Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 92 EMHD



Maksim meninggalkan Maryam di atas ranjang dengan rasa yang tak bisa ia lukiskan. Untuk kunjungan kali keduanya ini ia benar-benar merasa di atas angin.


Ternyata semakin kesini rasa yang ia dapat dari pertemuannya dengan sang istri tercinta semakin bertambah nikmat dan sempurna.


"Entah kenapa, aku selalu lupa meminta penjelasan darinya kenapa ia begitu berbeda padahal ia sudah menikah sebelumnya." ujarnya pelan sembari melangkah meninggalkan kamar itu kemudian ia melanjutkan,


"Oh, shiiit! kau terlalu menarik sayang hingga benar-benar membuatku tak berkutik." ia menyugar rambutnya yang masih sedikit basah itu dengan senyum yang menghiasi bibirnya hingga Albert menatapnya curiga.


"Kamu ya, aku sudah kering menunggumu di luar. Kalian enak-enakan di dalam kamar. Lihat Anna sudah tak sabar meninggalkan Dagestan dan segera menikahi si brengsek Pelip itu." gerutu Albert dengan suara sedikit kesal.


Albert tahu betul apa yang kedua pasangan itu lakukan di pagi yang dingin ini dan ia merasa telah dikerjai oleh mereka semua dengan disuruh memasak padahal itu bukanlah hobinya. Untung Omar datang tepat waktu.


Dan kini Anna datang tiba-tiba memaksa ingin berangkat ke Moskow karena ibunya mendesak ia untuk pulang.


"Ada apa Anna?" tanya Maksim pada Anna tanpa mau meladeni kekesalan Albert.


"Ibuku baru saja menelpon, katanya jika aku tak pulang maka ia sudah tidak mengakui aku lagi sebagai putrinya." jawab Anna dengan wajah terlihat serius.


"Hei, memangnya terjadi apa di sana. Bukankah kamu memang biasa tidak pulang ke rumah mu, hah?" tanya Maksim lagi dengan raut penasaran. Kali ini ia duduk di samping Albert yang masih bersungut-sungut marah. Anna menunduk kemudian menjawab.


"Ayahku terlibat masalah lagi dengan uncle Sam. Dan kamu tahu? pria pemabuk itu menyerahkan aku sebagai alat penukar utang-utangnya untuk Pelip putranya yang sakit jiwa itu." jawab Anna dengan meringis nyeri.


Gadis berambut pendek itu sangat membenci ayahnya yang suka mabuk dan berjudi. Dan jika kalah pria itu akan menjadikannya sebagai jaminan atas utang-utangnya. Setelah Anna membayar semuanya dari uang yang diberikan oleh Alex. Pria tua menyebalkan itu menjadikannya jaminan lagi dan lagi hingga ia ingin rasanya bunuh diri saja.


Andai ia tidak menyayangi ibunya, ia sudah lama pergi jauh dan tidak perduli apapun yang dilakukan pria yang kebetulan adalah ayah kandungnya itu.


"Oh ya ampun. Kukira ayahmu sudah sadar setelah banyak hal yang kamu lakukan untuknya." Maksim meraup wajahnya kasar.


Maksim dan Anna Peminov sangat akrab hingga ia tahu betul bagaimana kondisi gadis tomboi itu. Ia juga yang merekomendasikan Anna pada Alex agar ia direkrut menjadi agen mata-mata pada setiap transaksi ilegalnya dulu.


Maksim dari dulu selalu mendengarkan ibunya Anna mengancam menjodohkan gadis itu dengan Pelip jika Anna nakal dan tidak pernah pulang. Padahal Anna sangat membenci Pelip yang kerjanya hanya mabuk-mabukan bersama ayahnya.


"Ada apa ini Anna?" tanya Alex yang baru muncul dari dapur bersama dengan Omar.


"Kenapa kamu buru-buru sekali ingin pulang ke Moskow?" lanjut Alex kemudian ikut duduk di depan ke tiga orang anggotanya itu.


"Aku rindu pada ibu." jawab Anna sambil menunduk. Ia tak mau menceritakan masalah keluarganya pada Sang Bos. Ia belum terlalu akrab jika semua masalahnya harus diketahui oleh pria penguasa dunia hitam itu.


"Tinggallah lagi di sini Anna. Nikita sangat senang bersamamu." ujar Alex dengan suara beratnya.


"Tapi ibuku menyuruh aku pulang bos. Dua hari ini ia selalu menelponku. Aku takut ia dalam masalah."


"Apakah masalah keuangan?" tanya sang Bos lagi dengan pandangan tajam ke arah Anna. Dengan pelan gadis itu mengangguk. Alex menarik nafas panjang. Ia sudah pernah mendengar sedikit cerita tentang Anna dari Maksim tetapi tidak terlalu detail. Ia hanya ingat kalau ayahnya Anna adalah seorang pemabuk dan penjudi hingga gadis itu butuh pekerjaan.


"Tidak bos." jawab Maksim menunduk. Ia tahu Alex pasti sedang marah padanya saat ini.


"Lalu?"


"Keluarga Anna tidak pernah cukup dengan uang yang selalu kita berikan. Karena setelah habis mereka akan membuat masalah baru begitu seterusnya." jawab Maksim dengan suara pelan. Ia sungguh kasihan akan nasib Anna dan Ibunya. Tetapi sayangnya dengan dalih cinta, ibunya Anna tidak pernah mau meninggalkan pria brengsek itu.


"Aku atau kamu yang mengurus ini Max?" Alex menatap tajam pada Maksim. Pria itu sedikit ragu. Ia baru saja menikmati pernikahan barunya dengan Maryam. Apakah ia harus meninggalkan istrinya itu lalu ikut Anna ke Moskow.


"Biar aku bicara pada Anna dulu bos." jawab Maksim ingin membuat penawaran.


"Bicara saja di sini!" Maksim menarik nafas panjang kemudian menatap Anna.


"Anna, aku ingin sekali membantumu menyelesaikan masalahmu dengan ayahmu. Tapi bagaimana dengan Maryam? apa aku harus meninggalkannya di sini sedangkan aku ikut bersamamu ke Moskow?" Anna hanya diam. Ia tak menyangka masalah keluarganya malah merepotkan orang lain.


"Biar aku pulang sendiri. Aku bisa menangani ayah. Ia hanya butuh uang untuk menebus utangnya setelah itu bereskan? atau aku ikuti saja kemauannya agar aku menikah dengan Pelip. Itu juga jalan keluar. Kenapa kalian yang jadi repot?"


Semua orang terdiam hingga Aisyah yang baru keluar dari kamar dengan tampilan yang cukup segar langsung ikut berbicara.


"Kita akan ikut ke Moskow hari ini, bagaimana Alex?" Alex setuju, apapun keinginan sang istri akan ia ikuti.


"Bagaimana kak, apakah mau ikut kami kembali?" tanya Aisyah pada Omar sang kakak. Dokter muda itu nampak berpikir. Ia berada dalam dilema. Ini adalah cuti yang telah lama ia nantikan agar bisa lebih lama tinggal bersama sang ayah dan keluarganya di desa.


"Aku masih tinggal, butuh waktu lama hingga aku mendapatkan waktu cuti dan liburan panjang ini." jawab Omar sambil matanya melirik sedikit pada gadis tomboi penyebab semua orang ini kembali ke Moskow dengan terburu-buru seperti ini.


Anna nampak meremas ujung jaketnya. Ia berharap sekali dokter Omar ikut dan mungkin ikut menyelesaikan masalahnya.


"Baiklah kak. Kami akan segera bersiap dan akan berpamitan pada ayah." ujar Aisyah kemudian meninggalkan Omar yang masih berdiri mematung memandang Anna yang sedang menunduk di hadapannya.


"Aku ikut prihatin pada masalah yang sedang kamu hadapi, Anna." ujar Omar dengan suara pelan.


"Terima kasih banyak dokter." jawab Anna tersenyum. Senyum yang sangat manis yang pernah dilihat Omar.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, Anna." ujar Omar lagi. Ia menyalami tangan gadis itu dengan balas tersenyum.


"Dan kuharap kita bertemu bukan saat aku sakit dokter ." canda Anna dengan wajah gembira.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini? Like dan berikan komentar ya gaess agar othor makin rajin updatenya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍