Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 132 EMHD



Sepi...


Yang terdengar hanya deru nafas lelah dari dua insan yang telah saling melepaskan hasrat yang sangat menyiksa tetapi menjanjikan kenikmatan yang tak bertepi itu.


"Uncle Onty..."


"Ya ampun Omar, anak itu masih diluar menunggu kita," ujar Anna kemudian bangun dan segera ke kamar mandi dengan membawa handuknya yang dilemparkan oleh suaminya tadi ke sembarang arah.


Sedangkan Omar mengambil piyamanya dan melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Uncle! aku sudah hampir pingsan menunggumu di sini, apa yang kamu lakukan sampai lama sekali membuka pintunya!" seru Nikita dengan kemarahan yang sudah sampai pada puncaknya. Mata indahnya bahkan melotot tajam menandakan ia benar-benar marah sekarang.


"Maafkan uncle ya? tadi aku sedang memeriksa onty Anna sayang, ia selalu membuat aku harus terus memeriksa tubuhnya itu," jawab Omar asal, ia tidak tahu harus menjawab apa lagi pada putri Alex yang sangat suka mengganggu ini.


"Aku harus melihat onty Anna sendiri uncle, biarkan aku masuk." ujar Nikita kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.


"Dimana onty, uncle?" tanya Nikita karena tak menemukan perempuan kesayangannya itu yang sudah ia anggap sebagai teman.


"Hai Nikita sayang," ujar Anna yang baru keluar dari kamar mandi padahal baru juga 30 menit habis mandi sekarang ia mandi lagi.


"Oh My God, onty kamu benar-benar sakit." teriak Nikita histeris. Ia menyentuh bagian atas Anna yang hanya menggunakan handuk itu. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang ia Lihat.


"Ada apa Niki, kamu membuatku takut sayang," ujar Anna merasa tak nyaman. Jari-jari kecil Nikita menunjuk dan menghitung totol-totol keunguan di tubuh Anna mulai dari leher sampai dengan bagian dada perempuan itu.


"30 onty!"


"Apa Niki!"


"Ini kamu pasti terkena alergi kulit. Lihat bekasnya di sini Onty ini mengerikan sekali," ujar Nikita bergidik ngeri. Tubuh putih Anna bagaikan macan tutul.


"Uncle, suntikanmu tidak mampan, onty Anna malah tambah sakit dibuatnya," ujar Nikita sembari berkacak pinggang. Omar meremas tengkuknya sembari tersenyum samar. Ia menatap Anna yang juga sedang menatapnya.


"Biar onty yang jelaskan, aku mau mandi dulu ya Nikita sayang," ujar Omar dan segera kabur ke kamar mandi. Menghadapi Nikita yang sangat cerewet itu membuatnya pusing, entah bagaimana Alex dan Aisyah menghadapi putri yang kadang lucu tetapi lebih sering menyebalkan jika sedang mengganggu kesenangan orang lain.


"Onty, kamu tidak kesakitan kan? temanku di sekolah juga pernah terkena penyakit kulit, dan dia selalu mengeluh gatal dan sakit." Nikita menghampiri Anna kembali dan mengelus lembut bagian atas tubuh dari istri Omar itu.


"Sayang, ini bukan sakit kulit tetapi perbuatan uncle Omar," ujar Anna kemudian membawa Nikita ke atas pangkuannya.


"Ih uncle Omar jahat."


"Tidak sayang, Uncle Omar itu baik sekali dan sangat mencintai onty, ia mengobatiku dengan cara seperti ini agar nantinya ia dan aku juga bisa punya baby seperti baby Danil."


"Oh begitu ya? uncle Max juga pernah bilang mau punya baby kecil, apa ia juga melakukannya pada onty Maryam?"


"Iya sayang, tapi nanti saat kamu sudah besar, kamu pasti tahu maksudnya, okey"


"Okey, onty. Sekarang ayok kita keluar melihat lukisan nenek Sarah dan juga lukisan aku." ujar Nikita kemudian melompat dari pangkuan Anna, ia menarik tangan perempuan itu untuk mengikutinya keluar.


"Sholat duhur dulu sayang baru kita kesana, onty juga sangat lapar. Diluar banyak makanan kan?"


"Oh iya, aku lupa, iya kita sholat dulu baru kemudian makan."


Setelah sholat duhur berjamaah, mereka bertiga pun keluar dari kamar itu dan mencari makan siang terlebih dahulu yang sudah disiapkan oleh panitia acara.


"Lukisannya benar-benar cantik ya," ujar Anna saat melihat Albert memperlihatkan sebuah lukisan hasil karya tangan dari Elena Ivanov.


"Tentu saja, makanya aku membelinya dengan harga yang mahal." jawab Albert sembari tersenyum senang.


"Aku suka lukisan sejak hari ini," jawab Albert santai tetapi kemudian ia melanjutkan,


"Terimakasih dokter karena kamu menyiapkan tempat ini untuk orang-orang yang mempunyai bakat dan juga minat pada hal-hal seperti ini."


"Iya uncle, lihatlah nenek Sarah, ia ikut melukis bersama dengan yang lainya di sana." timpal Nikita sembari menunjuk tenda Sarah yang tak jauh dari mereka semua berdiri di sana.


"Tetapi nenek Sarah mengaku stress karena tidak tahu melukis, hahahhaha." ujar Nikita merasa lucu dengan ekspresi wajah Sarah dengan peluh di wajahnya yang tua. Ia sering kesulitan menentukan warna yang cocok untuk semua goresannya.


"Al? kamu sudah ada di sin" tanya Alex yang juga ikut makan di meja mereka.


"Iya bos."


"Jangan lagi panggil aku Bos, Al. Aku kan kakakmu," ujar Alex meralat panggilan yang selama ini dipakai oleh Albert dan Maksim untuk memanggilnya. Albert hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kak Omar, apakah kamu ingin berbulan madu di Indonesia?" tanya Alex pada Omar sang kakak ipar.


"Boleh juga, itu ide yang sangat bagus. Aku juga belum pernah mengunjungi negara itu yang katanya sangat ramah dan juga indah." jawab Omar sembarangan meremas tangan Anna dibawah meja lalu ia melanjutkan,


"Aku kan masih ada waktu cuti sekitar 7 hari ke depan. Aku akan gunakan waktu itu untuk berbulan madu."


"Aku ikut uncle jika kamu membawa onty Anna," ujar Nikita sembari menatap tajam sang dokter.


"Niki, kita semua akan berangkat ke sana sayang." timpal Aisyah yang baru bergabung di meja itu, Maryam dan juga Maksim menyusul di belakangnya.


"Berangkat kemana ini?" tanya Maksim yang tidak tahu menahu pokok pembahasan yang sedang mereka perbincangkan.


"Ke Indonesia untuk menikahkan Albert dan kekasih hatinya, Reisya." jawab Alex sembari menepuk bahu Albert yang masih setia memeluk lukisan Elena Ivanov.


"Alhamdulillah, aku senang sekali, sekalian kita mengunjungi tempat-tempat wisata di negara sana." ujar Maryam dengan wajah antusias meskipun ia masih sering merasa mual.


"Dan bisa memakan makanan asli dari negara itu," lanjut Maryam sembari membayangkan bakso cinta yang terkenal itu.


"Yeay kita bisa bebas makan bakso yang enak, tapi apakah baby Danil juga akan ikut onty?" Nikita memandang Maryam dengan penuh tanda tanya.


"Tentu saja ada sayang, kalau mommy Aisyah juga ikut." jawab Maryam dengan senyum di wajahnya.


"Ini pasti akan sangat menyenangkan,"


"Kapan kita berangkat Alex?" tanya Omar penasaran.


"Setelah ayah dan bibi Sarah kembali ke Dagestan. Besok pagi mereka meminta diantar ke stasiun. Ayah sudah lama meninggalkan kampung halaman dan aku yakin ia pasti sudah sangat rindu," jelas Alex tersenyum.


Bersiaplah segera kita akan berangkat ke Indonesia lusa.


"Okey siap!" jawab ketiga pasangan itu ceria.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya,. okey?


Sebelumnya kepoin dulu dong Novel teman othor nih,