
Setelah kepergian Maksim, Maryam langsung ke kamar mandi untuk bersuci.
Pemandangan mengetikan yang ia lihat di depan matanya tadi membuatnya berpikir yang macam-macam meskipun suaminya melarangnya untuk itu.
Sebuah senjata api ditangan suaminya tadi membuatnya takut setengah mati.
Ia pernah melihat Anna Peminov memegang senjata api saat itu tapi ia pikir itu karena pekerjaannya menjaga mereka saja.
Tetapi kalau suaminya sendiri membawa benda menakutkan itu, ia jadi ketakutan sendiri.
"Ya Allah, jaga suamiku, jangan sampai ada kabar buruk yang aku dengar malam ini." perempuan itu terus menyebut naman Tuhannya dengan penuh pengharapan.
Tak jauh beda dengan Mohammad Yusuf di dalam kamarnya.
Pria tua itu masih betah duduk di atas sajadahnya memohon kebaikan atas semua anggota keluarga Smith dan juga keluarga putranya.
Kalimat zikir ia ucapkan untuk membasahi terus lidahnya memohon perlindungan kepada Tuhan atas rasa gelisah dan khawatir yang ia rasakan malam itu.
🍁
"Perempuan itu pasti masih berada di lokasi ini, temukan cepat dan lenyapkan saja!" titah seorang perempuan muda dengan mata berkilat marah.
Ia tak menyangka kalau Anna Peminov akan berhasil kabur dari jeratannya. Padahal ia masih ingin bermain-main dengan istri dari dokter Omar itu.
"Baik nona," jawab seorang pria sembari mengangkat Raging Bull 454nya dengan mata berkilat.
Dua orang pria berkostum hitam-hitam melangkah cepat dalam kegelapan lorong blok itu.
Meninggalkan sang perempuan cantik yang menjadi otak penculikan ini.
Perempuan itu masih dalam keadaan marah dan juga bahagia secara bersamaan.
Elena Ivanov menyeringai dengan kejam. Ia sudah lama merencanakan ini dan melenyapkan Anna Peminov.
Sakit hatinya karena tak bisa mendapatkan cinta Omar membuatnya menyimpan kebencian yang mendalam kepada perempuan yang sedang
mengandung bayi kembar itu.
"Perempuan hamil tak akan bisa berlari sejauh ini, aku yakin kecepatan kakinya yang tertembak itu hanya sekitar 10 kaki dari sini," ujarnya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Anna sayang, aku ingin kamu menderita dan memohon untuk mati saja, Hem."
"Aku menginginkan Omar kedalam pelukanku dan hanya aku yang pantas mengandung bayinya, sialan!"
Gadis itu terus berbicara dalam langkahnya menuju mobilnya yang tak sempat diparkir dengan baik gara-gara mengejar Anna Peminov yang berhasil kabur.
Hingga ia memerintahkan agar orang suruhannya itu menembak saja kaki dari istri sah dokter Omar itu.
"Kamu tidak akan bertahan malam ini Anna hihihi," ujarnya lagi dengan menahan tawa yang ingin meledak malam itu.
"Elena?" sapa Albert dengan wajah terkejut. Pria itu tak menyangka akan bertemu dengan seorang perempuan yang ia kenal di tempat sepi dan larut seperti saya ini.
Gadis yang disebut namanya itu tersentak karena bertemu dengan salah satu kerabat dokter Omar. Insting gadis itu mengatakan kalau ia harus waspada.
"Ah ya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya, tuan?" tanya gadis itu pura-pura lupa atau tidak tahu.
"Ya, saya Albert Smith, kurasa kita sering bertemu di Rumah Sakit. Apa kamu tidak ingat?"
"Oh, maaf, maaf, anda mungkin salah mengenali orang, permisi." ujar Elena dan memperbaiki letak kupluknya untuk menutupi rambutnya yang panjang.
Gadis itu segera berlalu dari hadapan Albert dengan langkah yang begitu cepat seakan berlari.
Albert memandang punggung gadis yang berbalut Coat hitam panjang berbulu domba itu dengan pandangan tak biasa.
Dengan cepat tangannya meraih handphonenya dan menelpon semua kerabatnya dengan satu kalimat yang sama.
"Cegat seorang gadis bercoat hitam yang sedang menuju blok depan, dia mencurigakan!" dia yakin Omar atau Siapapun itu sudah berada tak jauh dari tempat itu.
Tut
Albert melanjutkan langkahnya dengan tangan kanan memegang revolver andalannya. Lorong blok begitu sepi dan juga gelap.
Entah kemana semua warga Moskow di jam seperti ini. Hingga tak ada suara dan angin pun malas berhembus.
Hijab pasmina yang sedang ia pakai, ia gunakan untuk membalut lukanya agar tidak mengeluarkan darah terus menerus.
Rambutnya kini hanya ditutupi oleh kudung dalam tipis.
Perempuan itu berusaha mencari tempat persembunyian yang aman di dalam sebuah gang sempit yang dipenuhi banyak sampah berupa drum dan juga plastik.
Anna Peminov menyandarkan punggungnya di tembok yang sangat dingin itu.
Matanya berusaha terpejam dengan nafas memburu. Ia tak menyangka dirinya begitu kuat berlari dengan keadaan perut yang sangat besar seperti itu.
Elena Ivanov benar-benar gadis gila dan berbahaya. Gadis itu sengaja menjemput Anna di rumahnya.
Ia menyuruh seorang pria asing yang mengaku sebagai karyawan Rumah Sakit tempat Omar bekerja.
Pria itu memintanya untuk mengikutinya ke suatu tempat karena dokter Omar menyiapkan sebuah kejutan untuknya.
Entah kenapa ia mau saja mengikuti pria itu, padahal ia adalah orang selalu bisa waspada dan hati-hati.
Mungkin karena ia terlalu gembira karena suaminya memberi perhatian sehingga ia tidak berpikir panjang.
Anna meraba kakinya yang terkena timah panas tadi atas suruhan Elena. Sakit dan perih tak tertahankan.
"Omar, dimana kamu? tolong datanglah berikan obat mu padaku, aku takut tak kuat, ini sakit sekali, hhhhh,"
Tak pernah ia berhenti merapalkan doa agar ia bisa melewati malam panjang itu dan ada orang yang baik hati datang untuk menolongnya.
"Ya Allah, hanya kepadamu aku memohon, tolong selamatkan aku dan bayi-bayiku." airmatanya terus menetes karena sedih dan takut.
Ini adalah pengalaman pertamanya takut menghadapi kematian.
Selama menjadi agen khusus yang terlatih dari seorang Alexander Smith, ia tak pernah ragu ataupun takut melawan musuh dan kematian.
Baginya melaksanakan tugas adalah diatas segalanya. Mati adalah urusan kesekian.
Tetapi sekarang bagaimana mungkin ia akan kuat meninggalkan bayi-bayinya yang sedang membutuhkannya untuk hidup.
"Ya Allah setidaknya beri aku kesempatan untuk melahirkan bayi-bayiku terlebih dahulu baru kamu ambil nyawaku," kembali ia memejamkan matanya mengelus kakinya yang sangat sakit.
Ia ingin sekali mengeluarkan proyektil peluru itu dari sana tapi ia tak punya senjata tajam. Dompetnya saja ia tinggalkan di dalam mobil yang tadi.
"Aaaaakh," tiba-tiba ia merasakan kontraksi hebat pada perutnya.
Ia meluruskan kedua kakinya agar lebih nyaman dan tak sengaja menendang kardus dan juga drum yang ada di depannya.
Bugh
Brakk
Beberapa benda-benda itu jatuh dan menimbulkan suara yang cukup nyaring ditengah malam yang sunyi itu.
"Dia ada disana!" seru pria berpakaian hitam-hitam itu kepada temannya.
Mereka pun saling berpandangan dan dengan cepat revolver yang ada ditangan mereka diarahkannya ke asal suara itu.
Door!
Door!
Anna menahan nafasnya dalam kesakitan yang teramat sangat. Tangannya mencengkram kuat pakaiannya sebelah kiri dan kanan.
"Aaaaakh,!"
---Bersambung--
Tahan nafas, klik like dan komentarnya dulu ya, dan ingat kasih bunga atau vote, supaya Anna kuat menghadapi semua ini.
Eh, othor maksudnya hehehe.
Ingat! like dan komentar, hadiah dan juga Vote, okey????
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍