
Sejak perdebatan hari itu Nikita dan Alexander jarang berkomunikasi. Nikita hanya mau bicara pada uncle Maksim dan uncle Albert. Alexander seperti orang asing yang tidak dianggap di rumah itu.
"Boss, boleh aku kasih saran?" ujar Maksim sore itu. Ia dan Albert akan segera kembali ke Moskow esok paginya jadi ia tidak mau meninggalkan dua orang daddy dan putrinya itu dalam keadaan diam-diaman.
"Turuti permintaan Nikita," ujar Maksim sembari menatap mata Alex mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan di dalam hatinya selama ini.
"Permintaan yang mana, akhir-akhiir ini anak itu menjadi manja karena keberadaan kalian di sini." jawab Alex sembari meminum coklat panasnya.
"Kamu tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu, hah?" Maksim berubah kesal dibuatnya. Alexander selalu menyalahkan mereka berdua jika Nikita merajuk seperti itu.
"Tidak semua permintaan anak itu harus dipenuhi. Kalau ia hanya meminta mainan, buku, dan yang lainnya aku bisa mengabulkannya. Tapi ini apa? ia meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan." Alexander membuang pandangannya ke seluruh ruangan. Ia tak mau memandang Maksim yang sedang menatapnya dengan pandangan mengintimidasi.
"Kenapa tidak bisa, sedangkan aku tahu kamu juga mulai menyukainya."
"Aku menyukainya hanya sebatas sebagai hubungan kami yang selama ini baik. Dia banyak membantu Nikita dalam proses kesembuhannya." ujar Alex kemudian menyeruput kembali coklat yang tidak panas lagi.
"Setidaknya pertimbangkan keinginan putrimu." Maksim sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
"Hei, kalau pun aku pertimbangkan memangnya gadis itu mau, hah?"
"Astaga, jangan berpura-pura bodoh aku tahu kamu bisa mengetahui gerak-geriknya. Ia menyukaimu bukan hanya sebagai tetangga tetapi kepada seorang laki-laki dan aku peringatkan jangan sampai kamu menyesal." Maksim berdiri dari duduknya dan meninggalkan Alexander dengan segala kemelut dalam hatinya.
"Aku belum bisa melupakan Paula, Max." ujarnya dalam hati.
🍁
Dua hari ini Nikita tidak punya selera makan. Ia juga selalu murung setiap pulang dari sekolah.
"Ada apa Niki?" tanya Alex pada putri tersayangnya. Tubuh anak ini menjadi loyo dan tidak bersemangat. Untungnya ia masih mau meminum susunya.
"Tidak apa dad." jawab Niki tak bersemangat. Ia meninggalkan Alex yang hanya bisa diam di depan kamarnya. Kemudian pria itu keluar menuju kebunnya untuk melakukan menyiangi sayur-mayur yang ia tanam beberapa hari ini.
"Wahhh Mr. Smith. Anda rupanya pria yang rajin ya." sapa seseorang dari arah belakang punggungnya. Sepertinya ia mengenali suara itu. Ia berbalik dan melihat dr. Omar ada di sana bersama seseorang yang telah membantunya pada proses sunat di Rumah Sakit Moskow pada waktu itu.
"Terima kasih pujiannya dokter. Bagaimana kabar kalian berdua." Alex segera menyimpan peralatan bertaninya ke sudut kebun dan menghampiri kedua dokter muda itu.
"Seperti yang kamu lihat, Mr.Smith. Kami berdua sehat." jawab dokter Sergey Abdullah dengan senyum terkembang.
"Oh, syukurlah. Kalau begitu." ujar Alex tersenyum.
"Bagaimana keadaanmu Mr. Smith, apa ada keluhan setelah sunatan itu?" tanya dr. Sergey lagi.
"Oh tidak. Semuanya baik bahkan sangat baik. Terima kasih dokter."
"Apakah anda sudah mencobanya Mr. Smith?" tanya dokter muda itu sembari mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"Oh, tidak. Aku tidak punya istri. Aku hanya tinggal bersama putriku Nikita." jawab Alexander maklum.
"Dan Kapan anda berdua tiba?" tanya Alex dengan wajah gembira. Ia ingin mengalihkan pembicaraan tentang keluarga itu. Ia sering sekali mendapatkan tatapan kasihan dari orang lain saat mengatakan kenyataan kalau istrinya sudah tiada.
"Hem, Beberapa jam yang lalu. Kami ingin berjalan-jalan di sekitar desa ini. Dan yah, kami menemukan anda di sini." jawab Omar dengan tangan ia masukkan ke dalam saku mantelnya.
"Bagaimana kabar putri anda Mr. Smith?" lanjut Omar kemudahan menatap sekeliling keadaan rumah yang ditempatinya Alex. Rumah yang pernah ia tinggali sebelum menempuh pendidikan dokternya di Moskow.
"Alhamdulillah baik. Sudah bisa berjalan sendiri, berkat perawatan adik anda."
"Wahh hebat. Sudah kubilang Aisyah paling bisa diandalkan kalau berhubungan dengan orthopedi." ujar Omar dengan mata berkilau senang.
"Sampaikan salam ku pada putrimu. Mr. Smith." lanjut dokter muda itu lagi. "Semoga kalian berdua betah di desa kami."
"Tentu saja dokter. Aku berharap bisa menghabiskan masa tua dengan putriku di sini. Semua penduduk di sini sangat menyenangkan." senyum Alex kepada kedua dokter yang berbeda spesialisasi itu.
"Dan akan terasa kering jika anda menua tanpa pasangan hahaha." canda dr. Sergey Abdullah.
"Hey, memangnya anda sudah menikah?" tanya Alex dengan senyum lucunya.
"Belum, tapi sebentar lagi aku akan menjadi saudara ipar Omar." seketika Alex membeku. Ada hantaman tak kasat mata yang menyerang hatinya. Senyumnya tiba-tiba memudar.
"Well, kami mengundang kalian untuk makan malam sebentar malam di rumah. Ingat kami mengharapkan kedatangan kalian." Omar memutuskan pembicaraan mereka bertiga kemudian segera berpamitan.
"Assalamualaikum Mr.Smith."
"Waalaikumussalam warahmatullahi." jawab Alex melepas kedua dokter itu pergi. Ia segera masuk ke rumah setelah membersihkan tangannya yang penuh tanah. Mulai sekarang ia harus bisa membicarakan ini dengan Nikita putrinya.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya dengan cara like, dan tinggalkan komentar positif agar othor tetap semangat.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Sambil menunggu Daddy Alex dan Nikita bersiap makan malam. Othor sarankan untuk membaca karya teman othor ini yah, dijamin bikin nagih.
Judul : Bed Friend
By : Weny Hida
Kenzo awalnya selalu menolak Cleo, wanita bar-bar dan agresif yang sudah dijodohkan dengannya, tapi saat cinta itu sudah tumbuh kesalahpahaman pun terjadi yang membuat Cleo pergi meninggalkan Kenzo saat sedang mengandung anak dari Kenzo.
Dua tahun kemudian, Cleo kembali dan mereka pun bertemu, sayangnya Cleo sudah bertunangan dengan Nathan, anak dari orang tua angkat Kenzo yang pernah menyelamatkannya saat Kenzo dibuang di hutan oleh ayah kandungnya, Abimana.
Dapatkan Kenzo merebut kembali Cleo dari tangan Nathan? Ataukah dia harus terjebak dalam hutang budi? Lalu apakah Kenzo bisa menerima Abimana sebagai ayah kandungnya?