
Bandara internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin pukul 12.00 siang.
Alexander Smith beserta keluarga kecilnya sampai di Moskow di siang hari itu dengan menggunakan pesawat komersil. Kedatangan mereka dijemput oleh Maksim dan juga Albert.
"Selamat datang kembali di negara kita Alex," ujar Maksim dan langsung memeluk tubuh Alex dan menepuk lengannya perlahan.
"Awww, ini masih sakit Max," ujar Alex meringis.
"Hei, siapa yang berani melukai bos kita ini hah? tunjukkan padaku!" ujar Maksim berniat berkelakar.
Alex tidak menjawab dan hanya mengelus lengannya itu kemudian tersenyum meringis.
"Selamat datang kembali Nyonya Smith, kami begitu gembira melihatmu baik-baik saja." sapa Albert sembari membungkuk pelan ke arah Aisyah dengan senyum cerah diwajahnya.
"Ah jangan berlebihan Al, aku seperti orang lain saja, bagaimana kabar Reisya? Apa sudah ada kabar baik?"
"Alhamdulillah, istriku sehat dan dia juga sangat merindukanmu. Setiap waktu hanya engkau dan baby Danil yang ia tanyakan." jawab Albert masih dengan senyum diwajahnya.
"Reisya ingin sekali menjemputmu tetapi ia sekarang sedang kurang sehat karena sedang mengandung baby kami," lanjut Albert dengan rona merah diwajahnya.
"Oh ya, itu kabar yang sangat menggembirakan. Aku juga ingin sekali bertemu dengannya, Tapi mohon maaf ya Al," ujar Aisyah sembari menyentuh kepalanya yang ia rasakan berdenyut hebat.
"Kami belum bisa kembali ke rumah sekarang ini. Ayah sakit. Jadi kami akan langsung berangkat ke Dagestan saat ini juga." Aisyah tersenyum tipis dengan wajah yang berubah warna menjadi pucat.
"Innalilahi wainna ilaihi rojiun, siapa yang mengatakannya kak?" tanya Albert dengan ekspresi terkejut. Pria itu memang tidak tahu apa-apa tentang ini semua.
"Kak Omar," jawab Aisyah singkat. Tubuhnya seketika menjadi lemas dan melorot ke lantai. Untungnya saat itu Alex berada di sampingnya sehingga ia segera meraih tubuh Aisyah yang lemas itu dan mengangkatnya ke dalam mobil.
Kondisi kesehatan Aisyah menurun mungkin dikarenakan perempuan itu sedang hamil sekarang ini dan telah melalui perjalanan yang cukup lama dan panjang dengan kondisi emosional yang sedang tidak baik-baik saja.
Seketika semua orang menjadi panik dan khawatir.
Maksim segera mengurus Nikita dan juga baby Danil sedangkan Albert segera mengangkat semua barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.
"Mommy!" panggil Nikita yang sedari tadi hanya sibuk bermain dengan Danil adiknya.
Gadis kecil itu begitu kaget karena melihat mommynya tiba-tiba lemas dan hampir pingsan.
"Kamu harus kuat sayang, ayah pasti baik-baik saja." ujar Alex sembari mengelus lembut punggung sang istri.
"Iya mom, kakek pasti sehat kembali kalau sudah berjumpa dengan kita semua." Nikita juga ikut meraih tangan mommynya untuk mengurai kesedihannya.
Aisyah mengangguk kemudian menggapai Danil yang ikutan menangis dengan kepanikan semua orang.
"Adek Danil, mommy tidak apa-apa, sini main lagi bersama kakak," ujar Nikita karena sang adik selalu ingin bersama mommynya yang sedang tidak sehat itu.
Danil akhirnya mau digendong oleh Nikita dan dibawa menjauh dari mobil itu untuk beberapa saat. Albert membawa kedua anak itu untuk bermain di taman sampai mommynya siap melanjutkan perjalanan.
"Kamu minum dulu ya sayang?" Aisyah mengangguk kemudian meminum air mineral yang diberikan oleh Maksim.
"Kurasa kita harus istirahat terlebih dahulu di rumah sampai kondisimu membaik." ujar Alex sembari mengecup bibir istrinya lembut.
"Tidak Alex, aku tidak bisa. Ayah sakit dan sangat merindukanku jadi kita harus segera berangkat." jawab Aisyah sembari menyentuh bibir suaminya yang masih berada beberapa senti dari bibirnya.
"Tidak ada debat, kamu harus istirahat dulu." ujar Alex tegas, ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon bayinya.
"Tapi Alex,"
Alex tidak menjawab ia hanya melabuhkan kembali bibirnya semakin dalam pada istrinya itu. Ia terlalu khawatir dan ia harus menyalurkannya pada istrinya.
"Kamu harus kuat, perjalanan ke Dagestan masih panjang. Kita butuh beberapa jam lagi untuk sampai di sana Aisyah, dan jangan buat aku khawatir sayang," ujar Alex sembari menyentuhkan keningnya dengan kening istrinya.
Dengan tak sabar ia raih lagi bibir yang sudah menjadi candu baginya itu. Mereka akhirnya saling melumaat dan membelit lidah. Melepaskan rasa stress dan khawatir.
Maksim yang berjaga di depan pintu mobil hanya bisa mencari kesibukan dengan menatap gambar-gambar Maryam sang istri di dalam galeri handphonenya.
Kuping Maksim cukup tercemar dengan suara-suara dari dalam mobil. Ia jadi sangat merindukan istrinya saat ini hanya dengan mendengar dua orang yang sedang saling merindukan itu sedang beradu bibir.
Sementara itu, Omar dan juga Anna sedang berjalan cepat ke dalam terminal kedatangan.
Mereka berdua juga berada di Bandara untuk menjemput kedatangan Aisyah beserta Alex dan putra-putrinya.
Karena tidak menemukan keberadaan mereka di tempat itu, dokter itu langsung menghubungi Maksim menanyakan dimana mereka saat ini.
Anna yang tanpa kesulitan mengimbangi langkah sang suaminya lantas bertanya,
"Dimana mereka, Omar?" suaminya hanya mengangkat tangannya diudara meminta istrinya untuk diam sejenak sementara ia menghubungi Maksim.
"Kami sedang ada di tempat parkir kak Omar." jawab Maksim dari seberang telepon.
"Kami akan segera kesana," jawab Omar dan segera mematikan sambungan telepon itu.
Beberapa menit kemudian Omar dan Anna sudah sampai di depan mobil Range Rover Evoquek yang sedang tertutup pintunya itu.
"Dimana Aisyah, Max?" tanya Omar tak sabar. Ia sangat merindukan adik perempuannya itu dan tak sabar untuk bertemu.
Maksim segera mengetuk pintu mobil agar dua orang yang sedang bercumbu itu segera menghentikan kegiatannya.
Alex segera melepaskan tautan bibirnya pada istrinya.
Tangannya juga segera memperbaiki pakaian Aisyah yang sempat dengan lincah ia buka di bagian atasnya.
"Ada apalagi dengan Aisyah?" tanya Omar saat pintu terbuka dan melihat adik perempuannya itu sedang duduk lemas dan juga dengan semburat merah diwajah sang adik. Instingnya mengatakan kalau adiknya itu baru saja dicumbu oleh suaminya. Meskipun begitu ia tetap saja merasa khawatir pada adiknya itu.
"Aisyah masih butuh istirahat kak, perjalanan panjang ini membuatnya lemas. Ia juga sekarang sedang mengandung." jawab Alex cepat jangan sampai kakak iparnya itu memikirkan hal yang tidak-tidak padanya.
"Aisyah, kamu sedang hamil adikku?" tanya Omar dengan wajah berbinar senang. Aisyah hanya tersenyum lalu mengangguk.
Perempuan itu belum berhasil menata debaran jantung yang terpacu cukup kuat karena hasrat yang sedang memuncak setelah suaminya melakukan sesuatu yang sangat membuatnya relax dari masalah yang berat yang ia pikirkan.
"Aisyah, aku senang kamu sekarang sudah kembali dengan selamat dan berkumpul bersama dengan kami di sini."
"Iya Anna, aku juga senang luar biasa. Tapi Ayah?" ujar Aisyah kembali murung.
"Istirahatlah dulu, keadaan bayi dan dirimu juga perlu diperhatikan. Kita semua akan berangkat besok pagi saja setelah kondisimu membaik."
"Iya kak," jawab Alex kemudian meremas tangan istrinya itu lembut. Nampak sekali wajah frustasi dari dirinya karena kembali terganggu oleh kedatangan orang-orang ini.
Ia bertekad malam ini ia harus berhasil mengunjungi sang istri, apa pun caranya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍