Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 232 EMHD



Rakhata, Dagestan.


"Kenapa kita kembali ke Dagestan Dad dan bukannya ke Moskow?" tanya Nikita saat pesawat jet pribadi klan Smith tiba di wilayah paling selatan di Rusia itu. Yaitu di Bandara Uytash yang terletak 25 kilometer dari Makhachkala, ibu kota Dagestan.


"Semua keluarga ada di Rahkata sayang," jawab Alex sembari membawa putrinya itu menuruni tangga pesawat.


"Apa ada acara di sana Dad?" tanya gadis itu lagi penasaran. Alex tidak menjawab. Pria itu terus melangkah keluar bandara sembari menarik tangan putrinya ke arah Valet.


Lima orang itu kemudian naik ke mobil yang sudah siap membawa mereka ke rumah mendiang Mohammad Yusuf.


"Kita berangkat sekarang, Max!" seru Alex saat mereka berlima sudah duduk dengan nyaman di atas mobil. Kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tempuh untuk sampai di rumah di desain Rakhata.


Semua orang yang berada dalam mobil itu belum mau menyampaikan kalau kakek Nikita sudah berpulang menghadap sang khalik beberapa hari yang lalu. Hingga Nikita hanya sibuk menceritakan apa saja yang ia lakukan selama di Birmingham Inggris.


"MasyaAllah, jadi William Anderson dan asistennya itu mendapatkan hidayah lewat dirimu Niki, kamu hebat." ujar Omar terpukau dengan cerita gadis cantik itu.


"Itu semua karena Allah uncle, bukan karena aku." jawab Nikita dengan wajah penuh haru.


"Tapi melalui kamu sayang, kamu telah membantu orang lain untuk mendapatkan hidayah. Itu adalah hal yang luar biasa, betulkan Alex?" ujar Omar sembari menatap wajah sang adik ipar. Alex menjawab dengan senyum diwajahnya. Tak nampak samasekali kalau pria itu gembira dengan pengalaman yang sangat luar biasa yang disampaikan oleh Nikita.


"Alex, apa kamu baik-baik saja?" tanya Omar dengan wajah curiga.


"Ya, aku baik. Memangnya kenapa kak Omar menanyakan hal itu?" tanya Alex balik.


"Ah tidak. Kalian bertiga kenapa jadi berubah jadi pendiam seperti ini?" tanya Omar dengan wajah mengkerut sedang berpikir.


"Kami sedang malas bicara kak Omar." jawab Albert dari arah depan. Seperti biasa ia adalah driver handal dari keluarga Smith.


"Ih Daddy sama uncle tidak asyik, padahal aku sudah bercerita banyak hal tentang kakek William, tetapi kalian tidak merespon dengan baik." ujar Nikita merajuk. Alex langsung meraih putri kesayangan itu kedalam pelukannya.


"Aku terlalu bahagia karena bertemu denganmu sayang, sampai aku tidak tahu harus berkata apa." jawab Alex cepat, tak mau melihat putrinya kecewa dan bersedih.


"Apa si brengsek itu tidak membuatmu tak nyaman Niki?" tanya Albert tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalan menanjak di pegunungan Kaukasus itu.


Nikita terdiam. Ia rasanya tak ingin mengingat pria brengsek itu di dalam kepalanya meskipun hanya lewat mimpi.


"Niki?" tanya Alex berusaha meminta jawaban dari pertanyaan Albert tadi. Tetapi gadis itu langsung membuang wajahnya ke pepohonan sepanjang jalan itu. Tanpa sadar Alex mengepalkan tangannya marah.


"Katakan sayang, apa ia melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? atau ia melakukan kekerasan padamu? kekerasan verbal atau kekerasan fisik?" Alex terus memberondong putrinya dengan banyak pertanyaan.


"Iya Dad," jawab Nikita kemudian memeluk Daddynya sembari menangis. Semua pria yang ada di mobil itu langsung menarik nafas berat dengan rahang mengetat sempurna. Albert sampai menghentikan mobilnya mendadak. Bayangan kekerasan fisik dan herbal yang dialami oleh Nikita berputar-putar di kepala mereka berempat.


Andaikan Crisstoffer Anderson ada di depan mereka saat ini maka mereka menjamin tubuh pria itu akan hancur lebur hanya dengan tatapan tajam mereka yang bagaikan laser panas.


Alex meraup wajahnya kasar. Pikirannya bisa membunuhnya sendiri hanya dengan membayangkan Nikita sudah tidak perawan lagi karena pria brengsek itu. Tetapi tidak mungkin ia menanyakannya pada Nikita saat ini.


"Al, lanjutkan perjalanannya! Dan aku pastikan pria brengsek itu akan mati di tanganku." seru Alex sembari menepuk-nepuk punggung putrinya yang masih menangis.


"Mommy!" teriak Nikita saat baru tiba di rumah luas dan sederhana itu. Gadis itu langsung menghambur kepelukan Mommynya dengan rasa bahagia dan rindu yang ia rasakan.


"Nikita sayang, syukurlah kamu sudah pulang dengan selamat." ujar Aisyah dengan rasa haru dan bahagia dihatinya. Reisya, Maryam, dan juga Anna bergantian memeluk gadis itu dengan ucapan penuh syukur. Mereka semua bahagia karena putri kesayangan mereka sudah bisa berkumpul di Rumah besar itu.


"Niki," panggil Elif yang juga ikut bergembira dengan kedatangan sahabatnya itu.


"Elif? kamu juga tinggal di sini selama aku tidak ada?" tanya Nikita dengan wajah penuh tanya. Gadis asal Turki itu hanya tersenyum dan menciumi pipi halus Nikita.


"Kamu kenapa semakin cantik setelah membuat kita semua bersedih di sini?" tanya Elif dengan bibir mengerucut pura-pura kesal.


"Ish, aku kan punya teman baru disana, hihihi," jawab Nikita cekikikan. Membayangkan teman baru seumuran William Anderson dan juga asistennya.


"Hemm, jangan katakan kalau teman barumu itu si Crisstoffer Anderson ya?"


"Ish, amit-amit. Semoga malaikat tidak mendengar kamu mengucapkan itu Elif, itu sangat keterlaluan kamu tahu? aku sangat membenci orang itu sampai ke tulang-tulangku." jawab Nikita sembari mengedipkan bahunya ngeri.


Lama mereka mengobrol sampai semua bocah pun ikut menghampiri Nikita yang cukup dekat dengan adik-adiknya itu.


"Kak Niki, kamu dari mana saja?" tanya Danil pada kakak perempuannya itu.


"Ah Danil, Asma, Sofiya, dan semuanya..." sapa Nikita pada semua sepupunya yang sedang mengerubutinya dan meminta jawaban atas ketiadaannya selama beberapa hari ini.


"Maafkan aku ya karena aku sibuk mengurus kakek William yang sedang sakit di Inggris." jawab Nikita dengan tangan mengacak rambut bocah-bocah itu.


"Dan kamu tidak memberi kabar dan juga tidak pulang saat kakek Yusuf meninggal dunia?" tanya Danil dengan wajah tak bersahabat.


Deg


Nikita terdiam dan mematung. Ia menatap semua orang di dalam ruangan besar itu secara bergantian. Matanya berkeliling mencari sosok pria tua bijaksana yang sangat baik dan lembut hatinya. Tapi tak ia temukan disana.


"Apakah yang dikatakan oleh Danil benar mom?" tanyanya pada Aisyah yang sedang menyusut airmatanya. Perempuan cantik itu mengangguk disertai suara tangis yang menyayat hati.


"Mommy, kenapa kalian tidak memberi tahu aku?" tanya Nikita kemudian ikut menangis dan memeluk Aisyah.


"Karena kamu tidak ada di sini sayang, kamu juga tidak berada di dekatnya saat ajal menjemputnya."


"Huaaaa, kakek..." Nikita menangis kembali sembari berteriak memanggil kakek Mohammad Yusuf yang telah lama meninggalkan seluruh keluarga dan juga warga suku Avar di desa itu.


"Sabar sayang, ikhlaskan dan kirimkan do'a terbaik untuk almarhum." Nikita mengangguk tapi hatinya sungguh sangat sedih sekarang ini. Dalam hati ia mengutuk Crisstoffer Anderson yang telah menculiknya sehingga ia tidak sempat melihat jenazah kakeknya tercinta.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍