
Nikita dan Anna Peminov tiba di rumah itu bersama Omar yang baru saja tiba dari Moskow. Mereka bertiga masuk ke rumah dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Nikita membuka semua pintu kamar sembari berteriak memanggil Daddynya.
"Uncle Max, dimana Daddy?" tanya Nikita dengan nafas memburu. Ia heran saat semua kamar sudah ia periksa tetapi belum menemukan sosok daddynya yang menurut bibi Sarah sedang patah tulang.
Maksim tidak menjawab pertanyaan Nikita. Otaknya sedang berpikir keras bagaimana menghadapi situasi yang cukup kacau ini, sedangkan di atas sana ia yakin Alexander juga sedang berbuat kekacauan.
"Max, ceritakan apa yang terjadi!" ujar Omar yang juga ikut khawatir. Ia memandang Maksim menunggu jawaban.
Maksim menyentuh rambutnya perlahan kemudian dengan ekor matanya ia melihat Anna Peminov. Ia berharap agen cantik itu mengerti akan kode rahasia yang ia kirim melalui gerakan tangannya pada gadis itu.
Maksim menarik nafas lega karena gadis itu cepat tanggap akan apa yang ia maksudkan.
"Awww!" teriak Anna tiba-tiba. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu memandangnya kaget.
"Maaf dokter bisa aku meminta bantuan anda?" wajah Anna meringis sakit. Ia menyentuh kakinya seakan-akan merasakan sakit yang teramat sangat. Dengan langkah pincang ia berjalan ke arah sofa panjang di tengah ruangan yang sudah dibereskan oleh Maksim.
"Uncle Omar, aunty Anna tadi jatuh dari kuda. Dan kurasa sakitnya pasti baru terasa." ujar Nikita dengan wajah khawatir. Anna tersenyum padanya karena gadis kecil itu mau membantu aktingnya sekarang.
"Sakitnya di bagian mana?" tanya Omar sembari ikut duduk di samping Anna. Ia harus memastikan keluhan pasien sebelum mengambil tindakan. Matanya menelisik keseluruhan tubuh gadis tomboi yang sedang telentang di sebuah sofa panjang yang ia juga duduki. Gadis kepercayaan Alex yang pernah menolongnya ini pada kasusnya yang lalu.Ternyata ia cantik juga, pikir Omar dalam hati.
"Uncle Omar, aunty Anna jatuhnya terduduk gitu waktu latihan berkuda tadi." ujar Nikita membuyarkan lamunannya tentang gadis tomboi ini. Gadis kecil itu bercerita tentang kronologis jatuhnya Anna dari kuda sembari mempraktekkan gaya jatuhnya Anna saat di perkebunan.
"Lho, artinya bukan kakinya dong yang sakit tapi ininya." ujar Omar sembari menyentuh bokongnya sendiri dengan ekspresi ragu. Anna tersenyum kecut karena merasa sebentar lagi aktingnya akan segera ketahuan. Ia harus bisa mengulur waktu sampai sang bos menyelesaikan hajatannya dengan nyonya muda. Yang ia sendiri tak tahu dimana posisi kedua orang itu.
"Iyya Dokter. Tadinya bokongku dan pinggulku yang sakit tetapi sekarang kakiku juga tiba-tiba sakit juga. Dokter bisa lihat kalau tidak percaya." Anna menutup matanya saat menjawab pertanyaan dokter Omar. Ia takut melihat ekspresi tak percaya dokter Omar yang pasti sedang menatapnya.
"Lihat yang mana? kaki, pinggul atau bokong?" tanya Omar dengan nada suara yang terdengar menahan tawa.
"Terserah dokter saja, semuanya juga boleh, ups 🤭." jawab Anna masih merem tetapi ia langsung menutup mulutnya karena jawabannya bermakna ambigu.
Maksim yang sudah melihat ada perkembangan pada akting Anna, segera mengajak Nikita keluar dari ruangan itu. Karena ia yakin adegan selanjutnya adalah area dewasa dan mengandung formalin, eh 🙄.
"Nikita, uncle butuh bantuanmu sayang." bisik Maksim kemudian mengangkat tubuh Nikita agar cepat sampai di luar tanpa banyak perlawan dari gadis cilik itu.
"Uncle, kenapa aku dibawa keluar kasihan Daddy dan aunty Anna. Mereka semua sedang sakit, uncle." Nikita berusaha turun dari gendongan Maksim dan ingin masuk lagi ke ruangan itu.
"Daddy sebentar lagi sehat, kan ada mommy Aisyah yang mengobatinya." jawab Maksim kemudian mendudukkan Nikita di jok depan mobilnya.
"Aunty Anna, bagaimana? ia juga sakit uncle."
"Kan ada Dokter Omar, sayang. Sekarang temani uncle ke rumah ibu guru Maryam." jawab Maksim kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya ke sebuah rumah yang berjarak sekitar 10 menit dari tempatnya sekarang. Ia ingin menemui gadis yang sudah lama tersimpan di dalam hatinya. Gadis yang ia ingin lamar hari ini juga.
Sementara itu di atas loteng rumah Alex.
Rasa rindunya pada tubuh suaminya membuat tangannya gemetar. Sementara itu Alex membuka matanya sedikit dan merasakan hal yang sama. Ada gelenyar aneh mulai merambat di sekujur tubuhnya ketika istrinya mulai menyentuh kakinya.
"Aku tahu kamu tidak tidur." ujar Aisyah yang merasakan suaranya ikut bergetar. Ia menarik nafasnya panjang agar suaranya kembali normal.
"Apakah ini sakit?" tanyanya sembari menekan telapak kaki Alex, sang suami. Daddy dari Nikita itu langsung membuka matanya perlahan kemudian menatap istrinya memijat kakinya lembut.
"Heem, Aaaaakh itu sedikit sakit." ujar Alex saat Aisyah menekan dengan sedikit kuat pada pergelangan kakinya.
Alex yakin kalau Aisyah yang ahli orthopedi sudah tahu kalau ia sedang berpura-pura. Tangan lembut perempuan cantik itu menjalar naik ke betisnya yang kuat dengan gerakan sedikit erotis. Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan istrinya itu hingga ia merasakan sesuatu dari dirinya menegang.
Alex yakin betul kalau Aisyah pasti bisa melihat dan merasakannya. Ia tak akan malu untuk menghiba dan memohon agar istrinya itu sekarang mau menerimanya.
Dengan cepat ia tangkap tangan lembut istrinya itu kemudian menatapnya dalam, mengantarkan rasa rindu dan cinta yang sudah meluap-luap di dalam hatinya.
Alex menarik tubuh istrinya itu hingga terjatuh ke atas tubuhnya.
Dengan rakus ia meraup bibir istrinya itu, menyentuhnya dan mengeksplornya semakin dalam. Ia bagaikan beruang merah yang sedang berhibernasi kemudian mendapatkan gangguan yang sangat menyenangkan. Bangun dan mengamuk mencari mangsa.
Sang pengganggu cantik di atasnya tak bisa berkutik. Ia menikmati semua sentuhan yang diberikan sang beruang hingga tak sadar kalau tangan sang dominan sudah berhasil melucuti semua penghalang pada tubuh istrinya.
Aisyah terlambat menyadari kalau tubuhnya sudah sama penampilannya dengan suaminya yang tak berpenghalang selembar benangpun.
Alex mengecup lembut tulang selangka istrinya yang sangat menonjol karena berat badannya turun drastis akibat dari kesedihan dan penderitaan yang dialaminya beberapa bulan ini.
"Maafkan aku, Aisyah. Maafkan aku sayang." bisik Alex disela-sela cumbuannya pada keseluruhan tubuh istrinya itu.
Aisyah tiba-tiba mendorongnya menjauh. Rasa benci dan jijiknya kembali menyeruak dari dalam hatinya. Bayangan suaminya menghabiskan malam-malam panjang dengan perempuan-perempuan lain kembali berkelebatan di dalam pikirannya. Seketika hasratnya yang sudah tersulut oleh sentuhan lembut dari sang suami langsung redup dan menghilang begitu saja. Kini yang ada adalah rasa tak terima dan cemburu.
"Aku membencimu Alex! pergi kamu dari hadapanku! aku tak mau melihatmu!." teriaknya kemudian memakai segera pakaiannya sambil menangis.
"Aisyah, tolong maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu." hiba Alex sambil memeluk kaki istrinya itu agar tidak meninggalkannya tetapi Aisyah segera menepisnya dengan keras. Ia memakai pakaiannya dengan terburu-buru kemudian keluar dari kamar itu. Ia menuruni anak tangga dan melihat Omar ada di bawah bersama Anna.
"Aisyah? kamu darimana? mana Alex?" tanya Omar dengan wajah bingung.
"Aku pulang kak." jawab Aisyah singkat kemudian meninggalkan rumah itu dengan tangis diwajahnya. Ia membenci dirinya yang hampir saja terlena dengan sentuhan manis suaminya. Pria yang begitu sangat menyakitinya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍