Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 192 EMHD



Omar menaruh kembali handphonenya kedalam saku jaketnya dan menatap seorang gadis yang baru saja muncul dari balik kegelapan lorong blok di hadapannya.


Ciri-ciri gadis itu sama dengan yang dikatakan oleh Albert lewat telepon tadi. Gadis menggunakan Coat hitam berbulu domba.


"Elena?" tanya Omar ketika gadis itu semakin mendekat dari tempatnya berdiri.


"Dokter Omar? apa yang kamu lakukan disini?" tanya gadis itu dengan wajah pias. Ketakutan sudah mulai menggerogoti dirinya. Hingga suaranya pun sudah tak ia kenali.


Omar langsung menghampiri gadis itu dan menjambak rambutnya keras. Satu tangannya melayang dengan keras kepermukaan pipi Elena Ivanov.


"Apa yang kamu lakukan pada istriku, gadis sialan!" geram Omar dengan rahang mengetat marah.


"A aku tidak melakukan apapun dokter, aaargh..." Elena mengerang kesakitan saat Omar menjambak rambutnya keras.


Pipinya pun ia rasakan semakin memanas karena telapak tangan besar Omar baru saja mendarat di sana. Omar yakin Elenalah pelaku semua kekacauan ini.


Mobil yang terparkir asal di depan sana sudah cukup membuktikan bahwa gadis ini ada hubungannya dengan hilangnya Anna, sang istri.


Door!


Door!


Bunyi tembakan dari ujung lorong membuat Omar tersentak dan langsung mendorong tubuh Elena hingga terjatuh terjerembab ke bawah kaki Alex dan juga Maksim yang baru saja tiba di tempat itu.


"Aku serahkan gadis ini, terserah kalian mau lenyapkan sekarang juga atau nanti." ujar Omar dengan suara bergetar menahan emosi didadanya.


Dengan cepat ia meninggalkan tempat itu dan berlari seakan terbang menuju sumber tembakan itu.


Tak berhenti mulutnya merapalkan doa agar Anna baik-baik saja.


Alex dan Maksim menyeringai kejam. Kaki mereka memberikan satu tendangan keras kewajah gadis itu.


🍁


Dua pria asing yang sedang berdiri di depan lorong blok itu tumbang dengan luka tembakan dipunggung tembus ke jantung mereka.


Albert dengan gerakan cepat memberikan lagi sebuah tendangan bebas kepada dua orang itu dan langsung membuatnya tak berkutik.


Pria itu segera mencari sumber suara rintihan.


"Anna? bagaimana keadaanmu?" tanya Albert dengan wajah penuh kekhawatiran.


Perempuan itu hanya meringis sembari memegang area pinggangnya.


Ia belum sempat menjawab ketika Omar yang baru datang itu langsung melompat kearahnya.


Rasa sakit karena kontraksi yang sudah datang setiap 5 menit sekali dengan kaki yang semakin nyeri itu membuat tubuhnya lemas dan melorot ke lantai yang begitu kotor dengan sampah-sampah itu.


"Anna sayangku! maafkan aku, maafkan aku Anna," Omar meraih tubuh istrinya dan menghapus keringat yang membanjiri seluruh permukaan wajah dan juga leher istrinya.


"Anna kamu harus kuat sayang," Omar terus membisikkan kata-kata penyemangat pada istrinya sembari memeriksa denyut nadi Anna yang kian melemah.


"Omar, ini sakit sekali, tolong aku..." rintih Anna sembari mencengkeram lengan suaminya kuat.


"Tenang Anna, tarik nafas ya dan lihat aku saja,"


"Aku ada disini Anna dan aku akan membawamu ke Rumah sakit sayang," ujar Omar dan segera mengangkat tubuh istrinya yang sudah basah karena ketubannya sudah pecah.


"Aaaakh Omar, ini sakit sekali, aku tidak kuat...Arrrghh," Anna terus merintih dalam gendongan tubuh kekar suaminya.


Sedangkan Albert sendiri mengikutinya di belakang setelah memastikan dua pria pelaku penculikan Anna sudah tak bernyawa.


Omar merasakan lengannya basah oleh darah yang semakin keluar dari jalan lahir sang istri.


"Anna, kumohon sayang, bertahanlah..." bisik Omar dengan suara bergetar menahan rasa khawatir dalam hatinya.


Tubuh Anna tak bereaksi dan melorot kebawah karena lemas.


"Anna bangun!" sekali lagi Omar berteriak karena perasaan takut dari dalam hatinya semakin menggangu kewarasan otaknya sebagai dokter.


"Albert bawa mobilku!" teriak Omar dengan suara bergetar. Pertahanannya hampir runtuh. Bukan ia tak kuat membawa tubuh istrinya tapi hatinya yang mulai lemah.


"Aku yang akan menyetir kak," Alex menawarkan diri kemudian segera membuka pintu belakang mobil Omar.


Omar meletakkan tubuh lemas sang istri diatas jok yang sudah ia atur menjadi posisi rebah.


"Alex, kita berangkat!" titahnya pada Alex yang segera melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh.


Dibelakang sana, Omar tak tinggal diam. Sejak ia tahu kalau istrinya hamil, ia sudah banyak belajar bagaimana membantu proses melahirkan pada ibu hamil.


Ia tak mau ada dokter lain selain dirinya yang membantu istrinya melahirkan.


Tetapi kondisi Anna sekarang sangat tak memungkinkan kalau ia akan melahirkan lewat Vagi*na atau normal.


Istrinya itu harus ikut jalur Caesar. Dengan cekatan ia mengambil sebuah tas berisi perlengkapan kedokterannya yang selalu ia bawa kemana-mana.


Sebuah kaos tangan dari silikon ia pakai dikedua tangannya dan mulai membuka paha Anna lebar-lebar.


Dokter sekaligus calon ayah itu ingin memeriksa langsung kesiapan bayinya di dalam sana.


Perlahan ia masukkan tangannya ke dalam Jalan lahir istrinya dan langsung membuat Anna sadar dari pingsannya.


"Aaargh, Omar..." teriak Anna dengan suara menyayat kesakitan.


Rupanya kontraksi muncul lagi. Anna menjambak rambut suaminya karena merasakan sakit yang teramat sangat menyerangnya lagi.


"Omar, aaaaakh...sakit..." Meskipun Omar merasa kasihan pada istrinya yang kesakitan tetapi ada rasa bahagia dari dalam hatinya karena istrinya kembali bereaksi.


"Anna, terimakasih sayang kamu mau berjuang, kepala bayi kita sudah berada di pintu, apa kamu kuat Anna?" tanya Omar dan mengeluarkan tangannya dari Vagi*na sang istri. Anna menarik nafas berat.


"Aku tak kuat Omar, aku tak sanggup...ini sakit sekali, selamatkan bayi kita saja, kumohon."


"Tidak sayang, kalian bertiga akan selamat." ujar Omar yakin.


Matanya memandang jam tangannya dan bisa memutuskan kalau istrinya memang sudah tak akan sanggup melahirkan bayi 2 sekaligus dalam kondisi normal apalagi ini dalam keadaan sangat lemas tak bertenaga.


"Alex berapa lama lagi kita sampai?" tanya Omar pada Alex sang driver yang sejak tadi diam berkonsentrasi dengan laju kemudi yang begitu cepat.


"Lima menit lagi kita sampai Kak," Omar menarik nafas lega lalu mencium bibir Istrinya yang sedang diam karena rasa sakit tak lagi menyerang.


"Sakitnya hilang Omar, apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Anna dengan perasaan khawatir.


"Iya sayang, kamu akan selamat."


"Selamatkan bayimu saja, jangan pikirkan aku, Omar," ujar Anna dengan airmata yang meluncur bebas dari kelopak matanya.


"Jangan bicara terus Anna, kamu dan anakku akan baik-baik saja, mengerti?"


"Maafkan aku Omar kalau selama ini belum menjadi istri yang baik bagimu, dan tolong sampaikan maafku pada semua orang terutama ibu dan ayahku."


"Aaarrrgh...Huhhh Ahhhh," rasa sakit yang terasa sampai ke puncak itu benar-benar membuat Anna mencengkeram lengan Omar dengan keras.


Omar membuka paha istrinya lebar-lebar dan yah, ia bisa melihat bahwa kepala bayinya benar-benar telah keluar dipintu lahir.


"Dorong sayang, sepertinya ia ingin lahir di dalam mobil ini..."


"Aaaaargh ya Allah...Aaaakkh Omar!!!!!!"


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍