Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 33 EMHD



Bibi Sarah dan Aisyah sedang bersibuk-bersibuk di Dapur untuk mempersiapkan acara makan malam di rumah itu sebentar lagi. Perempuan paruh baya itu sungguh merasa terganggu dengan bunyi susutan hidung dari gadis berusia 20 tahun itu.


Sroookk


"Aisyah, apakah kamu sedang menangis nak?" tanya bibi Sarah yang melihat gadis itu sebentar-sebentar menyusut air mata dan ingusnya dengan tissue.


"Tidak bibi, ini hanya karena aku sedang mengiris bawang." jawab Aisyah menggelengkan kepalanya. Ia masih terus menghapus air matanya yang keluar tiada henti menandakan hatinya sekarang betul-betul sedang diremas sembilu.


"Kamu tidak ingin jujur pada bibi?" tanya bibi Sarah yang merasa gadis itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Tidak bibi, sungguh aku baik-baik saja."


"Kalau begitu kamu di kamar saja beristirahat, kamu bisa merusak rasa masakan di sini dengan ingusmu itu." canda bibi Sarah yang akhirnya membuat Aisyah meninggalkan dapur dan menuju kamarnya.


Omar yang kebetulan sedang lewat dan menyaksikan kejadian itu segera menyusul adik perempuannya itu ke kamarnya.


"Aisyah, " panggilnya pada adiknya itu.


"Kamu belum menyapa kakak." ujar Omar dari belakang tubuh gadis muda yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya.


"Ah, kakak maafkan aku," jawab Aisyah yang langsung berbalik dan memeluk tubuh tinggi itu.


"Hey, kamu terlalu senang atau terlalu sedih sampai menangis seperti ini." ujar Omar karena merasakan tubuh adik perempuannya itu bergetar dalam pelukannya.


"Kak Omar." ujar Aisyah pelan.


"Ada apa adikku yang cantik?"


"A aku ...a aku belum ingin menikah." ujar Aisyah akhirnya. Ia berharap kakaknya membatalkan niatnya itu.


"Hahaha, apakah hanya gara-gara ini kamu sampai menangis?" tanya Omar dengan senyum di wajahnya. Aisyah mengangguk cepat.


"Dokter Sergey Abdullah pemuda yang baik, aku sudah lama mengenalnya. Dia pasti akan sangat menyayangi dan menghormati mu." ujar Omar kemudian menatap wajah adiknya yang bersimbah air mata.


"Tapi, kak."


"Sudahlah, cinta bisa tumbuh saat kalian bersama. Aku akan tenang jika menyerahkan adikku tersayang pada orang yang tepat."


"Kak, a aku tidak..."


"Bersiaplah, tamu sebentar lagi akan datang."


"Tamu?"


"Iyya, aku mengundang orang lain. Jadi hapus air matamu itu. Tampillah cantik agar calon suamimu senang." Omar mengelus lembut kepala adiknya kemudian berlalu dari hadapan Aisyah yang semakin merasa nasibnya sedang berada di ujung tanduk.


🍁


Makan malam pun segera di mulai. Semua orang sudah duduk di meja makan di dalam ruangan yang cukup luas itu. Beberapa pelayan berdiri di samping meja untuk melayani tuan rumah dan para tamu undangan spesial malam itu jika sewaktu-waktu ada yang mereka butuhkan.


"Nah, selamat datang untukmu dr.Sergey Abdullah yang mau mengunjungi kami yang sangat jauh jaraknya dari kota Moskow. Semoga anda senang berada di rumah kami yang sederhana ini." ujar Mohammad Yusuf memulai basa-basinya.


"Sama-sama paman, Insyaallah saya senang berada di sini." jawab dokter muda itu sambil melirik ke arah Aisyah yang baru pertama kalinya ia lihat ini.


"Mohon maaf, kami terlambat." ujar Alexander Smith yang sedang datang bersama seorang putri cantik di tangannya. Mereka datang terlambat karena Alexander lama memutuskan apakah ia akan datang atau tidak. Tetapi demi menghormati orang yang mengundang akhirnya ia datang bersama putrinya yang justru sangat senang sekali karena sudah lama ingin bertemu dengan Aisyah.


"Apakah bisa duduk dengan ibu Aisyah?" tanya Nikita dengan suara merdunya di tengah-tengah kesibukan semua orang dengan segala pikirannya masing-masing.


"Oh tentu saja sayang. Masih ada kursi kosong di dekat Aisyah ibu Aisyah." Jawab Bibi Sarah cepat. Ia menjemput Nikita dari tangan Alex yang masih berdiri di sana menatap putri paman Yusuf yang sangat cantik malam itu. Dalam hati ia berujar, "Aisyah bahkan sangat mempersiapkan malam istimewa ini untuk dr. Sergey Abdullah."


"Ibu Aisyah, aku sama Daddy duduk di sini ya." ujar Nikita meminta izin dengan sopan. Aisyah menjawab dengan tersenyum kemudian mengecup pipi kiri dan kanan gadis cilik itu.


"Silahkan sayang, kamu kan tamu istimewanya." jawab Aisyah tetapi ekor mata sedang melirik ke arah Alex yang sedang menarik kursi di sampingnya. jantungnya kini berdetak lebih keras. Sungguh ia belum pernah duduk sedekat ini dengan pria dingin dan kaku ini.


"Karena semua orang sudah hadir, Mari silahkan dinikmati hidangannya." seru Mohammad Yusuf selaku tuan rumah.


Di saat semua orang menikmati makanan yang terhidang. Nikita malah sibuk mengobrol dan meminta ini dan itu pada Aisyah.


"Kamu tahu, ibu? aku rindu sekali padamu. Di sekolah kita tidak pernah bertemu." ujar Nikita sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh Aisyah.


"Apa ibu sakit?" tanya Nikita lagi hingga semua orang menjadikannya tontonan yang menarik disela-sela menikmati makan malamnya.


"Niki, berhentilah bicara sayang, tidak baik berbicara saat makan." ujar Alex sedikit berbisik di kuping Nikita.


"Tapi, dad. Aku kan baru bertemu dengan ibu Aisyah itu dan itu karena Daddy melarangku bermain dengan ibu, huaaa." timpal Nikita dengan ekspresi sedihnya yang langsung membuat semua mata memandang wajah Alexander yang tiba-tiba merasa malu. Dalam hati ia akan memberikan pelajaran khusus pada putrinya itu nanti.


"Ibu sedang tidak sehat sayang, jadi tidak pernah ke sekolah. Kan ada banyak ibu guru di sana ya." jawab Aisyah lembut, hatinya sedikit tercubit dan kecewa karena Alex memang tidak mengharapkannya. Ingin ia masuk ke kamarnya saja dan menangis sepuasnya di sana.


"Aku mau ibu jadi mommy ku maukan ibu?" tanya Nikita sembari menyentuh tangan Aisyah yang sedang ingin menyuapinya lagi.


Deg


Aisyah langsung membeku, jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak.


Duarr


Semua orang yang ada di meja makan langsung menghentikan kegiatannya. Kecurigaan mereka selama ini tiba-tiba terjawab.


Bugh


Alexander sendiri bagai mendapatkan pukulan telak di wajahnya. Mata semua orang kembali menatapnya bergantian dengan tiga sosok yang sekarang menjadi pusat perhatian. Alex, Nikita, dan Aisyah.


"Nikita sayang, " ujar Alexander cepat untuk mengurai keterkejutan semua orang.


"Daddy, jangan melarang ku bicara. Aku mau Ibu Aisyah menjadi mommy ku. Boleh kan ibu?" ujar Nikita kemudian menatap dengan penuh permohonan kepada Aisyah yang sedang berusaha menahan debaran jantungnya. Ia yakin pipinya pasti sekarang sudah memerah karena malu. Apalagi ia juga sangat menginginkannya.


"Silahkan dilanjutkan makannya." timpal Omar cepat. Ia tak mau acara makan malam ini jadi terganggu hanya karena permintaan anak kecil yang bisa saja merupakan candaan semata. Akhirnya semua orang melanjutkan acara makan malam itu yang kini berubah rasa. Semua menelan makanan tak lagi dikunyah dengan baik. Mereka sibuk memikirkan apa yang mereka lihat di depan mata mereka masing-masing.


Dalam hati Aisyah tersenyum. Berharap doanya dalam setiap sujudnya di jawab oleh sang penguasa hati saat ini.


---Bersambung---


Mana nih dukungannya untuk othor yang sedang deg degan menunggu babang Alex agar bangun dari tidur panjangnya. Hehehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Sambil nunggu nih ya, ..aku rekomendasikan novel teman aku nih dijamin suka