Ex Mafia Hot Daddy

Ex Mafia Hot Daddy
# Part 234 EMHD



Moskow pukul 09.00 malam.


Keluarga Smith tiba di Moskow saat langit malam sudah menampakkan dirinya. Omar kembali bersama istri dan anaknya kerumah mereka sendiri. Begitupun Elif Kaya, gadis itu diantar ke rumahnya oleh rombongan keluarga Smith.


"Terimakasih banyak uncle, onty, dan semuanya," ujar Elif pada mereka semua sembari melambaikan tangannya.


"Bye bye kak Elif, see you next time!" teriak para bocah yang berebut mengeluarkan kepala mereka dari jendela mobil. Rupanya kebersamaan mereka di Dagestan membawa mereka semakin akrab dengan gadis asal Turki itu.


"Bye and See you too," jawab Elif dengan senyum diwajahnya. Kedua orangtua gadis itu juga ikut tersenyum dan melambaikan tangannya pada keluarga Smith.


"Kalau besar nanti aku ingin melamar Kak Elif jadi istriku," ujar Danil dengan gayanya yang sok dewasa.


"Danil?!" semua orang berteriak tak percaya dengan ucapan anak berusia 8 tahun itu.


"Hehehe, tidak apakan kalau aku ingin menikah lebih cepat," jawab bocah itu sembari jari-jarinya menyugar rambutnya ke belakang.


"Danil?!" sekali lagi teriakan orang-orang dewasa itu memenuhi kotak besi beroda empat itu.


"Maaf, aku hanya bercanda mom, hehehe," ujarnya lagi dengan senyum cengengesan ketika Aisyah menatapnya bagaikan sinar laser yang menembus jantungnya.


"Kalau kak Niki, apakah boleh menikah saat ini? usianya kan sudah 18 tahun,"


"Danil?!" kali ini Nikita lah yang berteriak sendiri karena semua orang di dalam mobil itu menatap anak laki-laki satu-satunya dari Alex itu dengan tatapan membunuh.


"Maaf maaf, aku kan cuma bertanya," ujar Danil sembari memasang headset di telinganya. Ia sekarang ingin diam sambil mendengarkan musik.


Beberapa menit berikutnya mereka pun sampai di rumah tempat tinggal keluarga besar Smith.


"Al," panggil Reisya pada suaminya meminta bantuan karena putra-putrinya sudah tertidur.


"Iya sayang, biar aku yang menggendong mereka. Kamu langsung masuk saja ke dalam.


Mereka pun masuk ke rumah besar itu dijemput oleh kepala pelayan dengan wajah gembira.


Ada banyak rasa yang terlukis pada wajah dan perasaan mereka saat itu. Rasa gembira karena bisa kembali menghirup udara Moskow dan juga rasa sedih yang tersisa akibat meninggalnya kakek dan ayah tercinta bagi mereka semua.


"Bisakah saya mengambil waktu anda sebentar tuan Smith?" pintanya pada Maksim, orang kedua di keluarga Smith tersebut.


Kepala pelayan itu sengaja ingin menyampaikan suatu hal penting saat semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Pria berusia 60 tahun itu suka berbicara pada Maksim jika ada masalah yang cukup perlu membutuhkan perhatian khusus. Karena Maksim lebih tenang dalam berpikir dan juga bertindak dibandingkan Alex dan juga Albert yang cenderung gampang emosi.


"Apakah ada hal serius selama kami tidak berada di rumah ini, uncle?" tanya Maksim dengan pandangan mata tajam.


"Iya tuan. Ada tamu yang memaksa masuk ke rumah ini sehari sebelum kalian berada di rumah ini." lapor kepala pelayan itu.


"Maksud uncle, kemarin? dan tamu?" tanya Maksim dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Iya tuan, mereka mengaku sebagai orang yang ingin bertamu di rumah ini."


"Apakah tamu itu pernah datang sebelumnya?"


"Menurut penjaga keamanan. Pria itu pernah datang kemari sebelumnya tapi sudah agak lama."


"Oh ya? Pria ya?"


"Iya tuan,"


"Siapa yang ia cari?"


"Mereka mencari nona muda Nikita."


"Mereka? Apa orang itu lebih dari satu?"


"Mereka berdua saja tuan. Seperti seorang kakek dan cucunya."


"Apa mereka menyebutkan namanya?" tanya Maksim yang mulai mencurigai William Anderson dan juga cucunya yang sangat brengsek itu.


"Tidak tuan, karena kami tidak memberikan mereka izin untuk memasuki rumah ini selama anda semua tidak berada di sini.


"Bagus sekali uncle, itu adalah tindakan yang benar."


"Baiklah uncle, aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu dan ya pastikan para penjaga tidak membiarkan tamu asing selain dalam daftar untuk masuk ke rumah ini."


"Iya tuan, saya mengerti." jawab kepala pelayan itu dengan wajah menunduk.


Maksim pun berlalu dari hadapan pria tua itu kemudian memasuki kamarnya untuk beristirahat dengan berusaha mengabaikan prasangka buruk di dalam hatinya.


"Ada apa Max, kenapa kepala pelayan itu memanggilmu?" tanya Maryam sembari mengambil mantel yang baru dilepaskan suaminya itu dan menggantungnya di dalam lemari pakaian.


"Ah tidak ada yang penting sayang. Ia hanya membicarakan urusan keamanan rumah ini." jawab Maksim kemudian melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pria itu tidak ingin membebani istrinya tentang permasalahan Nikita dan keluarganya di Birmingham.


Maryam hanya bisa menatap punggung suaminya itu yang semakin menjauh kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya.


Perempuan itu ingin memeriksa dulu putra-putrinya sebelum tidur bersama Maksim sang suami.


🍁


Sementara itu di kamar utama.


"Alex, ceritakan padaku sayang apa sebenarnya yang terjadi pada Nikita selama di Birmingham," pinta Aisyah saat suaminya itu bersiap untuk tidur. Perempuan cantik itu tahu ada yang suaminya sembunyikan dari dirinya tentang penculikan putri mereka itu.


Alex tidak menjawab dan malah sibuk menepuk bantal dan membuka lipatan selimut yang akan ia gunakan.


"Alex, apa kamu menyembunyikan sesuatu padaku, Hem?" tanya Aisyah lagi sembari meraih tangan suaminya yang sedang memegang kain tebal dan lembut itu.


Alex menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Nampak sekali kalau pikirannya sedang dalam kondisi berat.


"Nikita diculik oleh Crisstoffer Anderson sepupunya sendiri," jawab Alex setelah lama terdiam.


"Sepupu? apa kamu mempunyai keponakan di Birmingham sayang?" mata bulat Aisyah semakin membulat sempurna dengan pernyataan suaminya itu.


"Tidak Aisyee, keponakan itu bukan dari aku tapi dari mommy kandungnya, Paula."


Deg


Aisyah tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman dengan berita yang ia dengar. Alex menatap istrinya itu dengan wajah khawatir.


"Aku takut mereka ingin mengambil Nikita dari kita sayang, ini adalah percobaan penculikan pertama dan aku khawatir mereka akan melakukannya lagi."


"Alex, jangan terlalu khawatir seperti itu sayang, bagaimanapun juga Nikita sudah dewasa dan ia berhak tahu siapa keluarganya yang lain selain kita," hibur Aisyah dengan senyum diwajahnya tetapi sesungguhnya hatinya juga dilanda kekhawatiran yang sangat dalam.


Perempuan cantik itu merasakan kekhawatiran yang lebih karena ia takut Nikita nanti mengetahui kalau ia bukanlah mommy kandung dari gadis cantik itu.


"Iya sayang aku akan berusaha bersikap dewasa. Meskipun aku berharap William Anderson itu tidak menyadari kalau mereka adalah keluarga terdekat putriku." ujar Alex sembari mengajak istrinya berbaring disampingnya. Aisyah pun mengikuti suaminya dan memeluk pria tampan itu dengan pikiran berkelana kemana-mana.


"Tidurlah sayang," Ujar Alex kemudian mengecup lembut bibir istrinya itu.


"Aku tidak bisa tidur Alex," jawab Aisyah kemudian bangun dari tidurnya.


"Hey kenapa? ini sudah sangat larut sayang, kemarilah berbaring lagi disini." panggil Alex pada sang istri karena Aisyah malah ingin turun dari ranjang itu.


"Aku tidak bisa tidur memikirkan Nikita," jawab Aisyah dengan wajah khawatir.


Alex langsung menarik istrinya untuk kembali berbaring.


"Aku akan membuatmu tertidur dengan nyaman, percaya padaku okey?" bisik Alex kemudian mulai menyentuh bibir istrinya dengan lembut.


Aisyah tidak menjawab. Perempuan cantik itu hanya ingin menikmati apapun yang dilakukan suaminya padanya hingga ia merasa rileks dan nyaman.


"Aisyee..."


"Hmppppt, Aaaaakh,"


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍