
POV Alexander Smith
Akhirnya kami kembali ke hotel tanpa Aisyah. Sepanjang perjalanan Nikita tak berhenti menangis memintaku mencari mommynya. Aku berjanji besok aku akan mencarinya lagi. Maksim dan Albert kuperintahkan menggerakkan anggota organisasi untuk mencari keberadaan Aisyah di sepanjang jalan sekitar Museum.
Malam itu Nikita menangis tiada henti sampai badannya demam tinggi dan mengigau seperti malam sebelumnya.
"Mommy, don't leave me, hiks!" teriaknya dalam mimpi buruknya. Aku hanya bisa memberikan pelukan dan penghiburan sebisaku. Aku semakin dilanda kekhawatiran yang teramat sangat. Rupanya putri kecilku ini sudah merasakan firasat buruk kalau kejadian menyedihkan ini akan terjadi. Mungkin karena kedekatan mereka yang sudah sangat dalam bagai seorang ibu kandung dan putrinya sendiri.
Semua jaringan aku hubungi agar segera menemukan istriku itu. Tetapi sampai pagi ini tak ada kabar yang membuatku dan Nikita menjadi senang.
Hari ini Maksim kutugaskan menjaga Nikita sedangkan aku akan kembali ke Armoury Chamber, aku masih belum puas jika bukan aku sendiri yang mencari Aisyahku di sana.
Sesampainya di sana. Ternyata beberapa polisi masih berjaga di sana. Museum di tutup sementara waktu. Tidak menerima kunjungan sampai keadaan benar-benar bersih dan kondusif.
"Permisi Pak. Aku Alexander Smith. Istriku masih belum ditemukan sejak kemarin." ujarku memberi informasi. Aku ingin masuk ke lokasi Museum takutnya Aisyah masih ada di dalam sana.
"Oh, anda Alexander Smith yang hebat itu. Aku sangat senang berjumpa denganmu. Kurasa pemerintah akan memberimu penghargaan karena sudah membantu dalam menangkap komplotan perampok berbahaya seperti mereka."
"Aku tidak butuh penghargaan. Aku hanya mau istriku ditemukan!" teriakku mulai kesal.
"Permisi, aku akan cari ke dalam. Sendiri." Dengan langkahku yang panjang aku langsung melompati police line itu ( garis polisi)
"Hey tunggu, aku akan menemanimu." teriak polisi itu dan ikut melompati police line. Berdua kami menyisir Armoury Chamber dari segala sisi. Tak ada ruangan yang kami lewatkan. Tetapi tiba-tiba langkahku terhenti pada sebuah ruangan yang bersisian dengan pintu utama. Aku mendorong pintu kaca yang sudah pecah dari arah samping kananku. Aku ingat ada seseorang kemarin yang terkena peluru nyasar di sini.
"Ada yang kau temukan Mr.Smith?" tanya George polisi yang sedari tadi mengikutiku. Ia memperkenalkan dirinya sebagai polisi yang sangat setia kawan dan berasal dari Chechnya.
"Tidak, tapi ini?" aku berjongkok dan meraih sebuah benda yang pernah aku lihat sebelumnya tapi dimana. Aku memutar ingatanku. dan Ya.Semalam sewaktu Aisyah memperagakan pakaian yang sudah aku belikan ia memintaku untuk memasangkan bross ini di kerudungnya.
"Ini Bross milik istriku." ujarku dengan hati gembira. Setidaknya ada petunjuk di sini. Aku memperhatikan lagi keadaan ruangan itu dan seketika tubuhku menegang karena begitu banyak ceceran darah di dalam ruangan ini.
"Oh No, Aisyah!" teriakku tak sadar.
"Ada apa?" tanya George lagi penasaran.
"Anda betul, semua korban jiwa yang luka maupun yang meninggal dievakuasi ke rumah sakit di Moskow. tanpa terkecuali." George menatapku dalam lalu ia melanjutkan dengan nada bertanya tetapi memberi sebuah petunjuk.
"Heh, apa kamu yakin sudah menghabisi semua perampok kemarin?" pertanyaan George itu langsung membuatku mencurigai sesuatu. Aku mulai berpikir macam-macam. Tanganku kugenggam erat karena emosiku sudah sampai di ubun-ubun. Aku pastikan akan menghancurkan semua keturunan Gordon kalau ia berani bermain-main dengan ku. Kurasakan debaran jantungku menggila. Aku segera pamit dan akan mengatur siasat untuk melakukan penyerangan pada mereka jika belum mengirimkan kabar tentang Aisyahku dalam 24 jam ini. Bross Aisyah aku bawa turut serta.
Sesampainya di hotel aku melihat Nikita sudah mulai membaik bersama Maksim. Ia sedang menggigit potongan rotinya yang terakhir.
"Daddy, kamu sudah pulang? Dimana mommy? kenapa tidak ikut pulang?" aku tidak menjawab semua pertanyaannya aku hanya melangkah menuju sofa lalu berbaring di sana. Kepalaku pusing. Aku sangat khawatir pada perempuan itu. Ini sudah hampir 24 jam tapi belum ada laporan yang masuk dimana keberadaan istriku itu.
"Daddy!" panggil Nikita di sampingku. Ia meraba pipiku dan menciumku lembut.
"Mommy baik-baik saja kan?" ujarnya dengan suara tercekat. Kurasa sebentar lagi ia pasti akan menangis lagi.
"Iya, mommy baik-baik saja. Ia akan pulang, daddy janji." ujarku tanpa menatapnya. Aku takut melihat mata hitam Paula di sana. Aku takut semua yang aku sayangi akan meninggalkanku.
"Max bawa Nikita bermain di luar!" titahku pada Maksim. Aku ingin sendiri.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey???
Sambil menunggu update bentar sore, yuks kepoin karya teman othor nih, dijamin oke punya.
Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.
Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.
Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?