
Alexander Smith yang mengemudikan mobil itu ikut tegang dan juga khawatir atas apa yang didengarnya dibelakang sana.
Suara Anna yang merintih kesakitan membuatnya membayangkan bagaimana kalau Aisyah akan melahirkan yang kedua kalinya.
Ia yakin ia tak akan sanggup menghadapinya. Dan ia akan lebih rela berhadapan dengan ratusan bandit daripada melihat penderitaan istrinya yang kesakitan ketika akan melahirkan.
"Sekali lagi sayang dorong yang kuat, Anna aku tahu kamu bisa," ujar Omar memberikan semangat. Ia sendiri berada di dua persimpangan.
Ia tak sanggup melihat penderitaan istrinya dan ia ingin melakukan tindakan Caesar saja. Tetapi kondisi bayinya juga sudah mendesak ingin keluar lewat va*gina.
Ia pasrahkan kepada Tuhan sang penguasa jagat. Hanya Dia yang mampu menolong hambaNya dalam keadaan seperti ini.
"Uuhhh aaahhh," Anna mendesis kesakitan. Omar kemudian memberinya semangat lagi dengan memberikan ciuman pada istrinya itu.
"Sebut nama Tuhan sayang, dan lanjut dorong yang lama, sekali saja, siap ya.." Anna mengangguk dengan mencengkram kuat pangkal pahanya yang terbuka dengan kedua tangannya.
"Ya, bagus sayang, jangan sekali-kali angkat pinggulmu Anna, ya mulai, Bismillahirrahmanirrahim...."
"Bismillah, Aaaaargh...." Alex mencengkram kemudi dengan kuat mendengar suara Anna dibelakang sana. Sedangkan Omar menarik kepala bayinya yang sudah bisa ia pegang dengan kedua jarinya.
"Oeeek Oeeek" lengkingan tangis bayi menggema di dalam mobil itu bersamaan dengan sampainya mereka di depan pintu Emergency Room.
"Allah Akbar! terima kasih Anna kami berhasil sayang, aku mencintaimu," Omar berteriak dengan keras sembari menggendong bayinya yang berlumuran darah itu.
Anna menarik nafas lega kemudian jatuh tertidur dengan rasa lelah yang sangat.
Hilang sudah rasa sakit yang begitu menyiksa tadi, rasanya sangat plong dan nyaman, serta nikmat. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata rasanya.
"Alex segera panggilkan perawat kemari dengan membawa brangkar!" titah Omar pada sang adik ipar.
"Baik kak," jawab Alex dan segera turun dari mobil. Langkahnya begitu ringan karena ia sudah tahu kalau Anna sudah berhasil melahirkan satu bayi berarti sisa satu bayi lagi.
"Anna kamu hebat, dulu kamu juga membantu Aisyah melahirkan, terimakasih banyak semoga kebaikanmu memudahkanmu melalui satu lagi perjuangan besar ini." ujar Alex sembari meminta perawat untuk membawa brangkar dan juga selimut untuk bayi yang baru lahir itu.
Anna didorong ke dalam ruang operasi karena masih akan berjuang melahirkan satu lagi bayi mereka.
Meskipun perempuan cantik itu merasa sanggup melahirkan normal tapi Omar sudah tidak kuat melihat penderitaan istrinya. Ia akan melakukan operasi Caesar sekarang juga.
"Minum ini sayang, Antiemetik untuk mencegah mual dan juga Antasida untuk menurunkan kadar asam lambung pasien." Omar menyerahkan sebuah obat untuk istrinya. Lalu melanjutkan,
"Terimakasih sayang, bayi kita sehat dan sangat cantik seperti dirimu, aku yakin yang sedang menuggu didalam sana akan tampan seperti diriku," ujar Omar sembari membersikan tubuh sang istri dengan sabun antiseptik.
Ia melakukannya agar tubuh Anna terhindar dari infeksi dan juga bakteri tadi sehabis melahirkan dan juga tidak ikut dalam proses melahirkan bayi yang kedua ini.
Anna benar-benar dimanjakan oleh Sanga suami. Setelah itu Omar mengganti pakaiannya sendiri dengan pakaian yang bersih. kemudian menyuntikkan anestesi spinal pada sang istri. Yaitu obat bius agar tetap sadar selama menjalani proses operasi.
"Aku bilang aku bisa melahirkan dengan normal Omar," ujar Anna sembari menciumi putrinya yang sudah lahir dengan selamat.
"Aku yang tidak bisa Anna, kamu sangat menderita sayang," jawab Omar kemudian membuka lagi paha istrinya dan memasang keteter disana.
"Aku akan sangat berdosa sayang, aku melihatmu menderita seperti itu padahal aku yang paling mendapatkan kenyamanan dan kepuasan disini."
"Astagfirullah, aku juga Omar. Bayi ini hasil cinta kita," Anna tersenyum dengan kata-kata suaminya. Ia sekarang merasa sangat dicintai.
"Kamu sehat sekali nyonya, padahal kamu sudah melakukan perjuangan yang cukup berbahaya." ujar perawat itu tersenyum.
"Terimakasih suster, Alhamdulillah,"
"Pasti banyak yang mendoakanmu ya, nyonya pasti orang baik."
"Ah, tidak juga. Tapi kurasa semua keluargaku pasti mendoakanku termasuk ayah mertuaku, iyyakan Omar"
"Iyya sayang, ayah selalu mendoakanmu dan juga sudah berada di Moskow karena ingin bertemu dengan kamu dan cucunya." jawab Omar dengan santai.
Pria itu tahu pengaruh anestesi itu sudah bekerja dengan baik hingga istrinya tidak mengernyit sakit saat ia sudah mulai menyayat pada perut dan rahim Anna sekitar 10 sampai 20 centimeter panjangnya.
Biasanya sayatan dibuat horizontal sedikit di bawah garis pinggang. Namun jika dirasakan lebih sesuai, dokter juga dapat membuat sayatan vertikal di bawah pusar.
Omar mulai mengeluarkan bayinya melalui sayatan yang dibuat.
Proses ini biasanya memakan waktu 5 hingga 10 menit. Pada proses ini, Anna Peminov sang istri akan merasakan sedikit tarikan.
"Oeeek oeekkk," Alhamdulillah bayi yang kedua lahir dengan normal dan selamat. Suaranya yang melengking membuktikannya.
Omar memeriksa kelengkapan anggota tubuh bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu kemudian memperlihatkannya pada Anna sang istri.
"Lihat, anak kita mirip denganku kan, tampan dan sehat," ujar Omar dengan senyum puas dibibirnya.
Anna hanya tersenyum dan meraih bayi itu setelah Omar mengeluarkan plasenta dari rahim, dan memberikan injeksi hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim sehingga perdarahan akan berkurang dan akhirnya berhenti sepenuhnya.
Omar kemudian menutup sayatan pada rahim dan perut dengan jahitan.
Seluruh prosedur operasi caesar ini umumnya akan membutuhkan waktu 40 hingga 50 menit.
Setelah Operasi Caesar Annapun akan dipindahkan dari ruang operasi ke ruang perawatan. Omar sudah melakukan semua prosedur operasi caesar dan untungnya kondisi Anna normal.
Tetapi kemudian ia baru ingat kalau kaki istrinya itu telah tertembak jadi ia membatalkan membawa Anna ke ruang perawatan.
Ia akan melanjutkan membedah kaki sang istri dan mengeluarkan proyektil peluru yang masih bersarang di dalam kaki itu.
"Kita lanjutkan operasi yang kedua sayang, aku yakin kamu adalah perempuan tangguh," ujar Omar dan memberikan ciuman panas pada istrinya.
Ada banyak rasa yang ingin ia sampaikan melalui ciuman itu. Rasa syukur dan bahagia serta cinta yang meluap-luap pada istrinya yang telah berjuang melahirkan dua bayi yang sehat.
Tetapi sebelumnya Ia telah meminta para perawat untuk keluar dari ruangan itu dan memberikan perawatan sepenuhnya pada bayi-bayi baru lahir itu.
Sementara ia ingin memberikan banyak ucapan terimakasih pada sang istri lewat sentuhan lembut dan penuh cinta.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Ada hadiahkah untuk baby twins itu????
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍