hotel ini. Ayo kita makan dulu baru beristirahat,"


"Baiklah, kami akan segera ke sana." jawab Alex kemudian menutup pintu setelah Albert pergi dari sana.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor, selamat berlibur ya gaesss, mana nih like dan komentarnya!!!?


Aku tunggu ya, bunga juga bolehkah agar hati othor selalu berbunga-bunga, eyakkk.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Eits jangan lupa mampir di novel teman aku nih, dijamin oke punya, yuks dikepoin.