
Nampak sekali wajah Omar sedang sangat senang hari ini. Dari layar monitor di hadapannya ia melihat seseorang yang sangat ingin ia lihat sedang memasuki area Rumah Sakit.
Ya betul, tebakan reader benar, seseorang itu adalah Anna Peminov yang mungkin saja ke Rumah Sakit untuk berobat atau melanjutkan kontrol kesehatannya.
Omar segera menghubungi perawat yang sedang bertugas di bagian registrasi agar mengarahkan gadis berambut pendek itu ke ruangannya.
"Baik dokter, saya akan membawanya ke ruangan anda." jawab sang perawat dari balik sambung telepon itu.
"Ya terimakasih." jawab Omar dengan menahan senyum diwajahnya. Ada rasa yang tak bisa ia jabarkan yang tiba-tiba menyeruak dari dalam hatinya.
Tak lama kemudian pintu ruang kerjanya diketuk dari luar.
"Itu pasti dia." ujar Omar sambil melangkah ke arah pintu. Ia ingin tangannya sendiri yang membuka pintu itu.
'Selamat siang dokter. Saya membawa pesanan anda." ujar sang perawat dengan senyum diwajahnya.
"Apa saya memesan sesuatu padamu?" tanya Omar dengan dahi mengernyit. Ia memandang perawat itu dengan wajah serius. Bukan pesanan barang atau apapun itu yang diinginkannya sekarang tetapi ia ingin seorang pasien khusus dan istimewa. Perawat itu semakin merasa lucu dengan ekspresi sang dokter, tetapi ia berusaha menahannya karena takut sang pimpinan Rumah Sakit itu marah padanya.
"Ini dokter pesanan anda." akhirnya perawat itu memecahkan rasa penasaran sang dokter. Ia tahu betul Anna Peminov adalah pasien yang sangat dinantikan oleh pimpinannya ini. Rumor itu sudah ramai terdengar di Rumah Sakit ini oleh para penggibah. Tetapi merupakan berita buruk bagi mereka yang diam-diam menyukai dokter tampan itu.
Anna Peminov muncul dari balik dinding setelah ia disuruh bersembunyi oleh sang perawat. Ia tersenyum dengan sangat manis dan langsung membuat dokter Omar salah tingkah. Ia sampai meremas tengkuknya karena tiba-tiba tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Masuklah nona Peminov." ujar Omar dengan suara dibuat sedatar mungkin.
"Saya permisi dokter." ujar sang perawat dengan senyum diwajahnya.
"Ah, ya terimakasih Annette, lanjutkan pekerjaanmu." ujar Omar sembari tersenyum samar pada sang perawat.
"Sama-sama dokter. Saya sangat senang membantu dokter." ujar Annette kemudian berbisik dengan pelan didekat Anna, "Mari nona Peminov. Kalau butuh sesuatu hubungi saya ya."
"Annette! lanjutkan pekerjaanmu. Pasien ini dalam pantauan saya. Tidak usah kamu repot-repot." seru Omar mulai tak nyaman dengan kehadiran orang lain diantara mereka berdua.
"Iya Dokter maafkan saya." ujar Annette kemudian benar-benar berlalu dari sana atau ratapan tajam sang dokter bisa menembus jantungnya.
"Silahkan duduk nona Peminov." ujar Omar setelah mengunci pintu ruangannya. Ia memandang punggung gadis yang sudah merusak kinerja jantungnya itu dengan pandangan rindu. Anna masih berdiri di sana membelakangi Omar.
"Apa tempat kontrolnya pindah ke ruangan ini Dokter?" tanya Anna dengan mata menatap keseluruhan ruangan yang tampak baru baginya itu.
"Iya anda benar nona Peminov. Tidak semua pasien masuk ke ruangan ini." Jawab Omar sambil melangkah ke depan Anna, agar ia bisa melihat wajah cantik dan eksotis itu dengan bebas.
"Oh begitu ya?" tanya Anna sembari tersenyum.
"Hem, duduklah. Kamu tidak lelah berdiri seperti itu?"
"Ah iya dokter terima kasih." Anna pun duduk dan balas menatap mata sang dokter yang sedari tadi menatapnya.
Deg
"Hem, nona Peminov." Omar segera tersadar kalau ia sudah terlalu lama menatap pasien cantik di hadapannya itu.
"Apa ada keluhan dari pembedahan itu nona?" tanya Omar berusaha untuk profesional. Meskipun ia merasakan tubuhnya yang lain sudah memberi respon yang cukup berbahaya padahal ia baru menatap mata gadis itu.
"Hem, sebenarnya tidak ah iya tetapi semalam aku merasa ada perasaan nyut-nyutan gitu dokter di dada saya." jawab Anna sembari menunduk. Ia merasa kalau alasannya bisa saja dianggap sebagai alasan yang sangat klise atau apa namanya. Tetapi ia juga begitu rindu pada sang dokter yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dan berkirim kabar. Maka dengan percaya diri ia meminta izin pada ibunya ingin keluar sebentar padahal kaki dan hatinya malah mengantarkannya ke rumah sakit ini. Dan yah disinilah ia menggunakan alasan yang sangat tak masuk akal agar ia bisa bertemu dengan sang dokter.
"Apa semua obatnya sudah kamu minum, Anna?" tanya Omar dengan nada khawatir. Pertanyaannya kini sudah berubah menjadi tidak formal lagi.
"Sudah dokter. Sudah lama habis." jawab Anna masih menundukkan wajahnya. Tangannya ia remas karena gugup. Ia takut dokter Omar tahu kalau ia sedang berpura-pura. Semua obat yang diberikan dokter tampan ini adalah obat terbaik dan mujarab.
"Astaghfirullah. Kenapa kamu tidak menghubungi aku Anna? bukankah ada nomor handphoneku yang aku berikan waktu itu, jika sewaktu-waktu kamu butuh atau mengalami kesulitan?" suara Omar terdengar meninggi kemudian berdiri dari kursi kebesarannya. Ia melangkah mendekati kursi yang diduduki Anna Peminov dengan cepat.
"Bisa aku periksa lukanya?" tanya Omar dengan suara rendah. Anna mengangguk karena tak punya pilihan lain.
"Kamu nyaman sambil duduk atau mau berbaring di sofa itu?" tanya Omar lagi menunggu reaksi dari Anna yang masih saja menunduk dan menjalin jari-jarinya di atas pahanya.
"Di sofa saja dokter." jawab Anna kemudian bersiap untuk berdiri. Tetapi jaraknya yang terlalu dekat dengan sang dokter menyebabkan kepalanya menyentuh tubuh Omar yang sedang berdiri di sampingnya.
"Maaf dokter. Aku tidak sengaja." ujar Anna masih menunduk. Omar hanya tersenyum tetapi sedikit heran dengan sifat Anna yang sudah tidak bar-bar lagi. Ia jadi teringat pertemuan pertama mereka yang sangat memalukan karena tangan gadis itu berhasil memegang daerah sensitifnya karena kecerobohan dan ke bar-barannya.
Anna membaringkan dirinya di sofa panjang tanpa lengan di dalam ruangan itu sedangkan Omar hanya menyaksikan dengan segala perasaan bercampur aduk di dalam hatinya.
"Maaf Anna, aku buka ya...buat dirimu nyaman." ujar Omar sembari membuka kemeja yang sedang dipakai gadis itu. 2 sampai 3 kancing ia buka kemudian terpampanglah dengan jelas area bahu dan dada yang sangat menggoda kelelakian Omar sang dokter. Omar perlahan menyentuh bekas luka itu yang masih menampakkan warna samar.
"Apakah ini sakit Anna?" tanya Omar dengan suara pelan. Jari-jarinya berputar pelan diatas belas luka itu dengan irama yang sangat memabukkan bagi Anna.
"Sudah tidak lagi dokter." jawab Anna yang masih bertahan menutup matanya. Ia tak akan sanggup melihat Omar dalam jarak yang begitu dekat seperti saat ini.
"Baguslah kalau begitu, warnanya juga sudah memudar. Pasti kamu sangat rajin mengolesinya kan?" ujar Omar sembari matanya memandang ke arah lain dimana pemandangan itu sudah mengantarkan gelenyar aneh dalam syaraf-syarafnya. Tangannya sangat gatal ingin menyentuh dua benda kenyal dan putih di sekitar luka itu. Tetapi ia tiba-tiba tersadar kalau itu adalah kesalahan besar. Mengingat bahwa ia akan melanggar kesepakatannya dengan Tuhan dan juga sumpah profesi yang ia telah ia lakukan.
Dengan cepat ia mengancing kembali kemeja Anna dengan rasa yang sudah hampir meledak di dalam dirinya.
"Aku akan memberikan resep baru untukmu, Anna." ujar Omar kemudian meninggalkan gadis itu yang masih berada pada posisi berbaring. Ia tahu dirinya dan gadis itu pasti menginginkan hal yang sama. Tetapi ia bersyukur Tuhan masih menyayanginya dan memberikan teguran.
Anna berbeda keyakinan denganku lalu bagaimana kalau aku khilaf dan merusak gadis itu. Apa aku harus menikahinya. Apa nanti kata ayahku?
"Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah." ujarnya pelan sambil meraup wajahnya kasar. Ia ingin bersikap sesantai mungkin agar Anna tidak merasa malu. Anna bangun dari sana kemudian meminta maaf. Ia merasa menjadi perempuan murahan. Ia lari keluar dari ruangan itu dengan wajah menahan malu.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍