
Maksim dan Albert membuat kesepakatan dengan anggota Gordon Smith yang masih hidup. Jika mereka bisa mengembalikan Aisyah hidup-hidup tanpa lecet sedikitpun maka mereka akan mendapat imbalan yang setimpal.
Tetapi mereka bersumpah bahwa perempuan yang sedang Maksim dan Albert cari tidak berada bersama mereka. Akhirnya Maksim mengajak Albert untuk melaporkan hal ini di kantor polisi tanpa sepengetahuan Alexander Smith.
"Apa menurutmu Alex tidak akan marah kalau kita bertindak tanpa izinnya?" tanya Albert ragu. Ia tahu Alex suka bertindak sendiri.
"Tidak apa-apa, aku yang akan bertanggung jawab." jawab Maksim santai.
"Hem baiklah." Albert pasrah saja. Ia juga merasa kasihan pada Alex dan Nikita Padahal ini sudah hari ke 30 tetapi jejak Aisyah benar-benar tidak nampak sama sekali. Ia bagaikan hilang ditelan bumi.
"Kenapa kalian tidak melaporkannya pada hari perempuan itu menghilang!" tanya polisi itu dengan tampang garang.
"Padahal kalian juga yang menolong orang-orang di sana saat insiden perampokan itu terjadi." lanjutnya lagi sembari memilin kumisnya.
"Karena Mr. Alexander Smith melarang kami untuk melapor." jawab Maksim santai.
"Tapi kenapa? perempuan itu bukan perempuan yang sedang bermasalah kan?" tanya Polisi itu dengan pandangan menyelidik. Ia jadi mencurigai status Aisyah.
"Dia bukan perempuan selundupan dari negara berkonflik kan?" todongnya lagi dengan expresi yang menyebalkan.
"Tentu saja tidak, dia istri sah Mr. Alexander Smith." jawab Maksim tegas. Ia sudah mulai kesal dengan banyaknya pertanyaan dari polisi itu. Akhirnya dia pamit dan tidak jadi melapor. Foto Aisyah yang sempat ia berikan diambilnya kembali.
"Kalau begitu kami tidak jadi melapor." ujar Maksim lalu langsung keluar dari kantor polisi itu. Ia jadi khawatir kalau Alexander betul-betul marah padanya karena Foto istrinya menjadi konsumsi publik.
"Kalau begitu kita pulang saja ke hotel."
"Baiklah. Sambil menunggu detektif kita memberi laporan."
Setelah mereka sampai di hotel tepatnya di kamar Alex yang tidak lagi menjadi kamar pribadi sejak ketiadaan Aisyah. Kamar itu berubah menjadi markas untuk melakukan rapat penting.
"Bos, apa tidak sebaiknya kita mengirim berita ini pada paman Yusuf?" tanya Maksim pelan. Alex langsung menatap tajam padanya.
"Kamu pikir aku tidak memikirkannya hah?" jawab Alex emosi. Ini yang ia takutkan selama ini. Bagaimana nanti tanggapan ayah mertuanya itu padanya. Ia tak bisa menjaga putri yang ia titipkan padanya.
Alex sendiri menuju balkon untuk menghisap cerutunya. Ia butuh sedikit penenang dari segala kerumitan masalahnya. Ia tampak dingin dan tak bisa lagi terbaca seperti dulu. Nikita yang sedari tadi ada di dalam kamar mengikuti Alex menuju balkon.
"Daddy aku bosan di dalam kamar terus." rengek Nikita manja. Ia menarik bagian bawah jas Daddy nya. Alex kemudian menyimpan cerutunya kemudian berjongkok agar bisa sejajar dengan tubuh putrinya.
"Hari ini Daddy akan mengajakmu pulang ke rumah. Disana kita punya halaman yang luas dan kamu bisa bermain dengan bebas bersama kelinci-kelincimu dulu."
"Betulkah Daddy?" tanya Nikita dengan mata berbinar. Alex memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri meninggalkan hotel yang terasa sempit ini. Mencari suasana baru. Agar perkembangan mental Nikita tidak terganggu.
"Maafkan Daddy ya sayang. Aku belum bisa menepati janjiku membawa mommy pulang." ujar Alex pelan. Nikita mengangguk, lalu tersenyum manis. Rupanya ia sudah mulai bisa menerima kenyataan yang ada.
"Tidak apa. Daddy sudah sangat cukup untukku." jawab Nikita sembari memeluk leher Alex.
"Aku sayang Daddy." lanjut Nikita sembari menciumi seluruh permukaan wajah Alex. Seketika hati Alex menghangat dan tak terasa bulir bening menyeruak dari kelopak matanya.
"Hey, jangan menangis Daddy." ujar Nikita kemudian menghapus air mata sang Daddy dengan jari-jarinya yang mungil. "Mommy Aisyah bilang orang besar tak boleh menangis apalagi laki-laki besar sepertimu. Uncle Maksim nanti menertawakanmu Dad." ujar Nikita sambil mendelikkan matanya lucu.
Alex pun berdiri dan menggendong tubuh Nikita masuk ke kamar.
"Max, bantu Nikita bersiap. Kita akan pulang ke rumah." titahnya pada Maksim yang selalu siap sedia melaksanakan perintah.
Alex membuka lemari dan memasukkan pakaian-pakaian Aisyah ke dalam kopernya. Dalam hati ia berharap dimanapun istrinya itu berada akan baik-baik saja.
Setelah itu mereka pun check out dari hotel yang menyimpan banyak kenangan manis bagi Alex dan Aisyah.
Mereka menuju rumah tempat kelahiran Nikita. Tempat ia tumbuh bersama Paula Anderson ibu kandung gadis kecil itu.
---Bersambung---
Mana nih dukungannya gaess...like dan komentar aku tunggu ya...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍