Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 27 EMHD



Alexander mengernyit sakit saat akan membuang air kacil. Maksim dan Albert ikut-ikutan merasa nyeri dan bergidik.


"Aku tidak mau disunat." ujar Albert tegas. Ia tak mau mengikuti jejak Alexander yang baru saja keluar dari ruang bedah.


"Pasti sakit sekali ya." ujar Maksim dengan wajah datar.


"Tidak. Siapa bilang sakit." jawab Alexander tersenyum.


"Wajahmu yang menunjukkannya, Mr.Smith!." timpal Albert semakin ngeri.


"Eh, ini tidak ada apa-apanya dibanding peluru Raging Blue yang pernah menembus kakimu itu." ujar Alexander tenang. Meskipun rasanya sangat perih karena efek anestesi sudah hilang tetapi ia berusaha kelihatan cool dan keren. Ia sudah bertekad akan memaksa kedua orang itu untuk ikut disunat.


"Ini rasanya nikmat. Hmmm." lanjutnya sembari memejamkan mata seolah-olah sedang menikmati secangkir coklat panas ditengah musim dingin.


"Tapi ini alat vital, salah sedikit saja, aku tidak bisa lagi menggoyang Jenifer di ranjang." Albert masih bertahan dengan pendapatnya. Padahal Alex dan dokter Sergey Abdullah sudah memberikan penjelasan tentang manfaat sunat itu.


"Hahahaha aduh ish." Alexander tertawa terbahak-bahak dengan jawaban Albert tapi kemudian meringis karena otot bagian bawahnya tertarik saat tertawa seperti itu.


"Berhentilah bermain perempuan. Kamu tidak takut terkena sipilis?"


"Hem, aku baru bisa berhenti kalau sudah ada perempuan yang bisa bikin aku jatuh cinta seperti cintamu pada Paula." jawab Albert yang langsung merubah ekspresi di wajah Alex.


"Aku juga." jawab Maksim cepat. Alex menatap keduanya tajam. Jawaban mereka terlalu dipaksakan, mana ada perempuan seperti Paula lagi di bumi ini yang sabar menghadapi kegilaan orang seperti mereka. Apalagi cantik dan baik hati.


"Terserah apa kata kalian, yang penting kalian harus kompak ikut disunat, titik!" jelas Alex tegas. Maksim dan Albert saling berpandangan kemudian bergidik ngeri. Membayangkan selama enam bulan berlibur tidak melakukan kegiatan panas. Rasanya dunia mereka hampa dan kering.


"Kalau tidak mau ya sudah, jangan pernah datang lagi mengunjungi Nikita!" ancam Alexander kepada mereka berdua. Ia sangat tahu kalau kedua orang ini sangat menyayangi gadis kecil itu. Sekali lagi Maksim dan Albert berpandangan. Mereka bisa saja bertahan dari gadis-gadis pemuas ranjangnya itu tetapi tidak dengan Nikita. Mereka tidak akan sanggup.


"Hem, baiklah kalau kamu memaksa Mr. Smith!" Jawab Maksim dengan suara datarnya. Akhirnya mereka berdua setuju dengan Nikita sebagai jaminannya.


"Apakah aku harus mencuci juga tangan dan wajahku sebelum masuk ke kamar bedah? dan mengucapkan kalimat aneh lainnya sebelum dokter itu memotong bagian dari dirimu." tanya Maksim penasaran karena ia melihat Alexander melakukan itu semua sebelum ditindak oleh dokter Sergey Abdullah.


"Boleh saja kalau kamu mau." jawab Alex santai. Ia tak mau memaksakan pilihan keyakinannya pada kedua sahabatnya ini. Biarkan ia menjemput hidayahnya sendiri. Karena lafadz dua kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa. Tak sembarang orang bisa mengucapkannya.


🍁🍁🍁


Setelah proses pemulihan selama tiga hari mereka kembali pulang ke desa. Tetapi ada hal yang membuat ia tercengang karena ketika sampai di rumah mereka Beberapa petugas keamanan dari kota kecamatan sedang menjemput mereka dengan senjata api ditangan mereka semua. Mereka seperti sedang disergap.


Albet dan Maksim langsung mengambil pistol dari dalam sakunya dan bersiap membidik dari dalam range Rover Voguenya yang anti peluru dan bom. Alex langsung mengangkat tangannya agar kedua orang ini tenang. Ia lantas turun dari mobil dan dengan tenang melangkah ke inspektur polisi yang sedang berdiri paling depan.


"Ada apa ini tuan?" tanya Alex sambil memberi kode pada Maksim dan Albert agar membawa Nikita ke dalam rumah. Petugas itupun memperkenalkan dirinya dan menanyakan kontak bersenjata sekitar 4 hari yang lalu. Seketika Alex merasa bahwa orang-orang desa ini mungkin sudah mencurigai sesuatu pada dirinya dan kawan-kawannya.


"Maaf, tuan Alex kami harap anda bekerja sama dengan baik. Kami harus membawa anda ke kantor polisi lingkungan kecamatan sekarang juga untuk memberi kesaksian." ujar polisi itu tegas. Alex dengan rasa tanggung jawab menyetujui perintah polisi itu tapi sebelumnya ia ingin berpamitan terlebih dahulu kepada putri dan teman-temannya.


"Max, jaga Nikita aku harus ke kantor polisi sekarang." ujar Alex dengan tatapan penuh arti kepada Maksim yang sedang mengatur tempat tidur untuk Nikita agar bisa beristirahat.


"Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Berhati-hatilah." jawab Maksim sambil menyentuh bahu Alex.


"I love you, my dear." ujar Alex kemudian mencium kening Nikita lembut.


"Hey, Daddy mau kemana?"


"Aku mau menemui tamu itu ke kantornya."


"Itu kan Polisi dad, apa Daddy melakukan kesalahan?" tanya Nikita polos.


"Hem, baiklah dad. Hati-hati dan cepat pulang." ujar Nikita kemudian mencium pipi kiri dan kanan Alex.


Maksim mengantar Alex keluar dan melihat mereka membawanya ke kantor Polisi. Dalam hati ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Kemudian ia masuk ke kamar memastikan bahwa Nikita sudah berisitirahat.


Ia mengajak Albert untuk menyembunyikan semua senjata api yang ada didalam rumah itu. Mereka ingin menghilangkan barang bukti sebelum polisi itu datang lagi kemari.


Setelah merasa semuanya sudah aman, Maksim segera ke rumah paman Yusuf untuk mengantarkan titipan dari dokter Omar putranya sekalian meminta Aisyah untuk menjaga Nikita sementara mereka pergi ke kantor Polisi mendampingi Alexander.


"Kalian sudah kembali?" tanya paman Yusuf dengan wajah gembira. Setelah berhari-hari tidak Melihat keluarga Alex rasanya ada yang kurang di desa itu. Pasalnya ketiga pria itu cukup menarik perhatian karena memiliki penampilan yang bagus dan tentu saja mereka semua tampan dan sopan.


"Salam paman!" sapa Maksim tanpa menjawab pertanyaan pria tua itu.


"Salam!" jawab Paman Yusuf masih dengan wajah gembiranya.


"Kami baru kembali dari Moskow paman, dan kami bertemu dengan dokter Omar yang mengobati kaki Nikita. Dia menitipkan ini untuk paman, dan juga mengirim salam rindu untuk semua keluarga disini." Maksim berbicara panjang lebar seperti biasa dengan wajah datarnya.


"Beliau akan kembali kemari secepatnya bersama temannya dokter Sergey Abdullah." lanjut Maksim tanpa memberi kesempatan pada paman Yusuf untuk menjeda ucapannya.


"Oh, begitu ya, terima kasih banyak." jawab pria itu sembari menerima satu paket titipan dari putranya yang ia yakini adalah sebuah surat dilihat dari bentuknya. Ia meletakkan surat itu kemudian menatap Maksim.


"Jadi, Bagaimana kabar kalian semua?"


"Kami semua sehat paman, kami hanya ingin meminta bibi Sarah atau Aisyah untuk menjaga Nikita sementara kami ke kantor Polisi."


"Kantor Polisi? untuk apa?" tanya paman Yusuf dengan suara kaget.


"Mr. Smith sedang dimintai keterangan tentang insiden penembakan di masjid beberapa hari yang lalu paman."


"Astagfirullah. Bawa paman kesana bersama kalian." pria tua itu segera berdiri dan memanggil putrinya.


"Aisyah, kamu segera ke rumah Tuan Alex dan jaga temani Nikita di sana."


"Ada apa ayah, apa mereka sudah ada di desa ini?" tanya Aisyah dengan jantung berdebar. Ia sangat senang karena bisa melihat Alex lagi.


"Tuan Alex dijemput oleh polisi karena insiden penembakan itu." Aisyah langsung terdiam dan merasakan tubuhnya bergetar takut.


"Aku akan menemani Nikita ayah, berangkatlah ke sana dan semoga Allah memudahkan urusannya." ujar Aisyah dengan wajah tegang, matanya tampak berkaca-kaca sehingga ayahnya langsung menatapnya curiga.


"Aisyah, kamu tidak menyembunyikan sesuatu?"


"Tidak ayah, pergilah. Aku baik-baik saja." jawab Aisyah cepat sebelum ayahnya bisa menebak perasaannya kini. Tetapi bagaimanapun juga mata tuanya menangkap hal yang ganjil.


"Baiklah ayah pergi." ia pun pergi bersama Albert dan Maksim ke kantor polisi meninggalkan putrinya yang tiba-tiba merasa ketakutan akan kehilangan seseorang.


----Bersambung---


🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini ya gaess, Like dan komentar sangat othor harapkan.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍