
Omar mendorong pintu kamar sang ayah dengan pelan. Ia datang untuk memberi kabar akan kelahiran baby boy dari adiknya perempuannya, Aisyah.
Lama ia berdiri di dalam kamar yang hanya diterangi oleh cahaya lampu tidur yang agak remang-remang itu. Ia menunggu sang ayah yang sedang bersujud panjang di sepertiga malam itu.
"Ayah," panggilnya pelan saat melihat Mohammad Yusuf sudah menyapukan kedua telapak tangannya ke permukaan wajahnya. Pria tua itu menoleh dan melihat putranya sedang duduk dibelakangnya.
"Ada apa Omar, apa ada sesuatu yang terjadi hingga engkau mengunjungi ayah di sini?" tanya sang ayah sembari menatap putra pertamanya itu dengan intens.
"Ada kabar baik ayah." jawab Omar dengan senyum diwajahnya.
"Alhamdulillah, ceritakan padaku Omar."
"Aisyah baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat sehat."
"MasyaAllah, antar ayah menemuinya nak. Dimana ia melahirkan?"
"Di kamarnya sendiri ayah."
"Kamu yang membantunya atau bibimu?" tanya pria tua itu sembari berjalan mengunjungi kamar utama di rumah itu.
"Anna Peminov ayah. Gadis itu yang membantu putrimu melahirkan." jawab Omar dengan senyum bangga diwajahnya. Ada desir aneh didadanya ketika menyebut nama gadis itu.
"Hah? apa dia seorang bidan?"
"Bukan ayah tetapi ia selalu bisa diandalkan. Dia banyak membantu Aisyah selama ini." jawab Omar sambil terus melangkah. Jarak kamar ayahnya dan kamar utama lumayan jauh juga.
"Anna sudah kuanggap sebagai putri keduaku Omar. Aku tahu dia anak yang baik. Segeralah nikahi dia, atau aku akan mencarikan calon suami yang baik untuknya." Mohammad Yusuf terus berbicara sembari menatap putranya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ayah mau menghianati kepercayaanku padamu? ckckck ayah sungguh tega." Omar menggelengkan kepalanya dramatis.
"Kenapa tidak? engkau terlalu lama mengambil keputusan. Lebih baik aku carikan gadis itu pria yang mau bertanggung jawab padanya. Calon suami yang tampan juga mapan." jelas Mohammad Yusuf sembari menampilkan wajahnya yang tanpa ekspresi.
"Ayah serius?" Omar balas menatap wajah ayahnya yang nampak serius dan datar.
"Tentu saja, sejak kapan engkau melihat ayah tidak serius."
"Dimana ayahmu Omar?" tanya bibi Sarah saat dokter muda itu memasukkan kamar utama sendirian saja. Putra pertama Omar itu tidak menjawab ia hanya menghampiri ranjang adiknya dan memandang adiknya yang sudah tertidur. Matanya mencari sosok bayi kecil yang tadi bersama adiknya tetapi ia tak menemukannya.
"Dimana bayi kecilnya bibi?" tanya Omar sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Ada disana, ia sedang tidur." jawab Bibi Sarah menunjuk satu ranjang kecil yang sangat cantik di kamar yang luas itu. Omar lantas berjalan kesana bersamaan dengan Mohammad Yusuf memasuki kamar itu.
"Dimana cucuku Sarah?" tanya Mohammad Yusuf dengan wajah bahagianya.
"Ada di sana kak bersama dokter kita." jawab Sarah tersenyum.
"Rupanya engkau sudah pantas menjadi ayah, Omar. Lihat bayinya sangat nyaman digendonganmu." ujar Mohammad Yusuf sengaja ingin menggoda putranya lagi.
"Tentu saja ayah, bersiaplah akan direpotkan oleh putra-putriku yang sangat banyak nantinya." balas Omar tersenyum simpul.
"Aku menunggunya Omar, jangan cuma bicara saja. Atau engkau akan ditinggalkan dan berakhir menangis di pojokan, hehehehe." kekeh sang ayah yang membuat Omar bertekad akan menikahi Anna secepatnya. Saat matahari sudah terbit. Ia akan benar-benar melamar gadis itu.
Sarah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lucu menyaksikan interaksi antara ayah dan anak
laki-lakinya itu. Mereka berdua saling menyindir kemudian saling tertawa bahagia. Baru kali ini Omar dan ayahnya saling bercanda seperti itu. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan diwaktu yang hampir pagi itu.
Tak lama kemudian azan subuh pun berkumandang dari arah masjid yang baru dibangun oleh Alex di bagian samping rumah yang sangat luas itu.
Ada seorang muazin dan imam yang memang bertugas di masjid itu.
"Alhamdulillah, pagi telah tiba. Matahari akan segera terbit, dan aku akan mengubah hidupku yang selama ini sendiri." ujar Omar dengan langkah mantap menuju ke Masjid, sedangkan Mohammad Yusuf hanya tersenyum mendengar ucapan putranya itu.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍