Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 36 EMHD



POV Alexander Smith


"Daddy!" teriak Nikita dengan wajah bahagia kemudian ia berlari menyambutku yang baru sampai di beranda rumah Paman Yusuf. Aku segera meraih tubuh kecil itu dan kudekap penuh kerinduan. Semalam tidak menghabiskan waktu bersama rasanya hatiku sudah sangat rindu. Nikita berusaha meronta ketika dekapanku semakin erat.


"Daddy, aku tidak bisa bernafas." gerutunya dengan wajah yang lucu. Aku tertawa dibuatnya. Ia akan selalu berkata seperti itu ketika aku mendekapnya erat.


"Hey, kamu tampan sekali, dad." lanjutnya sembari menatap tubuhku yang sangat rapi pagi ini. Aku sengaja memakai pakaian terbaikku dan sudah merapikan bulu-bulu halus di sekitar wajahku.


"Kata bibi Sarah, kamu demam ya?" tanyaku tanpa merespon pujiannya sembari menciumi seluruh permukaan wajahnya yang sudah sangat cantik dan segar pagi itu.


"Aku sudah sembuh dad. Itu karena ibu Aisyah yang memaksaku minum obat yang rasanya sangat pahit uweee." jawab Nikita dengan suara renyahnya, sambil berakting sedang minum obat yang pahit. Aku sampai tersenyum-senyum dibuatnya. Anak ini kalau hatinya lagi baik ia pasti akan bercerita banyak hal. Sekilas aku melihat Aisyah Putri paman Yusuf yang menjadi biang kekacauan ini. Gadis itu diam-diam tersenyum melihat kami berdua.


"Apa aku bisa bertemu dengan ayahmu?" pandanganku kualihkan dari wajah Nikita ke wajah gadis yang sejak tadi kulihat memperhatikan interasi antara aku dan Nikita.


"Silahkan, beliau ada di dalam." jawab gadis itu sedikit gugup kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke dalam rumah.


Aku mengikuti langkahnya sembari merapalkan doa agar semua berjalan dengan baik. Saat ini aku sudah memutuskan untuk melamar putri Paman Yusuf ini menjadi mommy Nikita.


"Assalamu'alaikum Paman." ujarku sopan kala Aisyah mengantarku ke sebuah ruangan yang dipenuhi oleh banyak kitab dan banyak karya tulis lainnya. Paman Yusuf menutup kitab yang sedang dibacanya kemudian menatapku sambil tersenyum.


"Waalaikumussalam, mari duduk di sini." Aku menghampirinya kemudian duduk di sebuah kursi kosong yang ada di depannya.


Aisyah kulihat meninggalkan kami dan membawa putri kecilku itu bersamanya.


"Maafkan aku paman, karena telah membuat kekacauan dan ketidak nyamanan di rumah ini." ujarku memulai. Paman Yusuf sekali lagi menatapku dengan mata teduh seorang ayah. Bibirnya yang sudah keriput kembali tersenyum padaku. Aku kembali melanjutkan ucapanku setelah membaca bismillah berkali-kali.


"Aku ingin mengambil Aisyah darimu paman menjadi istriku, ibu dari putriku Nikita." aku bernafas lega setelah kalimat yang sangat sulit kuucapkan itu akhirnya keluar juga dengan lancar dari mulutku.


Aku gelisah luar biasa karena Paman Yusuf tidak menyambut antusias atas lamaranku pada putrinya, tiba-tiba aku merasakan diriku menciut.


"Alhamdulillah ya Allah." kuangkat wajahku karena kudengar juga paman Yusuf berucap dan mengucap syukur, mungkinkah ia menerima lamaranku?


"Aku bersyukur karena akhirnya nak Alex dengan penuh tanggung jawab datang kepadaku untuk meminta putriku." ucap paman Yusuf sembari menyalami tannganku.


"Aku harap kamu bisa mencintai putriku sebagai seorang istri bukan hanya sebagai pengasuh putrimu."


Deg


Aku terasa tertampar dengan ucapan ayah dari Aisyah itu.


"Perbaiki niatmu nak karena ini adalah awal dari sebuah kebaikan yang di ridhoi oleh Allah." aku mengangguk kemudian memeluk tubuh yang sudah tidak muda lagi itu. Dalam hati aku berdoa semoga aku bisa membahagiakan putrinya.


"Kapan waktu yang kamu pilih untuk melaksanakan kebaikan ini?"


"Lebih cepat lebih baik paman, aku hanya menunggu Maksim dan Albert membawa mahar yang akan aku serahkan pada putrimu.


🍁


"Wah, akhirnya bos kita berani juga." ujar Albert saat baru turun dari mobil dan menurunkan barang-barang yang aku pesan.


"Uncle, apa kau membawa mainan untukku?" tanya Nikita sembari melihat-lihat macam-macam barang yang sudah menumpang dalam ruang tamu.


"Mainanmu sudah hampir ada disini." jawab Albert sekenanya.


"Mainan yang mana?" tanya Nikita bingung. Aku menghampirinya dan membelai rambutnya pelan.


"Sebentar lagi kamu akan punya mommy!" ujarku dan langsung membuat ia melompat kegirangan.


"Yeuy Mommy. Dimana dia dad? Apakah ibu Aisyah mau jadi mommy ku?" tanyanya dengan pandangan penuh harap. Mata hitamnya kembali mengingatkan aku pada Paulaku yang sudah lama meninggalkan ku.


Aku menutup mataku tak berani bertatapan dengannya. " Iyya sayang, Ibu Aisyah akan jadi mommy seperti yang kamu inginkan." ujarku berusaha kuat. Aku seperti sedang menghianati Paula.


"Yeay, Alhamdulillah. Antar aku dad, menjemput ibu Aisyah.


"Hey, belum boleh. Besok saja, okey?"


"Kenapa?" tanya Nikita cemberut. Aku jadi tersenyum dibuatnya.


"Setelah acara pesta selesai, kamu bisa bersama ibu Aisyah sepanjang waktu." jawabku agar putriku itu tidak bersedih lagi.


"Hum, baiklah dad, aku akan bersabar sampai besok." aku menciumi lagi wajahnya.


"Aku mencintaimu sayang, " ujarku lembut.


"Me too." Nikita mencium ku sambil tersenyum.


---Bersambung---


Hai sampai sini dulu yah, bentar lagi di sambung...lagi sibuk ini mempersiapkan pernikahan babang Alex hehehe.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


Okey, deh sambil nunggu update berikutnya, yuk mampir ke karya teman othor.


Hanna merupakan istri yang ceria dan manja. Namun, karena suatu ketika dia mendengar kata-kata menyakitkan dari suaminya membuat hati wanita itu sakit dan berniat berubah menjadi wanita tegar.


"Hanna bagaikan noda hitam yang melekat pada pakaian ku. Kalau bukan karena bakti ku pada orang tua. Sudah dari dulu aku meninggalkan nya!" ujar Reza pada temannya.


Degg.


Hanna memeluk kotak bekalnya erat. dia tak menyangka suaminya bisa sejahat itu menyamankan dirinya dengan noda hitam.


"Baiklah, Mas. Mulai saat ini aku akan berubah, jangan salahkan sikap ku yang nantinya akan membuat mu pusing tujuh keliling!" gumam Hanna dengan mata yang mengajak sungai.