
Di sebuah Markas Mafia di Moskow.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu laporkan! jangan bikin aku menunggu!" seru pria berusia 70 tahun itu dengan suara menggelegar.
"Aku melihatnya bos," lapor seorang pria muda bertato kepada pimpinannya yang sedang asyik menghisap cerutunya.
"Siapa yang kamu lihat, hah?!" bentak sang pimpinan dengan suara beratnya.
"Pemuda yang telah mencuri microchip kita waktu itu, sepertinya ia sudah lama berada di kota ini."
"Bagus, itu berarti ia telah datang menyerahkan dirinya sendiri dengan sukarela, hahaha,"
"Iya bos,"
"Apa kamu mengikutinya?"
"Iya bos, bajingan itu selalu keluar masuk di sebuah Universitas di kota ini, mungkin ia sedang belajar di sana."
"Cih! belajar. Memangnya bajingan itu mau belajar mencuri dan menipu di kampus itu, heh!"
"Mungkin juga bos, tapi aku rasa bajingan itu tampak lebih berpendidikan sekarang ini," jawab pria bertato itu dengan ekspresi sedang berpikir.
"Hey bicara apa kamu hah? kamu sedang memujinya, hah?! penjahat sekarang hampir semua berpendidikan dan tidak ada bedanya dengan kita, brengsek!"
"Maaf bos."
"Kalau begitu siapkan diri kalian dan kita akan memburunya sampai ke lubang jarum sekalipun."
"Siap bos!" pria bertato itu segera keluar dari ruangan itu dan menghubungi beberapa sniper hebat dan juga Driver handal yang akan ia bawa untuk melenyapkan seorang pemuda Inggris bernama Crisstoffer Anderson itu.
"Dasar bajingan kecil, berani sekali ia melawan Genk Yuris, kita lihat sekarang, siapakah yang akan menolongmu keparat!" geramnya dengan emosi didadanya.
Begitu banyak kerugian yang dialami genknya karena perbuatan si Crisstoffer Anderson itu. Pundi-pundi uangnya banyak yang hancur karena bajingan tengik itu.
1 mobil mewahnya yang seharga miliaran dollar diledakkan oleh pria itu dan satu lagi disita oleh polisi.
Belum lagi beberapa asetnya yang raib karena perbuatan William Anderson, kakek dari pria itu.
Tapi belakangan ia mendengar kabar kalau pria tua itu benar-benar telah meninggalkan dunia karena penyakitnya yang sangat berbahaya.
"Keparat! aku tidak sabar memisahkan kepalanya dari tubuhnya. Aku ingin bajingan kecil itu segera menyusul William Anderson sialan itu!"
"Kekuatan William Anderson sudah tidak ada, anggota genknya yang berkhianat kini sudah tidak terlibat lagi di dunia gelap seperti ini, jadi aku yakin kalau ia cuma sendiri pasti bajingan kecil itu akan gampang ditangkap dan dimusnahkan." ujarnya dengan rasa percaya yang sangat tinggi.
"Well, aku akan melihat kematiannya yang sangat menyakitkan."
Kurasa Anak dan cucunya akan menjadi kenangan indah di kubur pria tua bangka itu,!" geramnya dengan bibir terangkat.
Cerutu yang sejak tadi dihisapnya ia injak di lantai marmer itu kemudian segera keluar dari ruangan itu. Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana Crisstoffer Anderson meregang nyawa.
🍁
Alexander Smith meletakkan kembali handphonenya di atas meja di hadapannya dan menatap Maksim dan juga Albert.
"Apa ada hal yang serius?" tanya Maksim dengan wajah penasaran
"Kak Omar meminta kita ke Masjid Agung Moskow sekarang juga," ujar Alex memberikan informasi kepada kedua adiknya itu tentang pembicaraannya dengan Omar baru saja.
"Hey, kamu ya, baru kenal masjid kalau hari Jumat!" sentak Maksim dengan tatapan tajam.
"Aku kan cuma tanya kak, hmmm,"
"Aku juga tidak tahu karena dokter itu sepertinya sedang ingin membuat teka-teki dengan kita semua, jadi sebaiknya kita berangkat saja kesana," ujar Alex kemudian langsung mengambil kunci mobilnya dan melemparnya pada Albert.
"Kita gunakan satu mobil saja," putusnya yang diikuti oleh kedua adiknya itu.
Mereka berdua pun berangkat ke Masjid Agung Moskow dengan banyak pertanyaan dibenak mereka bertiga.
🍁
Omar memandang ke arah pintu masjid dengan wajah tak sabar. Pria itu ingin sekali the Smiths menjadi saksi Crisstoffer Anderson melafalkan dua kalimat syahadat selain dirinya dan juga beberapa jamaah masjid di pagi hari menjelang siang itu.
"Bagaimana tuan?, apa kita mulai saja?" tanya sang imam masjid karena mereka sudah cukup lama menantikan keluarga mereka yang lainnya.
"Kita mulai saja pak," akhirnya Omar pun mempersilahkan pria berjenggot panjang itu untuk menuntun Crisstoffer Anderson mengucapkan kalimat sakral. 2 kalimat persaksian dan perjanjian di hadapan Tuhan bahwa ia bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah SWT.
"Asyhadu anlaailaaha illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrosulullah," ucap sang imam yang kemudian diikuti oleh Crisstoffer Anderson.
"Asyhadu anlaailaaha illallah wa asyhadu Anna Muhammadarrosulullah," tanpa sadar pria berkebangsaan Inggris itu meneteskan air mata karena rasa haru dan bahagia menyeliputi hatinya.
"MasyaAllah, selamat Criss," Omar memeluk pria tampan itu dengan airmata yang ikut keluar dari pelupuk matanya.
"Ingatlah, bahwa kewajiban muslim adalah melaksanakan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan juga menunaikan ibadah haji," nasehat sang imam dengan perasaan yang sama dengan yang mereka rasakan. Yaitu bahagia dan juga haru.
"Terimakasih banyak pak, Atas izin Allah, saya akan melakukannya." jawab Crisstoffer sembari mencium tangan sang imam.
Setelah membayar zakat dan infak pada pengelola zakat dan infak di Masjid itu, mereka pun keluar dari Masjid itu dan berniat menunggu the Smith di Red Square saja.
Door
Satu tembakan ke arah mereka berdua yang syukurnya meleset karena Crisstoffer Anderson dan Omar Yusuf sedang berjongkok memakai sepatunya di tangga Masjid itu.
Tangan Criss mengambil selongsong peluru berdiamater 55 mm yang jatuh berdenting dari pegangan besi pada tangga masjid itu.
Ia segera mengambil kacamata dari kemejanya dan mengarahkannya ke segala arah agar ia bisa tahu dari arah mana sniper itu berasal.
"Brengsek!"
"Ada apa Criss?" tanya Omar penasaran. Ia sangat kaget karena pria yang baru memeluk agama Islam itu langsung mengumpat dengan keras.
"Maafkan aku uncle tapi bisakah kamu untuk kembali ke dalam masjid? ada beberapa orang yang sedang mengarahkan senjatanya kesini." Omar langsung berubah waspada. Ia juga memakai kacamata hitamnya agar pria itu bisa melihat ke arah depannya.
Mereka berdua masih dalam posisi berjongkok berpura-pura memakai sepatu. Omar segera meraih handphonenya dan menghubungi the Smiths untuk meminta bantuan.
Sniper itu ada dimana-mana mengelilingi area masjid agung Moskow. Sedangkan Crisstoffer menyimpan senjatanya di dalam mobilnya karena tidak mungkin membawa benda berbahaya itu ke dalam masjid.
"Alex, keadaan genting di masjid agung Moskow sekarang ini, kami butuh bantuan. Mereka membawa senjata."
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍