
"Antarkan ke kamar perempuan itu!" titah Antonio kepada seorang pelayan wanita tua yang berwajah lembut itu
"Baik tuan," ujar Rossy, seorang kepala pelayan di Mansion itu.
Wanita tua berwajah lembut itu melangkahkan kakinya diikuti oleh 2 orang pelayan perempuan muda yang membawa nampan berisikan aneka makanan dan minuman.
Mereka memasuki sebuah kamar yang berada paling ujung di ruangan besar itu setelah mengetuk pada daun pintunya.
"Nyonya muda, silahkan..." ujar Rossy pada seorang perempuan cantik berhijab dengan mata merah dan bengkak karena menangis selama berhari-hari.
"Aku tidak mau makan bibi, biarkan aku pulang ke rumahku." ujar perempuan itu yang ternyata adalah Aisyah.
"Makanlah terlebih dahulu nyonya, ini makanan yang khusus dibawakan oleh tuan besar untuk anda." ujar Rossy dengan senyum lembut diwajahnya.
"Aku tidak mau Rossy, bawa makanan ini kembali padanya dan bantu aku untuk pulang, okey?"
"Tidak nyonya, tuan pasti akan marah padaku jika makanan ini aku kembalikan. Sebaiknya anda makan dan minum agar putra anda juga bisa tenang, ia masih butuh Asi dari anda kan?" bujuk Rossy seperti biasa.
Dan itu akan selalu berhasil jika ia membawa nama anak laki-laki yang merupakan putra dari perempuan cantik ini.
Aisyah menatap wajah Danil yang sudah terlelap di sampingnya. Kepala pelayan ini benar, ia harus makan agar kuat dan sehat untuk menghadapi ini semua.
Setelah makan dan minum susu yang telah terjamin kebersihan dan juga kehalalannya, ia pun naik meminta semua pelayan yang melayaninya selama berada di tempat asing itu keluar.
Aisyah naik ke tempat tidur dan berbaring di samping tubuh putranya yang semakin hari tampak kurus dan juga pucat.
Ia menatap langit-langit kamar itu kemudian memutar kembali apa yang sudah terjadi pada dirinya dan kenapa ia bisa berada di tempat yang sangat asing baginya ini.
Flash back on
Bandara internasional Sheremetyevo Alexander S Pushin pukul 11 malam.
Setelah menemukan barang-barangnya di terminal kargo pesawat, Aisyah pun berjalan keluar dari terminal kedatangan dan menemui seorang pria yang sedang menjemputnya di depan.
"Kamu sopir baru ya?" tanya Aisyah sembari memandang pria asing yang meraih kopernya dari atas troley.
"Ia Nyonya, mari ikut saya," jawab pria itu dengan sopan.
Karena lelah dan juga kesal pada seluruh anggota keluarga Smith terutama suaminya yang tidak membantunya untuk mengurus Danil dan barang bawaannya, ia tak mau lagi mencari tahu dimana anggota keluarga lainnya.
Yang ia tahu sopir pribadi dari rumah suaminya itu sudah menjemput dan ia harus ikut.
Ia pun mengikuti pria muda yang mengaku sebagai sopir baru itu masuk ke sebuah mobil hitam mewah persis seperti salah satu mobil koleksi Alex, suaminya.
"Mari saya bantu nyonya," ujar pria muda itu lagi saat Aisyah ingin melipat stroller Danil.
"Ah iya terima kasih banyak, maaf siapa namamu?"
"Juan Sanchez nyonya, tapi aku saya lebih suka dipanggil Sanchez," jawab pria muda itu sembari terus sibuk mengurusi barang-barang Aisyah.
"Apa yang lain juga naik mobil ini?"
"Tidak nyonya, hanya tuan besar yang akan ikut kita dengan mobil ini."
Deg
Aisyah merasakan dadanya berdebar lebih kencang dari biasanya.
Alex akan bersamaku pulang ke rumah? Apa pria itu sudah mengakui kesalahannya? ujar Aisyah membatin.
"Mari nyonya silahkan," ujar Sanchez mempersilahkannya masuk ke mobil bersama Danil.
"Terimakasih Sanchez," perempuan cantik itupun masuk ke mobil dengan dada masih berdebar.
Ya Allah, padahal aku sudah berniat untuk kabur dari sini dan pulang ke Dagestan, ternyata Alex sekarang kembali baik padaku. lanjut batin Aisyah.
Perempuan itu tersentak tatkala pintu depan mobil dibanting dengan keras oleh seseorang.
"Jalan Sanchez!" titahnya pada sang sopir dan akhirnya mobil itu pun berjalan pelan keluar dari area Bandara.
Kenapa Alex tidak duduk dibelakang bersamaku dan Danil? apa ia masih belum mau berdekatan denganku?
Aisyah terus bermonolog dalam hati sampai ia tertidur dan baru terbangun saat ia melihat sebuah pesawat jet pribadi berada di depan matanya dimalam yang cukup larut saat itu.
Apa Alex akan memulangkan aku dan Danil ke Dagestan? menceraikan aku dan mengembalikan aku ke rumah Ayah?
Sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, ia sudah dibawa oleh beberapa orang ke atas pesawat itu bersama dengan putranya.
"Dimana Alex? kenapa kalian membawaku kemari?" tanyanya dengan wajah takut dan bingung. Semua orang yang ada dihadapannya tidak ada yang ia kenali.
"Nikmati perjalanan Anda nyonya," ujar seorang gadis cantik yang Aisyah yakini sebagai pramugari di pesawat ini.
"Aku mau dibawa kemana?" tanya Aisyah lagi dengan perasaan semakin takut dan curiga.
"Dimana Alex? Bawa aku kembali ke rumahku!" teriak Aisyah histeris. Danil yang sudah tertidur dipangkuannya langsung terbangun dan ikut menangis histeris.
"Cup Cup diam ya sayang," ujar Aisyah sembari menepuk-nepuk pantat putranya agar bisa diam dan tidak ikutan panik seperti dirinya.
Ia lalu menyusui Danil agar bisa kembali tertidur di tengah kepanikannya itu. Dalam hati ia terus berdoa agar orang yang membawanya adalah benar-benar Alex, suaminya.
Pramugari cantik itu datang lagi dan membawakannya makanan dan minuman agar ia bisa menikmati perjalanan yang sangat aneh baginya itu.
"Siapa kamu? kenapa aku bisa berada di pesawat ini, hah?" pramugari itu hanya tersenyum kemudian menjawab.
"Anda kenapa bertanya seperti itu nyonya, anda kan bersama dengan tuan Cassano suami anda. Jadi kenapa anda begitu khawatir."
"Cassano? Cassano siapa? aku sama sekali tidak mengenalnya." pramugari itu kembali tersenyum dengan sangat manis.
"Silahkan nikmati perjalanan ini nyonya, anda adalah perempuan yang sangat beruntung." ujar perempuan itu lagi kemudian meninggalkan Aisyah yang masih terbengong-bengong dengan yang terjadi dihadapannya.
Apa aku sedang memasuki dunia lain? atau karena aku terlalu kesal pada Alex aku jadi berhalusinasi pergi darinya?
Aisyah akhirnya memakan makanan yang dibawakan oleh pramugari itu dengan lahap. Ia memang sangat lapar saat ini. Sampai ia tak menyadari kalau ia sedang dalam pantauan seseorang dari kabin depan.
"Cantik sekali," ujar pria yang menjadi otak semua peristiwa ini.
"Tuan Cassano, kita berangkat sekarang?" tanya seorang kru pesawat itu dengan sopan.
"Iya, kita berangkat!" titah Antonio Cassano dengan wajah kembali serius.
"Baik tuan," jawab pria itu dan kembali ke depan untuk memberi tahu pilot Agra segera lepas landas.
"Ya Allah ini bukan mimpi, pesawat ini benar-benar kurasakan terbang," ujar Aisyah sembari memandang keluar jendela dan melihat hanya cahaya lampu yang semakin kecil bagai kunang-kunang di bawah sana saat pesawat semakin tinggi di Udara.
Flashback off
Tanpa sadar Aisyah menitikkan air matanya dan menyesali segala kata-katanya yang ingin meninggalkan suaminya.
"Ya Allah ampunilah aku, yang sudah berpikir untuk meninggalkan Alex, aku ingin kembali ke suamiku." ujarnya pelan dengan rasa rindu yang sangat pada suaminya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
Eh, mampir dulu dong di karya teman aku nih, dijamin oke punya lho,