
POV Alexander Smith
Aku bersyukur karena akhirnya aku punya juga keberanian melamar Aisyah menjadi istriku. Gadis muda, cantik, dan baik hati. Meskipun aku belum bisa menjamin perasaanku sendiri padanya tetapi aku terap harus memperlakukannya dengan sangat baik. Bukan hanya karena ia sangat diinginkan oleh putriku Nikita melainkan ia diserahkan oleh ayahnya padaku sebagai milikku yang harus disayangi seperti ayahnya menyayanginya.
Dengan mengucapkan bismillah aku memulai lembaran baru hidupku hari itu menjadi suami Aisyah. Menjadi sosok suami yang tercatat di hadapan hukum dan agama.
Saat waktunya tiba aku membawa Aisyah pulang ke rumahku sebagai tradisi pernikahan, aku jadi merasa gugup sendiri saat aku memasuki kamar pengantin yang sudah disulap oleh Albert menjadi kamar pengantin yang sangat bagus. Aku meletakkan tubuh Nikitaku di sana karena sedari dulu ia ingin menjadikan Aisyah menjadi mommy nya agar ia bisa bangun dan tidur bersama perempuan muda itu.
Aku tak peduli tatapan kesal Albert karena membawa Nikita ke kamar itu untuk tidur di ranjang pengantin yang sudah ia atur sedemikian rupa agar hanya aku dan Aisyah yang menempatinya.
Malam pertama yang seharusnya digunakan para pengantin baru untuk berbagi kasih pada pasangan tidak aku lakukan sama sekali. Aku lebih memilih meninggalkannya tidur bersama Nikita tanpa ada kata-kata yang sedikit manis agar terkesan aku ada perhatian pada istri baruku itu.
Aku merasa bersalah karena aku belum juga bisa berlaku manis pada Aisyah padahal ia sudah berlaku baik padaku dan pada Nikita. Aku bahkan belum berani menyentuh tangannya padahal ia sudah halal bagiku. Kenangan-kenangan Paula belumlah juga meninggalkan aku seratus persen.
Hingga hari ini Nikita kembali merengek meminta agar aku dan mommy nya berbulan madu di tempat-tempat terbaik di Moskow agar ia bisa segera mendapatkan seorang teman kecil seperti boneka dari kami berdua.
Aku menatap Albert dan Maksim bergantian.
Aku tahu maksud tersembunyi mereka membujuk Nikita agar mau ikut ke Moskow bersama mereka berdua yang memang akan pulang siang ini.
"Hey, jangan marah boss." ujar Albert tersenyum penuh arti.
"Kami hanya mau kalian membawa Aisyah untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di Kota sebagai refreshing begitu" ujar Maksim menimpali.
"Istrimu itu perlu tempat atau orang baru yang lebih menarik daripada hanya melihatmu di sini yang selalu berwajah datar padanya, iyya kan Max?" Albert mengedipkan sebelah matanya dengan lucu.
"Yup itu betul sekali Al, jangan sampai Aisyah menjadi jelek karena hanya kamu yang dilihatnya setiap hari.!" ujar Maksim dan Albert bersamaan. Mataku melotot marah pada mereka tapi kemudian aku tersadar, kalau ucapan mereka benar adanya, Aku belumlah bisa memberi nafkah batin untuk istriku itu jadi setidaknya ia harus diajak untuk jalan-jalan di tempat wisata terbaik.
"Okey baiklah. Aku akan minta izin pada ayahnya terlebih dahulu untuk membawanya keluar dari desa ini. Kalian bersiaplah."
"Yeay, kita honey moon." teriak Nikita bahagia saat ia aku beritahu kalau kita semua akan berangkat ke Moskow siang ini juga.
"Apakah mommy ikut, dad?" tanya Nikita kepadaku sambil memegang tangan Aisyah.
"Tentu saja sayang, mommy harus ikut kemanapun kamu pergi." jawabku sambil menciumi puncak kepalanya. Kulihat Aisyah juga tersenyum. Kemudian mereka mempersiapkan pakaian dan bekal yang akan kami bawa sepanjang perjalanan yang akan memakan waktu berjam-jam ini.
Dan akhirnya hari ini kami berlima sudah berada di dalam mobil menuju Moskow. Aku sempat khawatir pada Aisyah yang kelihatan gelisah di samping ku.
"Ada apa?" tanya ku padanya yang sedang menutup matanya.
"Kepalaku pusing dan aku mabuk." jawabnya dengan suara lemah. Aku kasihan padanya karena ini adalah pertama kalinya ia keluar dari daerah ini. Mabuk perjalanan membuatnya jadi sangat menyedihkan. Tanpa sadar aku biarkan tubuhnya bersandar padaku. Untungnya Nikita duduk di jok depan bersama Maksim jadi aku bebas memberinya pijatan di tengkuk atau di daerah lain agar ia bisa nyaman.
Butuh waktu berjam-jam sampai kami tiba di Machakala di mana pesawat jet pribadi milik organisasi menunggu kami di sana untuk membawa kami semua ke Moskow ibu kota Rusia. Dimana semua masa lalu ku ada di sana.
Aku diam dan lama berpikir ketika Maksim memandangku meminta persetujuan. Apakah kami pulang ke rumah lama atau kami menginap di hotel saja.
"Kita ke hotel!" Aku memerintahkan Albert membawa kami ke Hotel setelah mempertimbangkan banyak hal. Aku tak mau melihat lagi kenangan-kenanganku bersama Paula di rumah itu. Aku takut tak bisa lagi move on Dan yah aku tak mau menyakiti Aisyah yang berharap banyak padaku.
Hotel X
"Aisyah, kita sudah sampai." ujarku pelan di telinga perempuan itu. Aku menepuk pipinya yang setia menempel padaku. Ia tertidur sepanjang perjalanan. Ia menggeliat pelan kemudian membuka matanya.
"Sampai di mana?" tanyanya yang masih dengan wajah pucat dan sangat lemas. Sepanjang perjalanan ia memuntahkan semua isi perutnya.
"Kita sudah sampai di hotel." jawabku.
"Masih kuat jalan sendiri masuk ke dalam?" Ia mengangguk kemudian menggeleng lemah. Akhirnya aku menggendongnya ke kamar yang sudah di booking oleh Albert.
"Mommy kenapa dad?" tanya Nikita bingung karena Aisyah sudah tidak punya tenaga dan sepanjang jalan ke kamar ia hanya diam saja dalam gendonganku.
"Mommy sakit. Kamu jangan ganggu ya... bisakan main sama uncle Max?
"Bisa dad, lagipula aku kan harus membiarkan daddy dan mommy tidur bersama. hihihi." jawaban Nikita sembari cekikikan itu membuatku tersenyum dan tanpa sadar kulihat bibir Aisyah juga berkedut dan tersenyum samar.
Kuletakkan tubuh Aisyah itu ke atas ranjang king size di dalam kamar ini pelan-pelan.
"Terima kasih tuan." ujar Aisyah tersenyum.
"Kamu perlu sesuatu?" Aisyah menggeleng lemah sepertinya ia hanya butuh melanjutkan istirahatnya.
"Okey, baiklah. Setelah bangun kamu pasti lapar jadi aku akan pesankan makanan untukmu." ujar sambil melihatnya membuka hijab yang menutupi kepalanya.
"Bisa?" aku bermaksud menawarkan bantuan. Ia sekali lagi mengangguk.
"Iyyya, " jawabnya lemah.
Aku pun meninggalkan Aisyah yg kembali tertidur dengan nyaman dengan rambut hitamnya yang sebahu. Ini kali ketiga aku melihat keadaannya seperti itu.
Aku kemudian menghubungi layanan kamar agar segera membawakan makanan yang hangat-hangat untuk dimakan oleh Aisyah agar kembali fit dan sehat lagi. Rasanya rugi kalau ia hanya tiduran di sini dan tak melihat suasana kota Moskow.
Beberapa menit kemudian makanan pesananku datang, aku membangunkan istriku itu agar segera makan.
"Hey, Syah bangun!" aku memanggilnya pelan tapi karena tak ada respon aku menggoyangkan kedua kakinya barulah ia terbangun dan menatapku.
"Ada apa tuan?" tanyanya dengan wajah polos. Entah kenapa ia sangat kelihatan cantik di mataku saat itu.
"Ayo makan dulu. lalu kita jalan-jalan."
"Hum, baiklah. Aku memang lapar sekali." jawabnya senang kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya pasti sangat lengket karena keringat dan muntah sepanjang perjalanan tadi.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.
Sambil menunggu kegiatan Alex dan Aisyah selanjutnya. Yuks mampir di karya teman othor nih, bagus dan keren.