Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 107 EMHD



Omar menarik nafas kemudian memandang kembali letak apartemen Anna Peminov.


"Sepertinya ia sudah cukup bahagia dengan keluarganya sekarang, dan juga pria yang bernama Pelip itu pasti sudah lama menunggunya pulang." ujarnya pelan kemudian menaiki mobilnya dan pulang ke rumahnya.


Beberapa hari yang lalu ada sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Ia semakin semangat bekerja karena seseorang yang menarik perhatiannya begitu dekat dengannya.


Hingga ia bisa tidur dengan memandang wajah perempuan cantik itu. Semua pekerjaannya terasa begitu ringan meskipun ia harus menyediakan diri merawat Anna yang kadang begitu sangat rewel dengan sifatnya.


Ia sampai lupa kalau ia adalah pimpinan Rumah Sakit. Semua keperluan Anna ingin ia yang urus sendiri padahal ada banyak perawat di sana.


"Apa aku terlalu kentara kalau aku menyukainya?" ujarnya dengan senyum samar di wajahnya. Tetapi seketika wajahnya berubah murung. Bayangan keakraban Anna dan Pelip tadi cukup mengganggu perasaannya. Tanpa sadar ia mencengkram kemudi karena kesal.


"Apa mereka benar-benar akan menikah? pantas saja gadis itu bersemangat sekali dengan resep obat itu. Ia ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk suaminya yang bernama Pelip itu." ujarnya pelan.


Ia yang tadinya ingin pulang ke rumahnya menjadi tidak bersemangat lagi. Akhirnya ia memutar arah mobilnya ke rumah Alex. Ia butuh teman cerita agar perasaan kesalnya pada gadis itu bisa terobati.


"Hai kak, bagaimana kabarmu?" sapa Aisyah saat menemuinya di ruang tamu.


"Baik, bagaimana keadaanmu?" tanya Omar balik.


"Alhamdulillah kak. Pergerakan bayi di dalam sini semakin lambat." ujar Aisyah kemudian duduk dengan pelan di hadapan kakaknya.


"Oh itu wajar karena tubuh bayi semakin berkembang pesat sedangan ruangan yang ada di dalam semakin sempit. Kurasa itu menunjukkan ia akan segera lahir."


"Oh iya kak. Pinggangku juga sudah sering sakit sekarang."


"Kalau begitu aku akan hubungi ayah dan bibi Sarah agar mereka bisa cepat datang kemari. Ayah selalu berpesan dan mengingatkanku agar memberinya kabar kalau kamu akan melahirkan."


"Iya kak. Aku juga ingin melahirkan didampingi bibi Sarah."


"Ngomong-ngomong dimana Alex?" tanya Omar setelah lama duduk dan mengobrol dengan adiknya tetapi saudara iparnya itu belum nampak sama sekali.


"Alex dan Maksim baru saja keluar. Mereka ada urusan pekerjaan yang sangat penting." jawab Aisyah sembari mempersilahkan kakaknya untuk meminum minuman yang baru diantar oleh pelayan di rumahnya.


"Dimana Nikita, aku sudah lama tidak melihatnya." tanya Omar sembari meminum cairan berwarna merah itu. Seperti sirup yang terbuat dari buah berry.


"Nikita belum pulang. Akhir-akhir ini ia sibuk dengan tugas dari sekolahnya. Ia bahkan selalu pulang saat hampir malam." jelas Aisyah.


"Oh begitu ya, sayang sekali. Padahal aku sangat merindukan anak itu."


"Dia sudah sehat dan sudah pulang ke rumah orangtuanya." jawab Omar dengan wajah datar.


"Hey, apa aku melewatkan sesuatu? kakak sepertinya tidak senang kalau Anna kembali ke rumahnya ya?" tanya Aisyah sembari memandang Omar dengan tatapan intens.


"Tidak juga, kurasa gadis itu senang sekali kembali ke rumah orangtuanya. Ada yang sudah lama menunggunya di sana."


"Tentu saja kak, Anna kan sudah lama tidak kembali ke sana. Jadi tentu saja banyak yang merindukannya."


"Ah, iya, kamu betul sekali. Kurasa ia tak akan kembali lagi ke sini."


"Sudahlah jangan bahas gadis itu lagi. Kepalaku pusing."


"Oh, aku kira dokter tidak bisa sakit. Hehehe."


"Aku juga manusia biasa Aisyah."


"Kalau begitu kakak istirahat saja dulu di kamar."


"Baiklah, aku rasa akan menyenangkan kalau malam ini aku menginap di sini."


"Iya, kak di sini ramai. Kembali ke rumahmu hanya membuatmu tambah pusing. Berpikirlah untuk menikah kak, supaya ada yang menemanimu." Omar langsung tertawa.


"Aku juga berpikir begitu, tetapi sepertinya belum ada perempuan yang cocok untukku."


"Kakak terlalu kaku, terlalu banyak memilih, kalau kakak sudah menyukai seseorang, bergeraklah cepat jangan sampai kakak menyesal."


"Jangan bicara lagi Aisyah, aku sedang tidak bersemangat bercerita tentang pernikahan."


"Ya ampun kak, kamu belum tahu aja enaknya kalau sudah menikah."


"Aku akan tidur Aisyah, antar aku ke kamar kosong di rumahmu ini." Omar berusaha memutus percakapan itu karena hatinya sangat tidak nyaman jika mengingat Anna dan pria bernama Pelip itu.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍