
"Maaf tuan Anderson, kalau boleh tahu ada urusan apa anda di Kazakhstan?" tanya Alex dengan berusaha mengalihkan pandangan pria itu dari putrinya. Entah kenapa ia sangat tidak nyaman dengan gerak-gerik pria muda dihadapannya ini.
Pria muda yang mengaku sebagai pria berkebangsaan Inggris.
Pasalnya tatapan mata pria itu selalu tertuju pada Nikita yang sedang asyik bersama dengan Elif dan adik-adiknya itu.
"Aku sedang ada sedikit urusan di tempat ini tuan Smith." jawab Crisstoffer Anderson sembari menyeruput minumannya. Alex tersenyum tipis tetapi perasaan curiga tetap saja ada di dalam hatinya.
"Semoga urusan anda segera beres. Kami akan berangkat ke Bandara sekarang. Nikmati hari anda tuan Anderson."
"Ah ya terimakasih banyak, tuan Smith." jawab pria muda itu dan ikut berdiri saat mereka semua keluar dari Restoran itu.
Crisstoffer Anderson menatap kepergian keluarga Smith itu dengan pandangan tak terbaca. Tangannya bergerak meraih handphonenya yang tiba-tiba bergetar.
"Ya ada apa?" tanyanya pada penelpon yang sedang menghubunginya.
"Baiklah, pastikan kakekku masih bisa melihat matahari terbit. Aku akan segera kesana." ujarnya dengan wajah panik. Dengan langkah cepat ia kembali ke kamarnya dan segera check out saat itu juga.
"Cepat bawa aku ke bandara sekarang juga!" teriak Crisstoffer Anderson kepada Sopir dari taksi yang sedang dikendarainya. Ia hanya punya waktu kurang lebih 5 jam untuk kembali ke Inggris sekarang juga.
Keadaan William Anderson sedang sangat gawat. Kepala pelayan di rumah kakeknya itu baru saja menelponnya kalau pria tua itu sudah dibawa ke rumah sakit karena sempat tak sadarkan diri.
"Oh Shi*it!" Crisstoffer Anderson mengusap wajahnya kasar. Ia bukanlah cucu yang baik bagi kekeknya tapi setidaknya ia ingin berbakti sedikit saja dengan memberikan kebahagiaan pada pria tua itu sebelum ajal menjemput.
"Bibi Paula, bagaimana pun juga aku harus membawamu bertemu dengan Kakek, tapi bagaimana mungkin? kamu saja belum aku temukan." ujarnya sembari berjalan cepat memasuki Bandara Udara Internasional Al Maty.
Ia sudah membeli tiket pesawat ke Inggris saat berada di dalam taksi tadi.
Di dalam Bandara. Ia tak sengaja bertemu dengan Nikita Smith yang sedang berjalan sendirian dan cukup terpisah dengan keluarganya yang lain.
Jalan satu-satunya untuk membuat William Anderson tenang adalah dengan membawa paksa gadis itu untuk bertemu dengan kakeknya. Hanya sehari atau dua hari.
"Hai, nona Smith?!" sapanya dengan sopan pada gadis berhijab itu. Nikita yang sedang sibuk dengan handphonenya langsung mendongak dan menatap pria yang sedang menyapanya. Seketika tubuhnya langsung gemetar takut.
"Hai Pak Anderson," jawabnya dengan berusaha tersenyum.
"Bisa aku meminta tolong padamu?" tanya Crisstoffer Anderson sembari melangkahkan kakinya mendekati gadis itu.
Sedangkan Nikita sendiri mundur ke arah dinding dan tak sadar tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Kenapa kamu takut? aku hanya ingin meminta tolong padamu." Nikita tidak menjawab. Entah kenapa tatapan tajam mata biru itu seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Dan tiba-tiba saja tubuh gadis itu melemas dan hampir jatuh melorot ke lantai.
Crisstoffer Anderson segera meraih Nikita kedalam pelukannya dan membawa tubuh lemas itu ke dalam mobil yang sempat ia hubungi sebelum menyapa gadis itu.
Ia harus membawa Nikita keluar dari Bandara dan juga Kazhakstan sekarang juga sebelum keluarganya sadar kalau gadis itu sudah tidak ada di sana.
Pria itu menyeringai senang karena berhasil menyemprotkan obat bius ke arah wajah Nikita.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍