
Heru tersenyum ramah sembari melambaikan papan segi empat di atas kepalanya agar keluarga yang sedang dijemputnya itu dapat melihatnya.
"Itu pasti yang namanya Heru, kata Reisya orangnya ramah dan juga memakai topi hitam," ujar Albert sembari mempercepat langkahnya keluar dari terminal kedatangan penumpang.
"Excuse me, Ia am Heru." sapa seseorang yang sedang membawa papan bertuliskan Welcome to Makassar, The Smiths!
"Hai Heru, aku Albert, dan mereka adalah keluargaku dari Rusia," ujar Albert sembari mengarahkan pandangannya pada rombongan the Smiths yang lainnya.
Tampan dan cantik-cantik batin Heru sembari mengangguk sopan pada tamu penting dari Reisya itu.
"Bagaimana perjalanan anda tuan?"
"Alhamdulillah, sangat menyenangkan. Indonesia adalah negara yang indah," jawab Albert dengan senyum diwajahnya. Ia merasa udara di sini sangat berbeda dengan udara di Moskow. Begitu pun cuacanya.
Perbedaan letak geografis Indonesia dan Moskow memang sangat jauh berbeda. Dimana waktu siang atau matahari terbit di Moskow lebih lama daripada saat matahari terbenam.
Alex dan Aisyah sampai mempunyai pikiran yang sama, mereka ingin melaksanakan ibadah puasa nanti di Indonesia saja yang waktu siangnya tidak terlalu lama dibandingkan dengan Moskow.
"Astaghfirullah, jangan sampai seperti itu, Alex," tegur Aisyah sembari tersenyum lucu.
"Aku cuma berandai-andai sayang, siapa yang tahu kalau kita diberi kesempatan oleh othor untuk berpuasa nanti di negeri ini, bisa saja kan?" jelas Alex tak mau disalahkan sendiri.
"Hore, artinya kita akan Lama di negara ini dad?" tanya Nikita dengan wajah ceria. Sepertinya ia sudah mulai bisa beradaptasi dengan udara Indonesia yang cukup panas dan sangat berbeda dengan cuaca di Moskow.
"Hahahaha, kita lihat saja nanti sayang," ujar Alex tersenyum lalu melanjutkan,
"Heru, kita akan naik apa ke rumah nona Reisya?" ia menatap Heru yang sedari tadi menikmati percakapan keluarga Smith itu.
"Ah iya, mari tuan dan nyonya, mobilnya ada di sebelah sana."
"Saya akan membawa tuan dan nyonya ke hotel terlebih dahulu." ujar Heru setelah seorang volunteer membantu mereka membawa barang-barang mereka ke atas mobil.
"Kenapa kita harus ke Hotel, bukannya rumah Reisya ada di dekat sini?" tanya Aisyah penasaran. Ia sudah merasa sangat rindu dengan sahabatnya itu.
"Reisya meminta maaf yang sebesar-besarnya tuan karena tidak sempat menjemput kalian di bandara."
"Tak apa Heru, kami sangat mengerti," jawab Aisyah tersenyum. Ia mewakili perasaan semua orang yang datang bersamanya itu.
"Saya juga diminta untuk mengantar tuan dan nyonya untuk beristirahat dulu hotel di dekat rumahnya, karena ia merasa ini adalah kejutan dan mereka belum siap."
"Oh iya iya, ini kesalahan Albert karena tidak memberi tahu Reisya terlebih dahulu, tapi tidak apa, kami akan menikmati ini sebagai hal yang sangat menyenangkan." ujar Alex sembari memandang wajah Alber yang hanya bisa tersenyum kikuk.
🍁
Sementara itu di Rumah Keluarga Reisya Rachman.
"Ibu, Albert dan keluarganya sudah sampai di bandara. Bagaimana ini, rumah kita tidak luas untuk menjamu mereka." ujar Reisya panik. Ia memandang keadaan rumahnya yang sangat jauh berbeda dengan rumah Alex di Moskow yang bagaikan istana.
Seharian ini ia dan para sepupunya membersihkan dan juga memperbaharui warna cat di dinding rumahnya yang sederhana dan minimalis ini tetapi tetap saja sangat tidak memuaskan baginya.
Ia selalu merasa kurang karena yang akan datang adalah tamu istimewa dan juga sangat penting.
"Reisya, tenanglah, apalah arti rumah yang luas jika yang punya rumah tidak luas dan lapang hatinya, santailah Reisya," ujar Suriya sang ibunda.
Suriya, sang ibu juga sudah membantu semaksimal mungkin menata ini dan itu agar rumah tampak lebih cerah dan bersih daripada biasanya.
Para tetangga pun sudah dikerahkan membuat banyak macam kue-kue tradisional untuk menyambut tamu yang sangat istimewa di hati sang putri.
"Tapi Bu, aku tetap merasa gugup dan juga malu,"
"Ya ampun Reisya, percaya dirilah, Albert jauh-jauh ke sini karena ia mencintaimu dengan tulus tanpa melihat latar belakang ekonomi dan juga kedudukanmu di masyarakat."
"Ibu," Reisya memeluk ibunya sembari tersenyum. Ia bersyukur karena mempunyai seorang ibu yang selalu bisa memahami dan mengerti dan perasaannya. Ia bagaikan sahabat bagi dirinya.
"Sudahlah sayang, yang jelasnya persiapkan dirimu saja, masalah menjamu dan menyambut mereka itu adalah tugas kami dan keluarga besar kita di sini. Bukankah tamu harus dijamu dengan sangat baik nak," Reisya mengangguk dan sekali lagi memeluk tubuh sang ibu.
"Ibu, aku sayang padamu."
"Iya, ibu tahu asalkan jangan sampai kamu melupakan ibumu ini kalau kamu sudah menikmati pernikahanmu dengan suamimu yang tampan itu."
"Ah ibu, jangan berkata seperti itu." ujar Reisya dengan semburat merah diwajahnya.
Setelah cukup lama berbincang, Reisya pun membersihkan dirinya dan menanyakan dimana sekarang posisi Albert dan rombongannya.
Dan karena ini juga sudah larut Ia sudah memerintahkan pada Heru untuk membawa Albert dan keluarganya agar menginap dulu di hotel malam itu.
Mereka baru akan menerima tamu-tamu itu secara resmi di rumahnya bersama keluarga besarnya sebagai bagian dari adat budaya suku mereka.
🍁
Omar merasa tak nyaman dan pusing melihat Anna mondar-mandir di depannya seakan memikirkan hal yang sangat berat.
"Duduklah Anna, kamu membuat kepalaku pusing," ujar Omar dan langsung menarik tubuh istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.
"Ada apa?" tanya Omar sembari memandang wajah sang istri yang sudah sangat dekat dengan wajahnya.
Anna tidak menjawab, ia hanya menunduk dan memainkan kancing kemeja sang suami.
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatupun yang membuatmu nampak khawatir seperti itu?" tanya Omar sembari meraih bibir sang istri kemudian melumaatenya lembut.
"Katakan, apa yang membuatmu khawatir," jari-jari Omar bergerak ke bibir Anna yang masih nampak basah itu.
"Aku juga ingin ke Indonesia, mereka bersenang-senang disana Omar, sedangkan aku hanya menjadi penghuni kamar ini saja seharian." gerutu Anna dengan bibir mengerucut. Omar kembali meraih bibir yang cukup menggoda itu dan melabuhkan ciuman panas lagi disana.
"Aku akan membawamu kesana saat acara pernikahan sudah hampir terlaksana sayang." ujar Omar menghibur sang istri yang sudah nampak bosan karena tidak punya teman cerita dan bermain bersama seperti Nikita dan juga Baby Danil. Sedangkan ia sendiri kembang sibuk dengan pekerjaannya di Rumah Sakit.
"Janji ya?"
"Janji, tapi kamu harus melakukan apa yang aku mau," ujar Omar sembari tersenyum penuh arti.
"Apa saja Omar akan aku lakukan tanpa kamu memintanya." Anna sudah tahu maksud sang suami, dengan rasa bahagia ia mulai memimpin permainan yang akan cukup menyenangkan dan juga mengeluarkan banyak energi.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eits, hampir lupa, mampir dong dikarya teman othor nih, dijamin oke punya.