
Crisstoffer Anderson menyimak dengan baik penjelasan kuasa hukum yang telah ditunjuk oleh kakeknya William Anderson.
Pria itu menarik nafas berat saat Robert Pattinson menceritakan kondisi emosional Nikita Smith yang begitu terpukul dengan surat-surat yang ditulis oleh almarhum.
"Apakah harus melaksanakan perintah dari wasiat itu tuan Pattinson?" tanya Crisstoffer pada pengacara itu.
"Seharusnya sih seperti itu tuan. Lalu siapa yang melaksanakannya kalau bukan anda dan nona Smith yang menjadi pewarisnya."
"Ah iya, anda benar. Tetapi sepertinya nona Smith tidak berminat dengan kekayaan kakek dan aku pun seperti itu," ujar Crisstoffer dengan perasaan yang tiba-tiba tidak nyaman.
"Saya tidak tahu kalau masih ada orang di dunia ini yang tidak menginginkan harta sebanyak itu. Sedangkan orang lain seperti saya harus bekerja lebih dari 10 jam sehari hanya untuk mencari kekayaan agar bisa hidup seperti orang lainnya." Robert Pattinson memandang wajah pewaris William Anderson itu dengan wajah takjub.
"Tapi sayangnya anda dan nona Smith harus menerimanya karena sesuai perjanjian kerja kami dengan tuan William Anderson saat ia membuat surat wasiat itu, kami tidak akan bisa mendapatkan gaji kami mengurus persoalan hukum dan warisannya kalau anda berdua tidak duduk bersama dan melaksanakan wasiatnya." jelas Andrew Dickinson dengan wajah serius. Pria yang selalu ingin semua pekerjaan berjalan dengan baik itu benar-benar menunjukkan kalau ia sedang memaksa.
"Baiklah akan aku usahakan nona Smith juga mau menerimanya meskipun aku tidak yakin untuk itu tuan," ujar Crisstoffer Anderson sembari tersenyum maklum.
"Terimakasih banyak tuan Anderson atas bantuannya," ujar Robert Pattinson dengan balas tersenyum.
"Well, kami permisi dan semoga pada pertemuan kita berikutnya kalian berdua sudah mendapatkan kesepakatan." ujar Andrew Dickinson kemudian bersalaman dengan Crisstoffer Anderson. Mereka berdua pun berpisah di tempat itu kemudian melanjutkan rencana mereka selanjutnya.
Crisstoffer Anderson melajukan mobilnya ke Rumah Sakit untuk bertemu dengan dokter Omar. Mereka berdua sudah membuat janji untuk bertemu di Rumah Sakit tempat Omar bekerja.
"Hai dokter Omar, selamat siang," sapa Crisstoffer Anderson dengan ramah.
"Oh, hai dokter Criss, selamat siang juga. Mari silahkan duduk." ujar Omar dengan senyum diwajahnya. Pria asal Dagestan itu sudah melunak hatinya pada dokter muda dihadapannya ini setelah tahu permasalahan sebenarnya yang terjadi dengan Nikita sang ponakan.
"Jadi apa yang bisa aku bantu, Criss? eh bolehkan aku memanggilmu Criss saja?" Crisstoffer tersenyum kemudian mengangguk.
"Dan apakah aku juga boleh memanggilmu uncle saja?" Omar tertawa dengan ucapan dokter yang sangat cerdas itu.
"Tentu saja, kamu kan sekarang adalah keluargaku," jawabnya dengan wajah berbinar bahagia. Ia lumayan mengidolakan pria muda ini atas karirnya di kedokteran terlepas dari kesalahannya pada Nikita Smith.
"Oh terima kasih uncle, aku jadi senang sekali karena akhirnya mempunyai keluarga di Moskow."
"Well, ada yang bisa aku bantu Criis?" Omar mengulang lagi pertanyaannya karena sepertinya mereka sudah cukup berbasa-basi.
"Ada uncle dan semoga kamu tidak keberatan," jawab Crisstoffer dengan nada pelan hingga membuat Omar jadi sangat penasaran.
"Apa itu Criss?"
"Maukah uncle mengatur pertemuan aku dengan nona Smith?"
"Tentu saja, tetapi apakah aku boleh tahu apa yang ingin kamu bicarakan dengannya?" tanya Omar dengan pandangan tanya. Ia tahu ini sangat tidak sopan menanyakan hal tersebut. Tetapi karena Nikita punya trauma berat dengan pria ini jadi ia harus waspada. Meskipun gadis itu akan menemui sepupunya sendiri.
"Aku ingin membicarakan secara pribadi tentang surat wasiat kakek pada kami, uncle," jawab Crisstoffer dengan balas memandang wajah Omar.
"Oh ya, aku sudah mendengar kalau almarhum William Anderson ingin kalian menikah selain dari pembagian harta itu kan?"
"Iya uncle, meskipun aku tahu kakek terlalu berlebihan dengan permintaannya itu. Aku tahu itu tidak mungkin." jawab Crisstoffer Anderson dengan nada suara yang tiba-tiba sendu. Ada rasa sedih dalam nada itu.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Omar mencoba mengetahui isi hati pria muda di hadapannya ini.
"Karena keluarga Smith sangat membenciku, uncle. Cuma kamu yang mau menerimaku seperti ini."
"Hahahaha, aku dulu pernah berada pada situasi yang sama denganmu, cuma posisinya berbeda sedikit."
"Aku dulu sangat membenci ketiga Smith itu dan tidak menyetujui pernikahan adikku Aisyah dengan Alex. Karena waktu itu aku tahu Daddy dari Nikita itu adalah mafia berbahaya di Moskow,"
"Lalu?" tanya Crisstoffer penasaran.
"Lalu mereka membuktikan kalau mereka sudah berubah dan juga Alex menunjukkan bagaimana ia sangat mencintai adikku," jawab Omar tersenyum.
"Aku tidak tahu uncle, apakah aku bisa seperti itu karena nona Smith sendiri yang tidak mau melihat wajahku hahaha," Crisstoffer tertawa kering dengan terpaksa karena ia sudah tidak punya ide untuk menarik perhatian gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini membuatnya kacau dan juga sangat ia rindukan.
"Aku kira kamu selalu bisa menaklukkan para gadis Criss, jangan kira aku tidak tahu sepak terjangmu di luar sana, hah," Omar tersenyum samar.
Pria itu sebenarnya sangat tidak setuju juga jika seandainya Nikita dan Crisstoffer berakhir melaksanakan wasiat itu. Tetapi sekali lagi ia mengingat jalan hidupnya sendiri dengan Anna sang istri. Kalau Tuhan berkehendak maka apa yang tidak mungkin bisa saja terjadi.
"Kamu harus tahu apa yang disukai oleh Nikita, maka kamu harus melakukannya agar dia terkesan, kamu paham maksud aku Criss?"
"Ah iya uncle, kamu benar sekali, sayangnya nona Smith yang ini berbeda dengan gadis lain. Ia bahkan menolak harta yang ditawarkan oleh kakek Will," kembali Crisstoffer merasakan ia tak akan mungkin mendapatkan gadis itu.
"Hey, jangan cepat putus asa dong, mau aku kasih tahu apa yang disukai oleh keponakanku itu?"
"Tentu uncle, cepat beritahu aku apa yang disukai oleh gadis itu," pinta Crisstoffer dengan tak sabar.
"Jangan tersinggung ya Criss, kamu lihat bagaimana dekatnya Kakek William dengannya kan?"
"Ah iya, mereka berdua sangat dekat padahal awalnya mereka tidak saling mengenal," jawab pria itu sembari mengingat apa saja yang mereka lakukan berdua selama beberapa hari selama di Birmingham.
Deg
Hatinya tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat luar biasa dan diluar jangkauan akal pikirannya.
"Apa maksudmu aku harus mengikuti jejak kakek William supaya nona Smith mau menerimaku uncle?" Omar tersenyum kemudian mengangguk.
"Apa aku bisa? sedangkan Tuhan saja aku tidak tahu dan juga tidak percaya."
"Cari dan jemput hidayah itu, Criss. Tuhan maha penyayang dan maha pengasih." Crisstoffer menunduk dengan segala keresahan di dalam hatinya.
"Akan aku pikirkan uncle, tapi aku tidak bisa berjanji. Aku takut akan konsekuensi kedepannya."
"Ya, terserah padamu Criss, keyakinan tidak bisa dipaksakan. Tetapi kalau kamu mau menyediakan waktu untuk mengenal Tuhan itu lebih baik lagi."
"Iya uncle, terimakasih banyak atas waktumu, aku permisi."
"Baiklah, sampai jumpa lagi di lain waktu, Criss. Aku akan mengatur pertemuan kalian di rumahku jadi siapkan dirimu dengan baik."
"Iya uncle, selamat siang," pamit Crisstoffer Anderson kemungkinan meninggalkan ruangan Omar.
"Semoga Allah memberimu hidayah Criss," ujar Omar saat pria itu sudah menghilang dari pandangannya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍