Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 83 EMHD



POV Alexander Smith


Aku meraup wajahku kasar karena marah dan sedih Aisyah menolak dan meneriakkan kata benci lagi padaku.


Seharusnya aku mengajaknya bicara terlebih dahulu dari hati ke hati. Dan mendengarkan keluh kesahnya padaku selama ini, bukannya langsung menyerangnya seperti tadi.


Ia pasti merasa kalau aku hanya menginginkan tubuhnya saja sebagai pemuas hasratku seperti perempuan-perempuan lain yang pernah terlibat skandal denganku.


Sungguh aku tak bisa menahan kerinduanku padanya hingga aku terlalu bersemangat melucuti pakaiannya dan mencumbunya dengan begitu rakus dan lapar.


Aku pikir dengan mendekatinya dengan cara seperti itu hatinya bisa mencair dan memaafkan kesalahanku tetapi aku salah, ia justru menolakku saat aku sedang di puncak hasrat.


Aku merasa menjadi pria yang paling menyedihkan sekarang. Ini yang pertama kalinya aku ditolak saat sedang berada di ketinggian hasrat yang sangat menyiksa. Kembali kulirik inti diriku yang ternyata masih on fire.


"Aisyah sayang, apakah aku harus bersolo karir dan melakukannya sendiri?" bisikku dalam hati.


"Kenapa pesona tubuhmu sungguh menyiksaku seperti ini?"


"Aaaakh!" aku berteriak frustasi. Aku ingin mengejar istriku itu kebawah tetapi keadaanku sungguh tidak memungkinkan. Terpaksa hanya dengan menarik nafas berkali-kali dan membayangkan tubuhnya berada dalam kuasaku aku baru bisa tenang dan merilekskan tubuhku yang menegang.


Setelah merasa aku sudah lebih baik, aku segera berpakaian dan turun. Aku akan menemui Aisyah bagaimanapun caranya.


Aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah dan mengambil kunci mobil Van tuaku yang selama ini mengisi garasi dan tak terawat.


Entah kenapa aku malas berjalan ke rumah mertuaku. Tubuhku kurasakan loyo tak bersemangat, tetapi aku harus menemui Aisyahku sekarang mengajaknya bicara meskipun akan ada teriakan benci darinya akan aku terima, aku yakin itu karena ia sangat mencintaiku dan tak ingin berbagi dengan yang lain.


Kuparkir mobil tua ini di halaman, kemudian aku segera masuk.


"Bibi, apa aku bisa bertemu Aisyah?" tanyaku pada bibi Sarah yang menatapku dari atas sampai ke bawah dengan wajah tidak percaya.


"Bukankah kakimu patah? kata Maksim kamu?" bibi Sarah tidak menjawab pertanyaanku ia malah memberiku pertanyaan yang lain. Aku tersenyum.


"Aisyah Sudah mengobatiku bibi, tolong tunjukkan dimana dia, aku ingat tadi belum sempat berterima kasih." Bibi Sarah tersenyum dan membawaku ke kamar istriku sambil berbisik, " bujuk dia dengan kata-kata yang baik. Kamu harus sabar. Perempuan itu paling suka kalau didengarkan dan dirayu. Ia sedang hamil Alex, buat dia bahagia. Kasihan bayinya nanti."


"Iyya Bibi, aku paham. Aku akan melakukannya dengan baik." jawabku kemudian memasuki kamarnya yang ternyata tidak terkunci.


Setelah aku berada di dalam aku segera mengunci pintu kamar itu dan menghampirinya yang sedang berbaring di bawah selimut tebal hingga rambutnya yang hitam saja yang nampak.


"Aisyah," panggilku dengan suara pelan. Kulihat ia bergerak sedikit kemudian diam. Aku tahu ia sedang terjaga tetapi hanya sedang berpura-pura tidur.


Aku ingin menyentuhnya tetapi kuurungkan niatku. Aku akan bicara saja dan membiarkan ia menjadi pendengar saja.


"Aisyah, sayangku. Baik aku ceritakan diriku dan masa laluku padamu semoga setelah ini kamu mau mengerti dan memaafkanku." aku menarik nafas panjang untuk melonggarkan pernapasanku.


"Aku sejak kecil ditinggal mati oleh kedua orangtuaku dengan sangat tragis hingga seorang pria kaya tetapi merupakan pimpinan dunia hitam mengambilku sebagai putranya dan menjadikan aku anak yang jahat dan kejam tak punya perasaan."


Kulihat Aisyah bergerak gelisah di dalam selimutnya. Aku tahu ia menyimak dengan baik apa yang aku ceritakan. Aku akan buka semuanya. Masa laluku memang sangat kotor. Yang bahkan dengan mandi dari 7 sumber air yang berbeda pun aku tetaplah kotor dan tak layak bersanding dengan perempuan cantik dan suci ini.


"Aku bertemu Paula Anderson di sebuah club dan kemudian kubawa ia ke rumahku untuk tinggal bersama, dan sejak saat itu aku tak pernah lagi bermain dengan perempuan-perempuan nakal di luar sana."


"Paula Anderson kuakui sebagai istri di depan semua orang karena aku begitu menyukainya meskipun aku tidak menikahinya. Ia melahirkan seorang putri yang cantik untukku. Nikita."


"Hingga sebuah kecelakaan terjadi dan merenggut nyawanya dan mengakibatkan kami berpisah untuk selama-lamanya. Tetapi sebelum ia meninggal ia mendonorkan matanya untuk Nikitaku agar putrinya bisa hidup normal seperti anak-anak yang lainnya."


Aku berhenti sejenak untuk menghapus air mata yang tiba-tiba keluar dari mataku.


"Aku sangat menyesal dan sangat merasa bersalah pada Paula karena selama ini tidak pernah memenuhi permintaannya untuk aku nikahi."


"Sampai aku ke desa ini untuk melupakan masa lalu burukku itu dan bertemu dengan orang-orang baik di tempat ini, termasuk dirimu."


"Aisyah, apakah kamu mendengarku? Kamu yang memberikan aku cinta. Kamu yang telah membuatku mempunyai semangat baru untuk berubah menjadi lebih baik." Ia tak bergerak dan sama sekali tidak memberiku respon. Mungkin ia belum bisa menerima apa yang sudah aku sampaikan.


"Aku dan Nikita akan kembali ke Moskow hari ini. Kalau kamu mau ikut, aku menunggumu. Maafkan aku karena aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama, aku akan datang menjenguk bayiku yang ada di dalam kandunganmu nanti saat aku ada waktu."


"Sampai jumpa lagi, kalau Tuhan mengizinkan kita bertemu kita pasti bertemu lagi."


"Aku mencintaimu."


Aku sengaja mengucapkan itu semua hanyalah untuk mendapatkan responnya tetapi ternyata ia tidak bereaksi sama sekali.


Aku melangkah keluar dari kamar itu dan berharap istriku yang sangat aku cintai itu mendatangiku tetapi sekali lagi tidak, harapanku tinggal harapan.


Karena di rumah tak kutemukan ayah dan bibi Sarah, akhirnya aku kemudikan mobil Van tuaku yang selama ini tidak pernah digunakan ke arah kaki gunung Kaukasus. Aku ingin membuang kesedihanku di sana. Aku ingin menyaksikan lebih banyak bukti kebesaran Tuhan di sana agar hatiku bisa lebih lapang menerima apapun yang sudah diatur oleh yang maha Kuasa untukku.


Perlahan aku melajukan mobil tua yang tak terawat ini ke bawah lembah Kaukasus. Dan aku mulai merasakan kalau remnya sedang tidak bekerja dengan baik. Aku berusaha mencari cara bagaimana menghentikan laju kendaraan ini yang semakin kencang dan juga tak bisa berhenti.


"Aaaaaakh!" teriakku dan aku sudah tidak merasakan apa-apa.


---Bersambung--


Aisyah, othor tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tidak mudah memang menerima pasangan kita yang mempunyai masa lalu kelam dan sangat buruk. Othor cuma mau bilang jangan sampai kamu menyesal karena tidak mau menerima maaf dari seseorang yang sudah berubah, apalagi itu adalah suamimu sendiri.


Dan kalau kamu mau mengikhlaskan Alex untuk othor maka dengan senang hati othor yang lagi gabut ini mau menerima hehehehe.😆😅🤭


🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey??


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍