
Jalan-jalan di desa pegunungan itu tidak diterangi cahaya, sehingga satu-satunya sumber penerangan berasal dari obor-obor mereka. Ketika mereka tiba di rumah pengantin wanita, mereka disambut keluarga pengantin wanita dengan penuh tawa dan suasana hati yang baik.
Kemudian mereka duduk bersama di sebuah meja besar, menunggu pesta dimulai. Sementara itu, utusan dari pihak pengantin perempuan berkumpul di kamar pengantin.
Setelah menari dan bersosialisasi, salah satu wanita tertua mendatangi kamar pengantin Maryam. Wanita yang lebih senior ini akan mengawasi calon pengantin wanita dan mendandaninya.
"Maryam, meskipun kamu pernah melakukan ini bersama suamimu yang lalu, tetapi cahaya kecantikanmu tidak memudar sayang, kamu masih seperti gadis yang baru pertama menikah." ujar wanita itu dengan tersenyum.
"Jangan membuatku malu bibi." Maryam menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Calon suamimu tampan sekali Maryam. Semoga kali ini keluargamu bahagia nak."
"Terima kasih bibi atas do'anya." ujar Maryam mengaminkan. Ia berharap ini adalah pernikahannya yang terakhir.
Selain gaun tradisional, kepala pengantin wanita akan ditutup dengan kain agar dia tidak dapat melihat. Setelah itu si pengantin wanita akan dituntun ke luar rumah.
Nikita dan Anna begitu bersemangat menyaksikan acara pernikahan ini. Mereka berdua sampai ikut memegang obor dan kadang berlarian ke sepanjang jalan yang gelap.
Alex dan Aisyah hanya duduk bersama para tetua adat. Keadaan kaki Alex tidak memungkinkannya ikut mengantar Maksim untuk menikah.
Kerumunan yang diterangi obor pun mulai bergerak menuju rumah mempelai pria, ke arah mana pengantin wanita dengan hati-hati dituntun. Selama prosesi, api unggun dinyalakan di dekat setiap rumah. Hal ini melambangkan salam.
Jika tidak ada api unggun di dekat rumah yang dilewati mempelai perempuan, dapat diartikan keluarga mempelai wanita atau keluarga mempelai pria memiliki konflik yang serius dengan pemilik rumah.
Saat mempelai wanita mencapai rumah mempelai pria, semua orang sudah menunggu di dalam rumah. Biasanya akan ada banyak orang, sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam rumah.
Ada ritual yang cukup unik. Sebelum memasuki kamar, pengantin wanita harus menggelindingkan roti pipih ke dalam kamar.
Jika roti jatuh dengan pola di atas, itu pertanda baik. Sebaliknya jika pola roti jatuh di bawah, menandakan akan ada masalah besar menanti di masa depan. Untuk mencegah roti pipih jatuh dengan pola di bawah, akan ada nenek-nenek yang duduk di dekat pintu masuk, mengendalikan si roti pipih. Jika terjadi kesalahan, mereka dengan lembut mendorong roti supaya jatuh ke arah yang benar.
Maryam pun melakukannya hal yang sama dan ia sudah dinantikan oleh bibi Sarah untuk membantunya mendorong agar roti itu supaya jatuh ke arah yang benar.
"Terima kasih bibi." bisik Maryam pelan. Bibi Sarah hanya tersenyum kemudian menyentuh kepala Maryam pelan. Mendoakan dan merestui hubungan mereka berdua di dalam hati.
Maryam duduk di kamar itu sambil menunggu kedatangan suaminya yang baru.
Tok
Tok
Tok
Pintu diketuk dari luar membuat hati Maryam berdebar semakin kencang. Tangannya ia rasakan begitu dingin dan juga perasaan lain yang ia tidak tahu apa.
"Maryam boleh aku masuk?" tanya Aisyah, sahabatnya dari luar sana. Maryam menarik nafas lega dan juga merasa malu karena yang ia harapkan datang adalah bukan Maksim suaminya.
"Masuklah Aisyah." jawab Maryam dengan suara sedikit keras. Aisyah masuk dengan tersenyum cerah.
"Selamat datang pengantin baru. Kamu cantik sekali Maryam." ujar Aisyah sembari mengangkat dagu istri Maksim itu.
"Aku senang kita semakin dekat Maryam. Kamu tahu? Maksim sangat mencintaimu." ujar Aisyah lagi dengan wajah berbinar bahagia.
"Tapi aku seorang janda Aisyah, aku takut itu akan mempengaruhi hatinya padaku." jawab Maryam dengan wajah menunduk.
"Hey, Maksim menerimamu apa adanya. Ia tidak pernah mau membahas tentang statusmu itu sebelum ini. Ia sudah lama menantikanmu." ujar Aisyah dengan tersenyum menggoda. Wajah Maryam semakin memerah.
"Kamu bersyukur karena Maksim sedari awal menginginkanmu. Itu hal yang sangat menyenangkan. Diharapkan oleh yang kita harapkan." Maryam menatap Aisyah dengan pandangan tak mengerti.
"Ah sudahlah, kamu siapkan dirimu saja. Meskipun kamu sudah merasakannya tapi aku yakin hatimu pasti merasa deg-degan juga kan." ujar Aisyah yang semakin membuat wajah Maryam semakin memerah dan malu.
"Kamu semakin berani Aisyah." ujar Maryam pelan.
"Hehehe." hanya tawa Aisyah memenuhi kamar itu dan membuat pengantin baru itu memikirkan yang tidak-tidak.
Pintu terdorong dari luar menandakan Maksim akan memasuki kamar. Aisyah segera berpamitan sembari berbisik pada Maryam.
"Hati-hati ya Maryam, keluarga Smith adalah keturunan beruang merah yang ganas."
"Aisyah!" teriak Maryam dengan kesal karena perempuan bersuami itu selalu menggodanya. Aisyah segera kabur dan bertemu Maksim di pintu.
"Hati-hati Maksim. Sahabatku itu orangnya lembut dan halus." ujarnya kemudian berlalu dari hadapan Maksim yang mengernyit bingung. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat istri Alex itu yang tertawa sendiri.
Maksim menatap Maryam yang sedang menunduk malu. Perempuan cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu tak mau menatapnya padahal ia sudah berani menyentuh bahu istrinya itu dengan lembut.
"Maryam, lihat aku." ujar Maksim sambil mengangkat dagu istrinya yang sangat cantik itu. Perempuan itu mulai berani menatap suaminya yang memandangnya dengan penuh cinta.
"Maryam, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu." hari Maryam bergetar, ia juga merasakan hal yang sama dan sempat mengharapkan pria tampan ini menjadi pendampingnya kelak, tetapi ternyata takdir berkata lain. Ia harus singgah di hati pria lain dulu baru kemudian sampai pada sang pujaan hati.
"Aku sekarang adalah suamimu, dan kumohon tinggalkan masa lalumu di hatimu dan biarkan aku yang mengisinya sampai penuh." ujar Maksim dengan suara lembut. Maryam mengangguk patuh dengan senyum samar di bibirnya. Sungguh ia ingin berteriak senang kalau sedari dulu hanya pria di depannya ini yang sudah memenuhi hatinya.
Dengan lembut tangan Maksim membuka kain penutup di kepala istrinya dan mulai membantu melepaskan pakaian tradisional yang sedang dipakai Maryam.
Ia ingin istrinya itu nyaman dengan melepaskan semua pakaian yang cukup ribet dan sangat menggangu penglihatannya. Ia ingin menatap keindahan di depan matanya tanpa penghalang sedikitpun.
Dengan dada berdebar kencang, Maryam melepaskan helai demi helai pakaian yang ia gunakan. Tangan Maksim dengan cekatan membuka kancing- kancing bajunya bagian belakang sembari memberikan kecupan di tengkuk dan di punggungnya yang terbuka. Maryam merasakan sebuah getaran dahsyat menyambar seluruh permukaan kulitnya. Ia terpaku dan tak bisa bergerak.
"Maryam, kamu baik-baik saja?" tanya Maksim tanpa menghentikan kecupan -kecupan panasnya. Istrinya itu bagai tersengat listrik ribuan volt. Ia tak sanggup berkata-kata, pengalaman ini baru baginya meskipun ia sudah pernah menikah sebelumnya.
---bersambung--
Maksim hati-hati yah, Maryam itu perempuan lembut dan halus.
Mana nih like dan Komentarnya...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Suasana pesta di luar sana begitu meriah dengan segala kebahagiaan