
"Ayah..." Aisyah menghambur ke pelukan Mohammad Yusuf dengan tangis yang berderai. Malam ini juga ia akan dibawa oleh suaminya dan meninggalkan rumah tempat ia lahir dan tumbuh besar. Ini adalah pertama kalinya ia tidak tidur di kamarnya sendiri. Selama ini ia tak pernah kemanapun kecuali saat pergi ke sekolah.
"Sekarang kamu bukan lagi milik ayah. Kamu adalah milik suamimu, dengarkan apa katanya dan lakukan perintahnya." ujar Mohammad Yusuf sembari mengelus lembut punggung putrinya. Ada rasa sedih menghiasi wajahnya yang semakin menua. Omar putranya pergi dalam keadaan marah dan tidak sempat menyaksikan adik semata wayangnya menikah.
"Ayah..." ujar Aisyah lagi. Ia masih memeluk erat tubuh yang sudah hampir 20 tahun selalu bersamanya. Ia belum rela berpisah dengan pria tua itu. Seorang ayah yang telah membesarkannya sendirian karena telah lama ditinggal oleh istri tercinta sejak dirinya masih berkulit merah.
"Sudah, hentikan tangismu dan pergilah atau ayah akan memaksamu keluar dari rumah ini." ujar ayahnya dengan suara bergetar. Ia sendiri tidak bisa menahan kesedihan ini padahal jarak rumah mereka begitu sangat dekat. Tetapi entah kenapa perpisahan seorang ayah dan putrinya ketika menyerahkannya kepada pria lain adalah saat-saat yang sangat menyedihkan.
"Ayah..." Aisyah semakin mengencangkan tangisnya. Ia tak tahu bagaimana keadaan keluarga barunya kedepannya karena ia sangat sadar hanya ia yang mencintai pria dingin itu dan mengharapkan pernikahan ini.
"Nak Alex bawa Aisyah pergi dari sini." seru Mohammad Yusuf pada Alex yang hanya bisa berdiri dalam diam menyaksikan kedekatan antara istrinya dan ayahnya.
Alexander sendiri membayangkan bagaimana nantinya ia dan Nikita kelak kalau putrinya itu menikah dan dibawa pergi oleh suaminya. Mungkin ia juga akan merasakan hal yang sama. Sedih.
"Ayah..." perlahan pelukan Aisyah mengendur karena merasakan sebuah tangan besar sedang menariknya menjauh dari tubuh ayahnya.
"Kami pamit ayah, Insyaallah besok pagi kami akan kembali ke sini." ujar Alex sembari memeluk tubuh mertuanya itu.
"Aku menyerahkan Aisyah sepenuhnya padamu. Limpahkan ia dengan kasih dan sayang seperti yang aku berikan padanya. Dan ya, Kami tidak mengenal yang namanya perpisahan tetapi jika ia sudah tidak lagi menarik di matamu, maka kembalikan ia padaku." Mohammad Yusuf seorang kepala suku Avar mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang sangat dalam.
"Ayah..." kembali Aisyah menghambur lagi kearah ayahnya tetapi Alex segera memeluk dan menariknya menjauh. Mereka pun keluar dari kamar sang ayah kemudian melangkah ke arah mobil Maksim yang menunggu diluar.
"Mommy, kenapa lama sekali aku sudah mengantuk. Huaaaap." ujar Nikita merajuk sambil menguap. Ia ternyata sudah lama berada di atas mobil. Meskipun jarak antara rumah Alex dan Mohammad Yusuf hanya berjarak Satu blok saja, tetapi Alexander tak menginginkan istri barunya berjalan kaki ke rumahnya.
Ada lagi tradisi yang biasa mereka lakukan saat pernikahan yakni pengantin perempuan akan dibawa oleh kerabat dengan menggunakan selendang untuk menutupi wajahnya dan berjalan kaki menuju rumah mempelai laki-laki dengan menggunakan penerangan berupa obor-obor di sepanjang jalan. Tetapi itu tidak berlaku bagi mereka saat ini karena Nikita sudah lelah dan ingin sekali kembali ke rumahnya untuk tidur bersama mommy barunya.
"Mommy," Nikita memeluk tubuh Aisyah begitu erat seolah tak akan bertemu lagi. perempuan muda itu hanya tersenyum, ia maklum karena gadis kecil itu memang sudah lama menginginkannya menjadi mommynya.
"Aku yang akan menggendongnya ke dalam." ujar Alex ketika kendaraan mereka sudah sampai di depan rumah sedangkan Nikita masih asyik memeluk tubuh Aisyah bagai koala.
Aisyah memandang takjub pada kamar yang ia masuki. Ini bukan kamar Nikita yang sering ia kunjungi setiap ia kerumah ini. Dekorasi kamar ini begitu indah khas kamar pengantin bergaya modern. Ia yakin ini hasil karya Albert yang lebih berwajah seni daripada Alex atau Maksim yang lebih sering berwajah datar sedatar tembok.
"Mommy..." panggil Nikita yang sudah berbaring di atas ranjang cantik bernuansa putih itu. Aisyah segera menghampiri tempat tidur.
"Ada apa sayang?" tanya Aisyah lembut.
"Aku mau memeluk mu jangan kemana-mana ya." Aisyah mengangguk dan tersenyum. " Mommy akan bersamamu sepanjang waktu, tidurlah." jawab Aisyah sembari membelai rambut pirang gadis cilik itu. Sampai akhirnya Nikita tertidur nyenyak barulah ia berpikir untuk mengganti pakaiannya.
"Hey, apakah aku ingat membawa pakaian ganti?" tanyanya pada diri sendiri. Ia mondar mandir di kamar itu sembari memikirkan bagaimana caranya ia mengganti pakaian adat yang ia gunakan padahal ia tidak membawa apa-apa gara-gara sibuk berpamitan kepada ayahnya dengan perasaan sedih.
Tok
Tok
Tok
Sebuah ketukan dari arah pintu kamar memaksanya untuk bangun kembali. Ia membuka pintu kamar itu dan melihat Alex berdiri di sana dengan tampang seperti biasa. Dingin dan datar.
"Bibi Sarah baru saja mengantarkan ini." ujar Alex sembari mengangkat sebuah tas yang Aisyah duga adalah beberapa potong pakaian di dalamnya.
"Apa bibi masih ada di luar?" tanya Aisyah antusias. Ia mulai melangkah keluar melewati tubuh tinggi tegap Alexander di depan pintu.
"Bibi sudah pulang. Masuklah dan tidur." jawab Alex datar.
"Oh, ya sudah." Aisyah kembali masuk ke kamar yang mungkin sudah menjadi miliknya itu sembari membawa tas yang di bawa oleh Alex tadi.
"Tuan tidur dimana?" tanya Aisyah saat Alex mulai membalik badannya dan bersiap meninggalkannya di sana.
"Aku tidur di kamar Nikita. Sekarang ini adalah kamar mu, kamu bebas melakukan apa saja. Selamat malam." perempuan muda itu hanya bisa memandang punggung lebar Alex semakin menjauh dan berbelok ke sebuah ruangan dimana masih ramai oleh suara-suara orang bersenda gurau.
"Oh, begini ya rasanya malam pertama." gumam Aisyah pada dirinya sendiri. Ia pun masuk ke kamarnya kemudian mengganti pakaiannya menjadi gaun tidur dan naik ke atas tempat tidur untuk memeluk malam dan berharap bermimpi indah.
"Bos, kamu tidak menghabiskan malam ini dengan istrimu?" tanya Albert penasaran. Ia tadinya berharap saat Bibi Sarah datang membawa pakaian Aisyah, Alex jadi punya alasan untuk masuk ke kamar yang ia sudah rancang sangat cantik itu, ternyata big bossnya yang tak mudah ditebak itu malah kembali bergabung dengan mereka semua di beranda depan.
"Kamu bisa diam?" tanya Alex dengan pandangan mata tajam. Ia tak mau membahas itu sekarang.
"Cooling down Mr. Smith." lanjut Albert tertawa sembari memberikan minuman penghangat tubuh dari campuran jahe dan rempah-rempah lainnya. Kebiasaan mereka meminum Vodka sudah tidak berlaku lagi. Alex menghisap cerutunya dalam-dalam sambil membujuk hatinya untuk melupakan kenangan Paula mulai malam ini.
---Bersambung---
Mana nih dukungannya untuk pengantin baru kita...Like dan berikan komentar mu ya gaesss. Kalau ada bunga setaman bolehlah untuk Babang Alex, kopi segentong juga bagus untuk bikin othor kuat begadang, hahaha.
Yuk mampir di karya teman othor nih dijamin puasss.