
Hari yang cukup sibuk di rumah kediaman Smith. Hari semua orang akan melakukan aktivitas di luar rumah.
Alexander dan Maksim akan mengunjungi sebuah lelang amal. Sedangkan Albert seperti biasa memantau perkembangan beberapa swalayan di kota Moskow.
Para istri akan berangkat ke sekolah untuk mengajar sekaligus membawa bersama mereka, para bocah cilik yang akan ikut untuk bersekolah.
Kegiatan Nikita tak jauh berbeda dengan semua orang di dalam rumah itu. Ia juga sibuk bersiap-siap menuju tempatnya menuntut ilmu.
Aisyah yang bangun kesiangan karena perbuatan suaminya semalam kini berubah jadi seperti setrikaan. Keluar masuk kamar untuk membantu anak-anaknya bersiap sedangkan Alex hanya bisa menatap kelincahan tubuh gesit istrinya itu.
"Aisyee, aku akan tugaskan pelayan untuk membantumu sayang," ujar Alex yang merasa kasihan kalau setiap pagi istrinya itu sibuk mengurus segalanya termasuk dirinya sendiri, padahal pelayan di rumah itu sangatlah banyak.
"Aku bisa mengurusnya sendiri Alex, karena aku suka. Dan juga aku merasa hari-hariku lebih bermanfaat kalau seperti ini." ujar Aisyah lagi sembari memberi bedak tabur ditubuh Asma yang baru selesai mandi.
"Mommy, Kak Danil dan juga Kak Emran suka sekali ke kelas kami untuk mengganggu." lapor Asma pada Aisyah selaku kepala sekolah di sekolah itu.
"Ah benarkah itu sayang?"
"Iya mom, mereka suka mengambil mainan anak-anak di kelasku hingga Jasmine sering menangis." Aisyah menutup mulutnya tak percaya putranya melakukan hal seperti itu. Ia memandang wajah suaminya dengan pandangan tak terbaca. Alex hanya mengangkat kedua bahunya.
"Mommy akan menegur mereka ya sayang, nah sekarang kamu sudah rapih. Tunggu Mommy dan Daddy di ruang makan. Kita akan sarapan bersama."
"Baiklah Mom, aku akan kesana sekarang," ujar Asma dan segera melompat dari kursi kecil yang selalu digunakan Aisyah jika ingin mendandani putrinya itu.
"Alex, kamu dengar kan tadi bagaimana Danil dan Emran, mereka butuh kalian sebagai figur ayah untuk menemaninya sayang," ujar Aisyah kemudian duduk disamping suaminya.
"Anak-anak itu butuh perhatian dari kita sayang, kurangilah pekerjaanmu di luar." ujarnya lagi sembari mengelus lembut dada bidang suaminya.
"Iya, kamu juga. Sejak bekerja sepertinya pikiranmu hanya untuk sekolah itu saja, kamu juga tidak memperhatikan aku lagi." jawab Alex dengan gaya merajuk, ia tak mau disalahkan sendiri dengan kurangnya waktu mereka berkumpul akhir-akhir ini.
Cup
Aisyah segera memberikan sapuan lembut pada bibir suaminya agar mereka berdua bisa lebih rilex menghadapi permasalahan ini.
Aisyah menyadari kalau dirinya memang sibuk mengurusi anak-anak orang lain dan kadang terlupa meluangkan waktu berkualitas untuk Danil yang juga sudah mulai besar.
Sekolah yang sudah beberapa tahun ini dibangun oleh klan Smith berstatus swasta dibawah Federasi Rusia dengan waktu penyelenggaraan 5 hari full.
Di dalam sekolah itu terdapat pendidikan pra-sekolah atau Taman kanak-kanak dan juga sekolah dasar. Itu adalah komponen penting dari pendidikan dan perkembangan anak.
Sekolah Swasta Smith Moskow ini menawarkan program terbaik yang menerapkan tujuan-tujuan tersebut. Dan dengan memasukkan program baca tulis Al-Qur'an mereka merombak kurikulum yang ada di Rusia.
Aisyah dan kedua saudara iparnya itu sibuk memikirkan bagaimana caranya mengembangkan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan konsep yang mereka inginkan sendiri.
Meskipun begitu pengawasan dari Federasi Rusia harus mereka perhatikan atau sekolah mereka akan dicabut izin operasionalnya.
Di TK Smith, mereka banyak kegiatan kreatif: menggambar, musik, patung. anak-anak juga diajarkan pekerjaan rumah tangga. Hal utama - tidak ada kata melarang. Semua yang diinginkan anak-anak, dapat diterima.
Sekolah mereka menerima anak-anak dari usia tiga sampai tujuh tahun untuk tingkat TK dan dari tujuh sampai sebelas tahun untuk Sekolah Dasar.
Mereka juga menerima siswa lintas agama dan bukan cuma muslim saja. Mereka banyak mempelajari tentang adab kehidupan sehari-hari berikut kisah atau sejarah kebudayaan Islam.
Pendidikan di TK dan Sekolah Dasar Smith Moskow ini tidak murah. Tapi hasilnya benar-benar menakjubkan. Anak-anak mengembangkan dirinya masing-masing dengan cara yang cerdas.
Baik anak-anak di Moskow, sekolah ini menawarkan program pengembangan yang inovatif. Dan di akhir waktu, anak-anak sepenuhnya disosialisasikan dan siap untuk melaksanakan tugas-tugas kompleks seperti pelatihan di sekolah-sekolah dasar dan menengah.
Aisyah banyak mempelajari hal itu sampai ia sering sekali mengikuti berbagai macam pelatihan khusus untuk program yang ia rencanakan untuk masa depan pendidikan anak-anak di Moskow.
Alex memperdalam ciumannya pada istrinya itu. Ia juga menyadari bahwa sejak istrinya terjun di dunia pendidikan maka waktunya yang selama ini banyak untuk keluarga kini harus berkurang.
Aisyah segera melepaskan dirinya, karena ia tahu Alex kalau diberi saja kesempatan maka mereka bisa terlambat melakukan aktivitas hari ini.
"Aisyee," bisik Alex tak rela. Ia masih ingin melummat habis bibir Istrinya sebelum berangkat ke pelelangan amal itu.
"Alex, kita bisa terlambat sayang, Asma dan Danil pasti sudah menunggu kita di ruang makan." ujar Aisyah sembari mengelus lembut bibir suaminya yang masih nampak basah itu.
"Tapi,"
"Besok weekend sayang, kita bisa gunakan itu untuk berlibur bersama keluarga, bagaimana?" Alex mengangguk kemudian mengikuti langkah istrinya menuju ruang makan.
"Aisyee, kemarilah sayang, duduklah dulu bersamaku di sini." panggil Alex pada istrinya yang sedang menata bekal yang akan dibawa oleh Danil dan juga Asma.
Reisya dam juga Maryam melakukan hal yang sama. Setiap pagi mereka tak ingin dibantu untuk mengurusi kebutuhan anak-anak mereka ketika akan berangkat ke sekolah.
"Alex, kamu tidak lihat tanganku ini sayang," ujar Aisyah sembari memperlihatkan kedua tangannya yang sedang sibuk menata makanan di dalam kotak makan siang putra-putrinya.
"Baiklah, apa yang bisa aku bantu," ujar Alex pada akhirnya. Karena keinginannya untuk bermanja-manja setiap pagi sepertinya harus ia kubur dalam-dalam sejak ia memberikan kebebasan pada istrinya untuk beraktivitas di luar.
Maksim dan juga Albert merasakan hal yang sama. Kesibukan para istri mereka membuat mereka hanya bisa menonton atau terkadang ikut membantu.
"Apa aku juga bisa pesan bekal makan siang mom?" tanya Nikita yang baru bergabung lagi itu. Nampak sekali ia sudah sangat rapih dan cantik. Hijab pasmina warna pastel sangat cocok dengan outer hitam yang ia pakai saat ini.
"Tentu saja sayang," jawab Aisyah kemudian mengambil satu lagi kotak makna siang yang akan ia isi dengan roti isi daging favorit putrinya.
"Pulangnya jangan terlalu larut ya, karena kita akan berangkat ke sore ini." ujar Alex pada putrinya yang sedang sibuk sarapan nasi goreng buatan onty Reisya.
"Berangkat kemana dad?" tanya Nikita penasaran.
"Weekend sayang, quality time."
"Ah ya, aku suka liburan dad, terkadang aku bosan belajar," timpal Danil yang disetujui oleh Emran. Maksim dan Maryam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah 2 bocah nakal itu.
"Aku berangkat duluan ya, Assalamualaikum," ujar Nikita setelah sarapan dan mengambil kotak makan siangnya. Hari ini ia harus segera ke Universitas karena ada ujian praktek yang akan ia ikuti.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Okey, sembari mengikuti kegiatan Nikita pagi ini, yuks kita mampir dulu nih ke karya teman othor, dijamin bikin ketagihan.