Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 73 EMHD



POV Alexander Smith


Aku menatap Maksim dengan pandangan mata jengah dan bosan tingkat tinggi. Aku ingin menyudahi perjalanan bisnis ini yang kurasakan seperti berabad-abad lamanya tanpa Aisyah dan Nikita di sampingku.


"Ini sudah 14 hari Max, tapi kenapa perizinan itu belum juga kita dapatkan hah?" gerutuku kesal.


"Sepertinya ada yang berusaha mempersulit kita boss." jawab Maksim dengan wajah berkerut tak suka dengan keadaan ini.


"Kalau sampai besok kita belum juga mendapatkannya. Sebaiknya kita sudahi saja. Aku mau pulang." ujarku lagi dengan tak sabar. Rinduku pada istriku rasanya membuatku cepat emosi dan pada akhirnya Maksimlah yang jadi pelampiasan kemarahanku.


Sungguh ini adalah pertama kalinya aku meninggalkan Aisyah begitu lama setelah perpisahan kami selama 3 tahun itu. Segera kubuka handphoneku untuk menghubunginya. Beberapa kali kucoba tetapi ternyata selalu di luar jangkauan.


Mungkin ia sedang sibuk bersama Nikita dan Omar, pikirku dalam hati. Tetapi sampai sore ini, istriku itu belum juga mengangkat teleponku bahkan terhubung pun tidak. Seketika hatiku merasa tak enak. Jariku segera bergerak menelepon kakak iparku, Omar. Aisyah kemarin meminta izin padaku akan mengunjungi saudara laki-lakinya itu. Pasti ia masih di sana.


"Assalamualaikum kak Omar." sapaku di sore hari itu, Maksudku di Amerika sekarang sudah pukul 16.34 sedangkan di Rusia sudah pukul 0:34. Perbedaan waktu kami yang cukup jauh ini membuatku tidak enak hati mengganggu Omar yang mungkin sedang beristirahat.


"Waalaikumussalam Alex." jawabnya dengan suara berat. Mungkin ia sudah tidur dan terbangun dengan teleponku ini.


"Apa aku mengganggu waktu istirahatmu kak Omar?" tanyaku dengan hati-hati.


"Oh tidak, aku baru saja ingin tidur. Ada banyak pekerjaan yang aku selesaikan malam ini." jawab Omar lagi dengan tenang diseberang sana.


"Katakan, ada apa?" lanjutnya dengan pertanyaan.


"Dimana Aisyah, apakah ia menginap di rumahmu?"


"Tidak, Aisyah sudah lama pulang sejak sore tadi. Ia bahkan tak pamit padaku." jawab Omar yang langsung membuat rasa khawatirku semakin menjadi-jadi.


"Tapi semua orang di rumah mengatakan Aisyah belum pulang sampai saat ini." Kudengar Omar menarik nafas dan terdiam diujung telepon. Mungkin ia juga sedang kaget atau khawatir.


"Tidak mungkin. Tapi aku juga heran kenapa bisa ia pulang tanpa pamit padaku. Coba kamu hubungi nona Anna Peminov. Ia pernah bilang kalau sudah ada janji dengan agen perempuan itu." saran Omar kepadaku. Aku setuju dan kemudian kusudahi percakapan kami saat itu juga. Aku langsung menghubungi Anna Peminov sesuai petunjuk Omar, tetapi nomornya juga sedang tidak aktif.


"Oh, Shiit!" umpatku dengan emosi di dada. Aku meraup wajahku kasar.


"Max, Hubungi Albert di Moskow. Katakan padanya ia tak akan kuampuni kalau sesuatu terjadi pada Aisyah." titahku pada Maksim. Pria kepercayaanku itu langsung menghubungi Albert yang mungkin juga tertidur sekarang.


Wajah Maksim berubah warna dan bahkan tak berani menatapku.


"Ada apa Max? jangan tampilkan wajahmu seperti itu aku tidak suka." ujarku emosi karena aku sudah bisa menebak kalau ada hal buruk yang terjadi di keluargaku. Maksim tidak menjawab pertanyaanku ia hanya memperlihatkan tampilan di layar handphonenya. Seketika kurasakan tubuhku gemetar karena takut dan emosi bersamaan.


"Aisyah?" gumamku pelan. "Apa mungkin Aisyah sudah melihat ini semua Max?" tanyaku pada Maksim agar ia menjawab tidak. Tetapi ternyata ia mengangguk.


"Berita ini sudah terbit empat jam yang lalu bos. Dan aku yakin jutaan rakyat Rusia sudah melihatnya. Karir mu di dunia Politik sepertinya akan hancur setelah ini." jawab Maksim tanpa mau melihat wajahku.


"Max, cari penerbangan sekarang. kita pulang." titahku. Dan aku segera menyiapkan barang yang akan kami bawa pulang.


"Bersabarlah sedikit bos. Izin itu sudah selesai dan kita akan lanjutkan proyek ini di sini." ujar Maksim membujukku agar aku bersabar sedikit saja.


"Kita sudah menunggu sampai lebih dari 2 pekan. Rasanya sia-sia kalau kita meninggalkan ini semua. Aku yakin Albert bisa kita andalkan di sana " aku akhirnya mengalah. Walaupun ini akan sangat menyiksaku. 16 Jam akan aku lewati di sini dengan rasa khawatir yang bisa membunuhku. Kutatap kembali handphoneku yang berisikan wallpaper gambar kami bertiga, Aisyah, Nikita, dan aku.


"Tunggu aku Aisyah. Akan aku jelaskan padamu sayang." bisikku kemudian mencium layar handphone itu seakan perempuan cantik itu ada di hadapanku.


🍁


Akhirnya penerbangan yang kami tempuh sekitar 14 Jam 42 menit ini selesai juga. Aku tak sabar untuk pulang ke rumah. Tetapi dalam perjalanan pulang, pimpinan partai politik yang akan mengusungku menjadi salah satu calon kandidatnya, menghubungiku agar segera ke kantor pusat untuk mengadakan konfirmasi atas berita yang sempat ramai di medsos tentang diriku. Aku menatap Maksim meminta pertimbangannya. Dan Maksim mengangguk.


"Ya aku harus bertanggung jawab atas kekacauan ini." ujarku mantap.


"Anda tahu Mr. Smith, kesan baik harus selalu kita tampilkan agar rakyat percaya bahwa kita orang baik di segala bidang. Di kehidupan bermasyarakat maupun di kehidupan pribadi." ujar Ivanovic dengan tenang tetapi suaranya mengandung kemarahan yang teramat dalam. Aku hanya diam, aku tak memperdulikan lagi tentang nama baikku sekarang karena yang aku pikirkan sekarang adalah aku bisa segera berjumpa dengan istriku dan menjelaskan semuanya.


"Saat menjelang pemilihan umum semua orang berusaha saling menjatuhkan lawan dengan cara apapun, dan anda termasuk di dalamnya. Dijatuhkan dengan cara yang sangat cantik." ujar Ivanovic menyeringai.


Aku sungguh tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi tentang dunia politik yang baru aku ikuti ini. Tetapi ia tetap mengoceh seperti sedang memberi kuliah hukum dan politik di negara ini.


"Saat ini, parlemen Rusia disebut Majelis Federal Rusia. Ini terdiri dari dua majelis, yakni Duma Negara (majelis rendah) dan Dewan Federasi (majelis tinggi)." jelasnya dengan wajah sok tahu.


Dewan Federasi terdiri dari dua perwakilan dari setiap subjek federal (wilayah) Federasi Rusia, yakni satu perwakilan dari cabang legislatif (parlemen regional) dan satu lagi dari cabang eksekutif (pemerintah daerah). Anggota Dewan Federasi disebut senator. Selain itu, 30 senator diangkat oleh presiden. Dewan Federasi adalah badan permanen. Berbeda dari Duma Negara, dewan ini tidak dapat dibubarkan oleh presiden. Pertemuannya diadakan seperlunya, tetapi setidaknya dua kali sebulan.


Duma Negara memiliki sejumlah fungsi yang berbeda, yang paling penting adalah membahas dan menyetujui atau menolak rancangan undang-undang, menyetujui penunjukan perdana menteri, mendengarkan laporan kerja tahunan pemerintah, pengumuman amnesti, dan bahkan mengajukan pemakzulan terhadap presiden (diperlukan dua pertiga mayoritas untuk melakukan pemakzulan). Setiap warga negara Rusia yang berusia di atas 21 tahun dan memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam pemilihan, dapat dipilih sebagai wakil Duma Negara.


Aku berdiri karena mulai gerah dengan kuliah dari Ivanovic yang malah mengambil waktuku yang sangat berharga ini.


"Aku mundur tuan Ivanovic, keluargaku sepertinya tidak cocok dengan dunia ini. Dan mengenai berita skandal itu. Aku akan membuat konferensi pers setelah keluargaku baik-baik saja. Permisi." ujarku kemudian berlalu dari hadapannya.


"Hey, tunggu Mr. Smith, meskipun banyak yang menghujatmu tetapi dukunganmu tetap banyak!" teriak Ivanovic tak rela aku mundur. Aku mengabaikan teriakannya karena sejak dalam perjalanan pulang kemari, aku sudah memutuskan untuk tidak ikut lagi dalam dunia politik. Aku tentu saja kuat jika ada lawan yang ingin menjatuhkan aku tetapi bagaimana dengan Aisyah, ia masih polos dan suci. Aku takut dirinya terguncang dengan semua ini.


Sesampainya di rumah, Aku memanggil Aisyah dan Nikita bergantian. Kubuka semua ruangan untuk mencari mereka berdua tetapi mereka tak ada dimana-mana. Pelayan mengatakan kalau mereka belum pulang sejak tadi pagi.


"Aisyah dimana kamu?" ujarku sembari menutup wajahku dengan telapak tanganku.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍