Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 215 EMHD



Nikita segera menarik tangan Elif saat keluar dari kelas. Dua gadis berhijab itu dengan cepat mencari tempat sepi untuk membicarakan hal yang baru saja terjadi.


"Niki, apa yang dibicarakan oleh Pak Anderson tadi?" tanya Elif penasaran.


"Aku tidak tahu apa maksudnya sebenarnya tapi kurasa ia sangat mencurigakan." jawab Nikita dengan ekspresi takut.


"Kamu tahu Elif, ia memandangiku dengan sangat aneh. dan kurasa aku tidak akan lulus mata kuliahnya,"


"Hei, apa hubungannya Niki?" tanya Elif bingung dengan kata-kata sahabatnya.


"Karena aku mungkin tidak akan masuk belajar kalau ia yang mengajar. Kamu ingat kan dia itu psikopat yang membawa senjata api kemanapun. Aku heran kenapa orang seperti itu bisa menjadi seorang dokter dan dosen sekaligus."


"Ah ya kamu betul sekali."


"Bagaimana kalau kita melaporkannya pada pihak universitas bahwa Pak Anderson itu orang yang sangat berbahaya, Elif?" tanya Nikita meminta pendapat sahabatnya itu.


"Tapi aku takut Niki."


"Trus kalau dia melakukan sesuatu yang berbahaya di kampus ini bagaimana? setidaknya agar Universitas memantau orang itu Elif."


"Ah baiklah, tapi kamu saja yang bicara ya."


"Iya biar aku yang bicara kamu tenang saja," Mereka berdua pun melangkah ke arah kantor administrasi fakultas. Mereka akan menemui Pak Andrew Permanev, pimpinan tertinggi di Fakultas ini.


"Selamat siang Pak Permanev," ujar Nikita dan Elif bersamaan.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Andrew Permanev dengan ramah.


"Begini Pak, kami ingin melaporkan suatu hal. Tetapi ini sungguh hanya agar pihak Kampus berhati-hati."


"Iya katakan saja."


"Tentang dosen baru di kelas kami, Pak Christoffer Anderson itu. Sebaiknya bapak memantaunya terus karena ia itu sangat berbahaya Pak,"


"Maksud kalian apa? dan berbahaya seperti apa?"


"Kami pernah melihat orang itu memaksa seorang gadis dengan mengunakan senjata api di jalan yanh sunyi dan itu sangat mengerikan Pak,"


"Apa kamu yakin dengan perkataanmu itu?" Andrew memandang dua mahasiswi Muslim yang sedang berada di semester ke empat itu.


"Tentu saja itu benar, tetapi jangan bilang-bilang kalau kami yang mengatakannya Pak,"


"Kenapa?"


"Karena kami takut pak Anderson akan mempersulit nilai kami nantinya."


"Oh, ternyata kalian takut juga ya,"


"Tentu saja kami takut, kami dari keluarga baik-baik dan tak pernah melihat seorang psikopat seperti itu."


"Ah baiklah, saya akan memanggil khusus Pak Crisstoffer Anderson dan menanyakan kebenarannya."


"Eh jangan Pak, anda tidak harus melakukannya."


"Lalu apa yang harus saya lakukan?"


"Minta bagian keamanan kampus untuk mengawasinya saja karena sewaktu-waktu penyakit orang itu akan kambuh lagi."


"Terimakasih Pak, kami permisi," ujar Nikita dan membawa Anny ke tempat parkir.


"Sekarang kita pulang saja, semua orang di rumahku akan pergi berlibur weekend in." ujar Nikita dan membawa Elif untuk diantarnya pulang ke rumahnya.


Crisstoffer Anderson memandang kepergian dua gadis itu dengan seringaian diwajahnya.


"Baik Pak, saya akan segera ke ruangan anda." jawab Crisstoffer Anderson kemudian keluar lagi dari mobilnya. Ia harus menemui pimpinan fakultas itu karena ada hal penting yang katanya perlu dibicarakan saat itu juga.


"Baiklah gadis cerewet, hari ini masih panjang. Aku akan ke rumahmu untuk bertamu setelah pertemuanku dengan Pak Andrew Permanev." ujar Crisstoffer Anderson sembari melanjutkan langkahnya ke ruangan pimpinan tertinggi di fakultas kedokteran umum itu.


🍁


Sesampainya di rumah. Semua anggota keluarga besar Smith sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara. Yang tersisa hanya Nikita yang belum bersiap-siap.


"Ayo kak Niki ambil cepat pakaianmu karena kita akan berangkat sekarang juga," ujar Danil saat Nikita muncul di depan pintu utama.


"Hah? secepat ini? kenapa terburu-buru sekali? " tanya Nikita dengan wajah bengong tak percaya semua orang sudah siap dengan tas dan barang bawaan mereka.


"Karena besok weekend sayang, jadi lebih cepat kita berangkat, kita akan lebih banyak waktu disana."


"Ah ya baiklah Mom," ujar Nikita dan langsung berlari ke dalam kamarnya memasukkan beberapa potong pakaian kemudian keluar lagi.


"Dad, apakah ini liburan dadakan? aku tak pernah mendengar sebelumnya kalau kita akan menghabiskan weekend ini di luar negeri."


"Iya sayang, ini surprise. Ada rekan Bisnis yang memintaku membawa semua keluarga ke negaranya. Mereka ingin mengenal keluarga kita. Dan kurasa saat ini kita semua ada waktu jadi kenapa tidak?"


"Oh ya, dimana tempatnya Dad?"


"Kazakhstan, negara tetangga kita."


"Woow, aku suka itu. Ayo sekarang kita berangkat." Nikita sudah lama ingin ke negara itu.


Ia pernah merencanakan akan pergi bersama dengan Elif suatu hari nanti tetapi ternyata sang Daddy sudah mewujudkannya. Setelah sampai ia akan menghubungi Elif untuk datang juga kesana.


"Let's go!" teriak Danil, Emran, dan juga yang lainnya.


Mereka semua berangkat sore itu dengan menggunakan pesawat komersil.


Dengan menempuh perjalanan Udara kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai juga di negeri Kazakhstan.


Kazakhstan merupakan sebuah negara lintas benua yang sebagian wilayahnya masuk ke dalam kawasan Asia Tengah dan sebagian kecil lainnya masuk dalam kawasan Eropa Timur.


Kazakhstan berbatasan langsung dengan Tiongkok, Kirgistan, dan Uzbekistan di timur, Rusia di sebelah Utara, Turkmenistan di Selatan, serta Rusia dan Laut Kaspia di sebelah barat.  Negara ini mendeklarasikan kemerdekannya pada 16 Desember 1991. 


Lokasi negaranya yang berada di pertengahan 2 benua membuat negara ini kaya akan budaya yang sangat menarik. Tak hanya itu, Kazakhstan juga memiliki banyak destinasi wisata yang mampu menarik banyak wisatawan.


Sementara itu di Rumah kediaman keluarga Smith, sebuah mobil mewah memasuki halaman Rumah itu dengan sebelumnya membawa kartu identitas sebagai dosen yang mengajar di Moscow State University of Medicine and Dentistry (MSUMD).


"Permisi, saya Crisstoffer Anderson ingin bertemu dengan tuan Alexander Smith," ujar Crisstoffer Anderson saat ia bertemu dengan kepala pelayan di depan pintu utama.


"Maaf tuan, semua keluarga baru saja berangkat berlibur."


"Bisa saya tahu kemana mereka pergi?" tanya Crisstoffer Anderson dengan wajah tak nyaman.


"Mohon maaf, tapi tuan Smith tidak mengizinkan kami untuk memberi tahu pada orang asing kemana tujuan mereka saat ini." Crisstoffer Anderson mengerang kesal. Rasanya ia ingin memberikan satu pelajaran penting bagi pelayan ini.


"Saya bukan orang asing, saya adalah dosen di Fakultas kedokteran umum tempat nona Nikita Smith belajar."


"Mohon maaf, anda bisa datang lagi pada hari Senin saat mereka sudah kembali."


"Baiklah permisi." Crisstoffer Anderson pergi dengan wajah kecewa. Ia melajukan mobilnya ke arah Club. Ia perlu menenangkan diri dulu dan juga bersabar. Mungkin dengan dihibur oleh gadis-gadis cantik kota Moskow akan membuat otaknya jadi segar kembali.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍