Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 280 EMHD



Mereka berdua tiba di Museum Art and Galery sekitar pukul 11 siang. Nikita langsung turun dari mobil suaminya dengan wajah ceria. Dari kecil ia sangat menyukai yang namanya karya seni.


Perempuan cantik itu ingat kalau ia pernah belajar seni angklung dari onty Reisya di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia. Ia juga ingat kalau ia sangat suka lukisan, tetapi entah kenapa ia sekarang ingin menjadi seorang dokter.


"Ayo masuk," ajak Crisstoffer Anderson sembari meraih tangannya kemudian menggenggamnya lembut.


Nikita pun mengikuti langkah suaminya ke dalam gedung Museum Art dan Galery itu.



"Selamat datang tuan dan nyonya," sapa seorang guide perempuan dengan sangat ramah.


"Hai, apa kita pernah bertemu sebelumnya Mrs.?" tanya Nikita sembari menatap guide tour perempuan yang ada dihadapannya.


"Hum, aku tidak tahu tapi mari aku perkenalkan diriku. Aku Elena Stevanof dan nama anda siapa kalau anda tidak keberatan?" sapa perempuan itu dengan senyum diwajahnya.


"Aku Nikita Anderson dan ini adalah suamiku, Crisstoffer Anderson." jawab Nikita dengan tangan menunjuk pada suaminya.


"Hai senang berjumpa dengan kalian."


"Kami juga senang berjumpa denganmu, Mrs. Stenavof, tapi entah kenapa aku merasa kita pernah bertemu tapi aku tidak tahu dimana," Nikita nampak berpikir keras dengan dahi mengernyit.


"Ah, sudahlah. Lupakan saja nyonya Anderson. Mari saya tunjukkan beberapa karya-karya yang sangat terkenal di dunia yang ada di dalam Museum dan Art Galeri ini," ujar Elena Stevanof kemudian mempersilahkan tamunya untuk berjalan memasuki gedung yang sangat mewah dan indah itu.


Elena Stevanof membawa Nikita dan suaminya untuk melihat ratusan karya seni yang terpajang di dinding dalam Museum itu. Tetapi mata Nikita melotot tidak percaya dengan sebuah lukisan yang ia pernah lihat di salah satu deretan Galerinya ternyata ada di tempat yang sangat luar biasa itu.


"Aku mengenal lukisan ini, dan aku pernah belajar singkat dengan pelukisnya," ujar Nikita dengan wajah takjub.


"Oh ya? dimana kalian bertemu nyonya?" tanya Elena Stevanof dengan senyum diwajahnya.


"Waktu itu pada perlombaan melukis di acara pernikahan Uncle Omar dan Onty Anna, ya aku ingat. Dan anda adalah pelukis itu," Nikita melompat dengan bahagia saat ia bertemu kembali dengan pelukis itu.


Elena Stevanof tersenyum bahagia karena ada yang ingat padanya.Yang dulu hanya menjadi gadis lusuh biasa yang kebetulan bisa melukis dan menjualnya untuk bertahan hidup di Moskow.


"Kamu hebat Mrs. Stevanof. Karya-karyamu sudah banyak dikenal dunia." puji Nikita pada perempuan itu.


"Ah jangan memujiku terlalu besar. Aku takut tubuhku tidak akan sanggup menyangganya." Nikita tertawa dengan candaan perempuan itu.


"Bisa aku ambil foto dan tandatanganmu Mrs,?" pinta Nikita dengan menyerahkan sebuah kamera pada suaminya agar ia bisa dipotret oleh pria itu.


"Tentu saja Nyonya Anderson." jawab Elena tersenyum.


"Terimakasih banyak, aku sangat senang sekali. Aku beruntung mendatangi tempat ini karena akhirnya bisa bertemu denganmu," ujar Nikita sembari menyalami perempuan itu.


"Aku juga berterima kasih. Dan aku titip salam sama uncle Albert waktu itu. Katakan padanya terimakasih dari Elena Stevanof."


"Tentu saja Mrs. Akan aku sampaikan." ujar Nikita kemudian meraih tangan suaminya untuk mencari karya-karya seni yang lainnya di dalam Museum dan Art Galeri itu.


"Criss, aku lelah." ujar Nikita dengan tangan bergelayut manja pada lengan kekar suaminya.


'Kita istirahat dulu ya, apa kamu mau makan sesuatu?" tanya suaminya dengan perasaan khawatir pasalnya wajah istrinya sudah tampak sangat pucat.


"Kita kembali ke mobil sayang, aku membawa bekal cemilan untukmu," ujar Crisstoffer dan meraih tangan istrinya untuk segera keluar dari Museum itu.


"Apa yang kamu rasakan Niki?" tanya pria itu lagi karena istrinya nampak sangat kelelahan. Perempuan itu menutup matanya dan tidak mengucapkan sesuatu.


"Nikita? jangan membuatku takut sayang," ujar Crisstoffer lagi karena istrinya tidak bereaksi. Perempuan cantik itu membuka kelopak matanya dan tersenyum.


"Aku baru merasakan lelah Criss setelah apa yang kita lakukan sepanjang malam. Kakiku gemetar sayang," jawab Nikita pelan. Tangannya menyentuh pangkal pahanya yang juga ia rasakan sangat lelah.


"Maafkan aku Niki, bagaimana kalau kita mencari tempat untuk beristirahat sayang. Aku bisa merawatmu di sana. Kamu mau kan?" Nikita mengangguk kemudian tersenyum.


"Baiklah. Aku akan mencari hotel terdekat." Crisstoffer pun melajukan mobilnya dan mencari hotel mewah untuk ia singgahi sementara waktu sampai Nikita cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan wisatanya ini.


"Apa kamu kuat berjalan sendiri sayang?" tanyanya pada Nikita yang berjalan sangat pelan disampingnya.


"Iya Criss, aku kuat. Dan jangan berpikir untuk menggendongku." pria itu hanya tersenyum dengan jawaban istrinya. Ia sebenarnya ingin menggendong istrinya itu agar cepat sampai di dalam kamar.


Mereka berdua pun mendapatkan kamar yang mengarah pada pemandangan yang sangat indah yaitu ke Birmingham Central Mosque.


"Criss, aku mau ke masjid itu sayang," ujar Nikita sembari memandang bangunan yang tampak sangat indah dari jendela kaca tempat mereka berdiri di ketinggian lantai 30 hotel itu.



Berbagai kalangan masyarakat dari berbagai latar belakang dan budaya yang mengunjungi masjid ini setiap hari. Birmingham Central Mosque menjadi salah satu bangunan keagamaan yang paling diakui di kota Birmingham.


"Kita akan kesana saat kamu sudah lebih baik, nah sekarang buka pakaianmu Niki," ujar Crisstoffer sembari membuka pakaiannya sendiri. Nikita menatap tak percaya apa yang ia lihat di depan matanya.


Suaminya sudah tak berpenghalang kecuali hanya bokser saja yang menutupi bagian penting dari dirinya.


"Aku kan mau istirahat Criss, kenapa penampilanmu jadi seperti itu?" tanya Nikita dengan wajah bingung. Ia juga tidak sadar kalau pria tampan itu dengan sangat cekatan membuka kerudungnya dan juga pakaian yang sedang ia pakai.


"Awwww," Nikita tersentak kaget saat merasakan tubuhnya sudah melayang keatas kasur empuk single bed di dalam kamar mewah itu.


"Criss, apa yang kamu lakukan sayang?" Nikita merasakan otot-otot kakinya dipijat dengan sangat lembut oleh tangan besar suaminya.


'Diam dan nikmati saja okey?" Crisstoffer tidak memperdulikan ucapan istrinya yang sangat menggangu konsentrasinya merawat tubuh indah itu dengan tangannya.


"Ya ampun Criss kamu pintar sekali. Aku seperti dimanjakan di salon sayang," ujar Nikita menikmati perlakuan lembut suaminya pada tubuhnya. Pijatannya begitu sangat nyaman.


"Maafkan aku ya, semalam aku tidak sempat melakukan ini padamu setelah aku menyiksamu." Nikita merasakan dadanya berdebar kencang saat membayangkan kata "menyiksa" dari mulut suaminya.


"Kenapa kamu sekarang diam Hem?" pria itu memandang wajah istrinya yang tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri.


"Tidak Criss, ini enak sekali. Aku merasakan tubuhku ringan kembali." jawab Nikita kemudian tiba-tiba merasakan sensasi lain dari pijatan suaminya. Jari-jari suaminya kini bergerak berirama memijit inti dirinya.


"Criss,"


"Hem,"


"A a aku," Nikita merasakan suaranya bergetar menahan sesuatu yang sangat indah yang menjalar di seluruh tubuhnya.


"Katakan sayang, kalau kamu tak nyaman." ujar Crisstoffer Anderson sembari tersenyum kemudian meraih tangan istrinya yang sedang mencengkram selimut agar mencengkeramkan dirinya saja.


"Criss aaaakh," Nikita benar-benar mencengkram keras inti suaminya saat Crisstoffer melakukan manuver-manuver yang sangat indah dan begitu menantangnya.


"Niki, aku mencintaimu sayang. Sekarang aku ingin kamu melakukan yang sama padaku," Nikita bangun dan mulai melakukan apa yang sangat diinginkan oleh suaminya.


Siang itu mereka tidak jadi beristirahat tetapi malah melakukan lagi kegiatan yang cukup menguras tenaga sampai Nikita benar-benar tak bisa bergerak dan tak sadarkan diri.


Crisstoffer Anderson meraup wajahnya kasar karena merasa bersalah. Ia berusaha membangunkan istrinya dengan langkah-langkah penanganan yang ia kuasai selama ini.


Pria itu merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa bertahan dengan hanya melihat tubuh istrinya saja. Bayangan mata tajam Alex akan mengulitinya jika putrinya sampai sakit karenanya.


"Maafkan aku sayangku. Sungguh Niki. Aku bersalah padamu," bisik Crisstoffer pada istrinya yang baru saja sadar dari pingsannya.


"Aku mau makan Criss," jawab Nikita dengan suara bergetar lemas.


"Akan kuambilkan sayang, asal kamu sembuh ya, jangan bikin aku takut." Crisstoffer segera meraih boksernya dan memakainya. Ia pun melangkah ke arah nakas dimana ia menyimpan bekal untuk wisata mereka hari ini. Bekal yang ia masak sendiri tadi pagi.


"Makan sayang," ujarnya sembari menyodorkan roti isi daging sapi favorit istrinya. Nikita mengunyahnya dengan pelan sampai habis dua slices. Susu segelas dan juga satu buah apel ia habiskan.


"Bagaimana perasaanmu Niki?"


"Aku baik Criss. Aku sudah kuat."


"Alhamdulillah, sekarang kita mandi ya, setelah itu kamu pasti bisa tidur dengan nyenyak."


"Tapi hanya mandi ya. Aku ingin istirahat."


"Iya sayang, hanya mandi." Nikita tersenyum kemudian suaminya membawanya ke kamar mandi dan menyimpannya di dalam bathtub.


"Kamu ingin menggosok tubuhmu Niki?" izin suaminya pada istrinya. Yang ia tahu jika ia melakukannya maka bisa dipastikan ia akan menyerang kembali perempuan cantik itu.


"Tidak Criss terimakasih."


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍