
"Awwww, ini sakit sekali Diego," ujar Alex saat pria itu memberikan salep pada luka-luka diwajah tampan sahabat barunya itu.
"Terimakasih ya tuan Smith, kamu sudah membantu saya menghabisi Si Cassano itu, aku sekarang naik pangkat berkat dirimu." ujar Diego dengan senyum diwajahnya.
"Sama-sama Diego, kamu juga banyak membantuku hingga istriku sudah ditemukan." ujar Alex tersenyum sembari meringis karena begitu banyak luka yang menghiasi wajahnya yang tampan.
"Kamu tidak rindu padanya? Kenapa kamu belum menemuinya?" tanya Diego dengan wajah penasaran.
Tangan agen FBI itu masih sibuk memberi salep pada ujung bibir Alex yang nampak pecah karena pertarungannya dengan Antonio Cassano.
Alex hanya diam dan sekali-kali meringis ketika Diego menekan terlalu kuat pada lukanya.
"Jangan bilang kalau kamu terpengaruh akan pengakuan si brengsek itu tentang istrimu." ujar Diego lagi karena Alex hanya diam saja.
Pria kelahiran Rusia itu hanya memandang wajah Diego tak berkedip.
"Menurutmu aku akan percaya Diego?" tanyanya setelah lama terdiam.
"Siapa yang tahu," jawab agen FBI itu sembari mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah," ujar Alex kemudian menutup matanya. Ia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Minumlah obat ini, meskipun aku tahu kalau kamu biasa dengan aksi kekerasan seperti ini, tapi ada baiknya kamu tetap minum obatnya." Alex meraih obat anti sakit itu kemudian meminumnya.
"Setidaknya bisa mengurangi perihnya," lanjut Diego kemudian beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana? kamu mau meninggalkan aku sendiri dengan keadaan menyedihkan seperti ini, brengsek?!"
"Aku rindu pada istriku, sejak kamu ada di kota ini aku tidak pernah lagi mencium dan memeluknya," jawab Diego dengan wajahnya yang menyebalkan.
"Enak saja, antar aku ke Hotel sekarang, aku juga ingin memeluk istriku." ujar Alex dengan tangan sudah berhasil melempar tubuh agen FBI itu dengan bantal.
"Oh, aku kira kamu tidak merindukannya tuan Smith," ejek Diego dengan bibir terangkat mencibir.
"Heh, kamu pikir aku mau babak belur seperti ini bukan karena aku rindu? sana siapkan mobilmu segera!" titah Alex sambil bangun dari duduknya.
Hotel Xxx Meksiko.
"Hari ini kita sudah bisa kembali ke Moskow, karena kunjungan kita ke festival seni dan pameran lukisan dunia sudah kita laksanakan." ujar Miss, Annette di depan para siswa yang ikut dalam acara study Tour ini.
"Boleh aku pulang dilain hari Miss?" tanya Nikita pada guru perempuannya itu.
"Tidak bisa sayang, aku harus bertanggung jawab membawa pulang semua siswa yang ikut bersamaku ke Negara ini."
"Tapi Daddyku belum juga datang, Miss," ujar Nikita merajuk dengan nada pelan, sejak semalam sang Daddy belum juga datang menemuinya di Hotel, padahal ia dan mommynya sudah berkumpul saat ini.
"Kita kan tidak datang bersama daddymu sayang, jadi jangan mempersulit pekerjaan ibu ya?" Nikita hanya bisa tersenyum tipis dan maklum atas keputusan Miss. Annette.
"Baiklah anak-anak silahkan kalian bersiap-siap dan kita akan berangkat ke Bandara 60 menit dari sekarang." putus Miss. Annette. Semua siswa bersorak senang kecuali Nikita.
Dengan langkah gontai, ia dan Elif kembali ke kamarnya untuk bersiap.
"Sabar ya Niki, Daddymu pasti datang diwaktu yang tepat," ujar Elif memberi penghiburan pada sahabatnya itu.
"Iya Elif, aku bersyukur sudah bertemu dengan mommy dan adik Danil, tapi kadang aku kesal sama Daddy. Dia suka sekali menjengkelkan seperti ini." ujar Nikita dengan wajah bersungut-sungut kesal.
Gadis kecil itu sampai menghentak-hentakkan kakinya jengkel.
Ting
Nikita membuka pintu kamarnya dan mendapati Mommy dan adiknya sedang bermain-main.
"Mommy, hari ini kita akan pulang bersama Miss. Annette," ujar Nikita ketika sampai di dalam kamar itu.
"Alhamdulillah, tapi barang-barang mommy masih ada di Mansion milik tuan Cassano sayang, Visa dan kartu identitas lainnya juga masih disana." jawab Aisyah dengan ekspresi senang dan juga khawatir.
"Uh, andai Daddy ada disini pasti kita bisa mengurus semuanya dengan cepat, aku kesal sama Daddy, entah dimana ia sekarang." Nikita mengomel terus sampai membuat Aisyah tersenyum sendiri.
"Jangan Mom, itu sangat berbahaya, bagaimana kalau tuan Cassano itu menculikmu lagi?"
Tok
Tok
Tok
"Itu pasti Daddy, biar aku yang buka Mom," ujar Nikita dengan wajah cerah saat mendengar pintu kamar diketuk dari luar.
"Daddy?! ada apa dengan wajahmu? apa seseorang memukulmu?" tanya Nikita ketika pintu sudah ia buka dan melihat Alex berdiri di sana dengan wajah lebam penuh luka.
Wajah tampan sang Daddy sedikit tersamarkan dengan bekas-bekas pukulan dari Antonio Cassano.
"Tidak sayang, ini hanya make up dari uncle Diego supaya Mommy mau memaafkan Daddy," ujar Alex dengan suara agak keras karena ia tahu Aisyah ada di dalam sana.
Dan ia sangat berharap istrinya itu bisa mendengarnya.
Nikita langsung menutup mulutnya menahan tawa. Antara kesal dan gembira ia memeluk tubuh tinggi besar Daddynya.
Alex langsung mengangkat tubuh putrinya dan melangkah ke dalam kamar dimana ada Aisyah dan Danil di sana sedang berpura-pura tak melihatnya.
Ingin sekali ia memeluk perempuan itu dan mengucapkan kata maaf dan rindu tetapi ia tahu kalau istrinya itu pasti marah padanya.
"Kamu membuatku khawatir Dad," ujar Nikita dengan nada sedih. Ia mencium wajah Daddynya dan membuat Alex mengernyit perih kesakitan.
"Katanya ini cuma make up kenapa tampak sakit, Dad?" tanyanya sembari melihat dengan baik luka-luka itu.
"Tidak sayang, ini beneran cuma makeup supaya aku tampak sangat menyedihkan ditinggal mommy," jawabnya sengaja untuk menyindir Aisyah yang samasekali mengabaikannya.
Perempuan cantik itu diam saja dan berpura-pura sibuk mengatur pakaian Nikita kedalam koper.
"Turunkan aku Dad, aku akan membawa Adek Danil untuk bermain di luar bersama Elif," ujar Nikita mulai faham kalau ia harus memberi waktu untuk mommy dan Daddynya agar bisa berdua saja.
"Iyyakan Elif?" tanya Nikita meminta persetujuan sahabatnya itu.
"Iya Niki, ayok kita bawa Adek Danil keluar." jawab Elif dengan senyum diwajahnya. Rupanya anak-anak itu sudah paham akan apa yang terjadi diantara dua orang dewasa itu.
"Mommy, aku bawa adek Danil ya?"
"Tidak perlu sayang, Danil biarkan tetap di sini bersama mommy, bukankah kalian akan segera kembali ke Moskow hari ini?" jawab Aisyah tanpa mau menatap suaminya meskipun hatinya berdebar menahan rindu. Tetapi rasa kesal dan sedih masih ada di sana.
"Mommy, plis," Nikita menatap mommynya memohon sedangkan Alex sudah meraih Danil dan memeluk dan menciumnya dengan penuh kerinduan.
"Danil, kamu tidak kangen daddy sayang?" tanya Alex pada putranya itu yang hanya menatapnya dengan wajah bingung.
"Ini Daddy sayang, kamu tidak ingat aku ya?"
"Daddy, Daddy..." panggil Danil dengan wajah lucu sembari memukul-mukul wajah Alex hingga pria itu mengerang sakit.
"Awwww kamu memukulku Danil?" tanya Alex pura-pura kesakitan hanya untuk menarik perhatian Aisyah. Tetapi sang istri tetap saja sibuk dengan pakaian Nikita.
"Adek Danil, sini main sama Kakak Niki dan Kakak Elif," Nikita meraih Danil dari gendongan Daddynya dan segera melangkah keluar.
Nikita sudah berjanji pada dirinya sendiri akan memberi banyak waktu untuk mommy dan Daddynya melepas rindu jika sudah bertemu.
"Aisyah..." panggil Alex pelan, setelah mereka berdua lama tidak saling menyapa. Tetapi perempuan cantik itu tetap mengabaikannya.
Bayangan ingin membalas Alex begitu menyeruak dari dalam hati Aisyah saat ini. Ia ingin melihat seberapa besar Alex akan berusaha mengambil hatinya kembali.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍